Pembahasan tafwidh telah lama menjadi perhatian para ulama Ahlussunnah, baik dari kalangan salaf (generasi terdahulu) maupun khalaf (generasi belakangan). Bahkan, sebagian ulama telah menjelaskannya sebelum munculnya pemikiran tafwidh, sebagai langkah preventif agar umat tidak keliru dalam memahami nash-nash syariat. Sementara itu, sebagian ulama lainnya membahasnya sebagai bentuk bantahan, setelah pemikiran tersebut benar-benar muncul dan berkembang.
Istilah tafwidh sendiri belakangan mengalami pergeseran fungsi yang sebelumnya hanya digunakan untuk men-tafwidh kaifiyat (bagaimana) Allah bersifat, sekarang digunakan juga untuk men-tafwidh makna dari nama dan sifat Allah. Konsekuensinya, perlu adanya tinjauan terhadap pengklasifikasian terhadap suatu istilah yang sama, namun dengan penggunaan yang berbeda. Karena kedua jenis dari tafwidh sendiri itu jelas berbeda. Oleh karena itu, perlu ada telaah lebih lanjut terkait pola dari tafwidh dan bagaimana bisa muncul pergeseran makna tersebut. [1]
Pola-pola tafwidh makna yang digunakan mufawwidin
Sebagaimana yang telah banyak dikutip sebelumnya, bahwa pergeseran tafwidh dari yang hanya berfungsi pada kaifiyat menjadi makna dan kaifiyat bukanlah tanpa alasan dan sebab. Di antara sebab utamanya adalah masuknya ilmu kalam dan filsafat dalam beragama, lalu muncullah pertanyaan bagaimana sifat Allah bisa dipikirkan oleh makhluk. Syekh Utsaimin berkata,
أن طريقة التفويض طريق خاطئ، لأنه يتضمن ثلاث مفاسد: تكذيب القرآن، وتجهيل الرسول، واستطالة الفلاسفة
“Bahwasannya jalan pemikiran tafwidh merupakan jalan pemikiran yang salah, karena hal itu mengandung tiga unsur yang merusak: mendustakan Al-Qur`an, membodohi Rasul, dan mendalami filsafat!” [2]
Setelah masuknya ilmu kalam dan filsafat serta pertanyaan bagaimana cara memaknai sifat Allah, muncullah berbagai alasan dari melakukan tafwidh makna dengan beberapa pola yang berbeda seperti ketakutan mereka terjatuh pada musyabbihah (menyerupakan sifat Allah) dan ketakutan mereka masuk kepada mu’athilah (meniadakan sifat Allah). Sebagaimana yang dijelaskan oleh Syekh ‘Abd al-‘Azīz bin Marzūq aṭ-Ṭarīfī dalam kitabnya al-Maghribiyyah fī Syarḥ al-‘Aqīdah al-Qayrawāniyyah,
إنما اشتَهَرَ التفويضُ في قولِ الكُلَّابيَّةِ؛ يريدون التوسُّطَ بين المعطِّلةِ والمشبِّهة؛ فيَسلَمُون مِن الطائفتَيْنِ: بتفويضِ حقائقِ الصفاتِ ومَعانِيها، مع أنَّ المفوِّضةَ في الحقيقة معطِّلةٌ؛ فما سَلِموا بالتفويضِ من التعطيل، وظهَرَ التفويضُ في قولِ أبي منصورٍ الماتُرِيدِيِّ في خُراسَانَ، وأبي الحسَنِ الأَشْعَريِّ في العِرَاقِ في “رسالتِهِ إلى أهلِ الثَّغْر”، وقد كتَبَها قبلَ كتابِهِ: الإبانة
“Konsep tafwidh dikenal luas dalam pernyataan kalangan Kullabiyyah. Mereka bermaksud mengambil posisi tengah antara kaum mu‘atthilah dan musyabbihah, dengan harapan selamat dari kedua kelompok tersebut, yakni dengan menyerahkan hakikat dan (sekaligus) makna sifat-sifat Allah. Namun pada hakikatnya, kelompok yang menempuh jalan tafwidh ini tetap termasuk mu‘aṭṭhilah. Dengan tafwidh tersebut, mereka tidak benar-benar terlepas dari praktik ta’thil. Pandangan tafwidh ini juga tampak dalam pernyataan Abū Manṣūr al-Maturidi di Khurasan dan Abū al-Ḥasan al-Asy’arī di Irak, sebagaimana tercantum dalam risalah beliau kepada Ahli ats-Tsaghr, yang ditulis sebelum karya beliau al-Ibanah.” [3]
Para ulama juga menyebutkan bahwa konsep tafwidh adalah konsep yang mudah untuk dipahami, karena hanya perlu menyerahkan kembali kepada Allah apa yang dimaksud oleh dalil. Padahal, hal ini tentu merupakan konsep yang lebih tepat diistilahkan sebagai ‘bermudah-mudahan’ dalam memahami nama dan sifat Allah. Sebagaimana yang disebutkan oleh Syekh ‘Abd ar-Raḥīm bin Ṣumayl al-‘Alyānī as-Sulamī pada Syarḥ al-Ḥamawiyyah,
خطورة التفويض تعود إلى عدة أسباب:منْها هو أن مذهب التفويض مذهب سهل؛ لأن فيه تخلياً عن البحث وعن الدراسة، والنفس تحب أن يتخلى الإنسان ويقول: هذه أمور غيبية لا نعلمها فنتركها كما هي
“Bahayanya konsep tafwidh disebabkan beberapa sebab. Di antaranya, bahwa bahwa mazhab tafwidh merupakan mazhab yang mudah, karena di dalamnya terdapat sikap meninggalkan penelitian dan kajian. Jiwa menyukai ketika seseorang melepaskan diri dan berkata, ‘Ini adalah perkara-perkara gaib yang tidak kita ketahui, maka kita biarkan sebagaimana adanya.’” [4]
Hal ini juga tidak terlepas dari kesalahpahaman mereka dalam memahami perkataan para salaf dalam menjelaskan tafwidh kaifiyat. Mereka memahami penjelasan para ulama salaf bahwa isyarat untuk tafwidh adalah tafwidh secara utuh dalam kaifiyat dan maknanya sekaligus. Tentu ini adalah kesalahan berfikir. Padahal, para ulama salaf memerintahkan untuk ber-tafwidh pada kaifiyat (saja) agar tidak terjerumus ke dalam tafwidh makna. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Syekh ‘Abdul-‘Azīz bin Marzūq ath-Tharifi dalam kitab al-Maghribiyyah fī Syarḥ al-‘Aqīdah al-Qayrawāniyyah,
وينسُبُ جماعةٌ التفويضَ إلى السلفِ؛ وذلك لأنَّ في بعضِ كلامِ بعضِهم ما يُتوهَّمُ منه التفويضُ؛ كقولِ بعضِهم في آياتِ الصفاتِ وأحاديثِها؛ كالزُّهْريِّ، ومكحولٍ: أَمِرُّوا الأَحَادِيثَ كَمَا جَاءَتْ
“Sebagian kalangan menisbatkan tafwīḍh kepada para salaf. Hal itu karena pada sebagian ucapan mereka terdapat sesuatu yang disangka menunjukkan tafwīḍh, seperti ucapan sebagian dari mereka mengenai ayat-ayat sifat dan hadis-hadisnya, seperti Imam az-Zuhri dan Makḥūl, ‘Biarkan hadis-hadis itu berlalu sebagaimana datangnya.’” [5]
Kesalahpahaman ini jelaslah kesalahan berpikir atau kebodohan yang mereka punya. Oleh karena itu, banyak dari ulama seperti Syekh Utsaimin, Ibnu Taimiyah, dan Ibn al-Qayyim, menyebut mereka sebagai orang-orang yang bodoh. Selain karena mereka menyalahpahami apa yang dimaksud oleh para ulama, mereka juga merepresentasikan kebodohan itu sendiri. Bagaimana bisa kita mengetahui sebuah kata, tapi tidak mengetahui konteks yang dibicarakan? Syekh ‘Abdur-Raḥmān bin Nāṣir al-Barrāk berkata,
منهم مَنْ يُفوِّضُ، فيقول: اللهُ أعلمُ بمراده، وهم أهلُ التفويض، وسمَّاهم شيخُ الإسلام أهل التجهيل؛ لأنَّ مذهبَهم يتضمَّنُ تجهيلَ الرسولِ والصحابة بمعاني نصوصِ الصفات، وهذه التسميةُ أدلُّ على حقيقة مذهبهم من تسميتهم أهل التفويض
“Di antara mereka ada yang melakukan tafwīḍh, lalu berkata, ‘Allah lebih mengetahui maksud-Nya.’ Mereka itulah golongan tafwīḍh. Syekhul Islam menamai mereka sebagai Ahl al-Tajhīl, karena mazhab mereka mengandung penganggap-bodohan terhadap Rasul dan para sahabat dalam memahami makna nash-nash tentang sifat-sifat. Penamaan ini lebih menunjukkan hakikat mazhab mereka dibandingkan penamaan mereka sebagai Ahl al-Tafwidh.” (at-Tauḍīḥ li al-Masā’il al-‘Aqdiyyah fī Muqaddimah ar-Risālah al-Qairawāniyyah, hal. 87)
Oleh karenanya, mufawwidhun kemudian menggunakan label “keselamatan” (السلامة) untuk mempromosikan tafwīḍ makna. Dua daya tarik utama klaim ini adalah: (1) pengaitan atau penyandaran kepada para salaf (seolah-olah tafwidh makna adalah manhaj ulama salaf); dan (2) janji rasa aman dari bahaya tasybīh atau kebinasaan pemahaman beragama. Karena kata “keselamatan” berseberangan makna dengan “kehancuran” atau “risiko”, ia mudah menarik hati; lahirlah pula ungkapan populer, “mazhab salaf lebih selamat, sedangkan mazhab khalaf lebih berilmu”. Namun hal ini dibantah oleh para ulama setelahnya seperti Badr al-Din bin Jamā‘ah, al-Taftazani, dan Ahmad ad-Dardir yang sering menyinggung hal ini dalam konteks berbeda, sehingga narasi “selamat vs. berilmu”, mana yang lebih didahulukan? Tentu kita lebih memilih yang lebih selamat. [7]
Baca juga: Larangan Terhadap Nama dan Sifat Allah
Pendapat dan atsar ulama dalam penetapan makna dan penolakan takyif dalam memahami nama dan sifat Allah
Di antara cara ahlussunnah dalam memahami agama adalah menyandarkan bagaimana para salaf (pendahulu) memahami agama, karena mereka hidup lebih dekat dengan zaman yang Islam diturunkan. Syaikhah Āmāl bint ‘Abd al-‘Azīz al-‘Amrū menjelaskan dalam kitab al-Alfāẓ wa al-Muṣṭalaḥāt al-Muta‘alliqqah bi-Tawḥīd ar-Rubūbiyyah,
يعتمد أهل السنة على الآثار المنقولة عن السلف؛ من الصحابة والتابعين، في بيان كلام الله ورسوله – صلى الله عليه وسلم -، فهم الأعلم بها من غيرهم، وهكذا فألفاظهم في العقيدة مأخوذة من كلام الله ورسوله، أو مبينة لها بعبارات صحيحة، بناءً على لغتهم العربية الفصيحة
“Dalam memahami perkataan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, Ahlussunnah juga melandaskan kepada atsar-astar (perkataan) para salaf (pendahulu umat Islam) seperti sahabat, tabi’in, dan tabiut tabi’in, karena merekalah yang paling mengetahui tentang agama ini dibanding selain mereka. Begitu juga perkataan mereka dalam memahami akidah pastilah didasari perkataan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam serta terstruktur dengan ibarat yang benar yang dibangun atas bahasa yang fasih.” [8]
Berikut ini merupakan atsar-atsar dari para salaf:
Imam Hasan al-Bashri
Imam ad-Darimi rahimahullah meriwayatkan dalam kitabnya ar-Radd ‘alā al-Jahmiyyah yang berfokus membantah orang-orang Jahmiyah,
أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ رَوَاحَةَ، قَالَ لِلْحَسَنِ: هَلْ تَصِفُ رَبَّكَ؟ قَالَ: نَعَمْ، بِغَيْرِ مِثَالٍ
“Bahwa Abdullah bin Rawahah berkata kepada Hasan, “Apakah kamu mensifati Tuhanmu?” Hasan menjawab, “Iya, namun tanpa memisalkan sifat-Nya.” [9]
Imam Hamad bin Abu Hanifah
Imam Hamad bin Abu Hanifah rahimahumallah merupakan seorang anak dari imam mazhab fikih besar, yaitu Imam Abu Hanifah rahimahullah. Hamad pernah diangkat menjadi seorang Qadhi setelah al-Qasim bin Mu`in rahimahullah, murid Abu Hanifah. [10] Diriwayatkan bahwa Hamad rahimahullah pernah ditanya tentang bagaimana kedatangan Allah dan malaikat pada surah al-Fajr ayat 22,
(وَجَاءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا)
“Tuhammu dan malaikat datang bersaf-saf”;
إنا لم نكلفكم أن تعلموا كيف مجيئه، ولكنا نكلفكم أن تؤمنوا بمجيئه
“Sesungguhnya kami tidak meminta kalian tahu bagaimana kedatangannya, kami hanya meminta kalian beriman dengan kedatangannya.” [11]
Imam Malik
Imam Malik merupakan salah satu imam besar dalam mazhab fikih. Imam Malik pernah ditanya oleh seseorang tentang bagaimana Allah ber-istiwa (bersemayam di atas ‘Arsy). Beliau rahimahullah berkata,
الْكَيْفُ غَيْرُ مَعْقُولٍ، وَالِاسْتِوَاءُ مِنْهُ غَيْرُ مَجْهُولٍ، وَالْإِيمَانُ بِهِ وَاجِبٌ، وَالسُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَةٌ، وَإِنِّي لَأَخَافُ أَنْ تَكُونَ ضَالًّا
ثُمَّ أَمَرَ بِهِ فَأُخْرِجَ
“Bagaimana (kaifiyah)-nya tidak dapat dipahami, sementara (makna) istiwa’ itu sendiri telah diketahui. Beriman kepadanya adalah wajib, dan bertanya tentangnya adalah bid‘ah. Dan sungguh aku khawatir engkau termasuk orang yang sesat.” Kemudian beliau memerintahkan agar orang itu dikeluarkan.” [12]
al-Hafizh Hamad bin Zaid
al-Hafizh Hamad bin Zaid rahimahullah adalah imam besar bidang hadis di zamannya. Beliau juga imam besar Ahlus Sunnah, hafizh (penghapal yang kuat), tsiqah (dapat dipercaya), tsabat (kokoh), faqih, dan termasuk empat imam hadis pada zamannya, dikenal sebagai orang yang paling kuat riwayatnya dari Ayyub as-Sakhtiyani serta paling mendalam ilmunya tentang sunah di Bashrah. [13]
Diriwayatkan bahwa beliau pernah ditanya oleh Bisyr bin Sirri tentang tanggapannya dengan hadis,
يَنْزِلُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا
“Allah Azza wa Jalla turun ke langit dunia.” Maka beliau menjawab,
حق كل ذلك كيف شاء الله
“Itu adalah hak (kebenaran), bagaimanapun caranya yang Allah kehendaki.” [14]
Imam Rabi’ah ar-Ra’y
Imam Rabi’ah bin Abi ‘Abd ar-Raḥman adalah faqih besar Madinah dari kalangan tabi‘in, tsiqah, dan salah satu mufti utama kota Madinah, serta guru Imam Mālik. Ia dikenal kuat dalam fikih dan sangat berhati-hati dalam fatwa. Adapun ia mendapatkan laqab (julukan) dengan ar-Ra’y hanya karena banyak menggunakan ra’yu (ijtihad), bukan karena lemahnya sunah atau amanahnya. [15]
Diriwayatkan bahwa beliau pernah ditanya tentang maksud dari ayat 5 dari surah Taha,
(الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى)
“(Allah) Yang Maha Pengasih bersemayam di atas ‘Arsy”; maka beliau menjawab,
استواؤه حق معلوم، وكيفيته مجهولة
“(Makna) istiwa-Nya sangat jelas diketahui, namun bagaimana caranya tidak diketahui.” [16]
Imam Fudhail bin ‘Iyadh
Imam Fudhail bin Iyadh rahimahullah adalah seorang ulama tabi‘ut tabi‘in yang dikenal dengan keteguhan akidah, kedalaman ibadah, dan ketajaman nasihatnya. Ia meriwayatkan hadis dari banyak imam besar dan menjadi rujukan dalam kezuhudan serta pembinaan akhlak, hingga diakui keutamaannya oleh para ulama hadis dan fikih. [17]
Beliau rahimahullah berkata,
ليس لنا أن نتوهم في الله كيف هو، لأن الله تعالى وصف نفسه فأبلغ، فقال: {قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ • اللَّهُ الصَّمَدُ • لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ • وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ} فلا صفة أبلغ مما وصف به نفسه
“Kita tidak mungkin bisa membesitkan dalam benak kita ‘bagaimana’ Allah (bersifat), karena Allah mensifati diri-Nya kemudian menyampaikannya (dengan jelas). Maka, Ia berfirman, ‘Katakanlah (Muhammad), ‘Dialah Allah, Yang Maha Esa’. Allah-lah tempat meminta segala sesuatu. Tidak beranak dan tidak diperanakkan. Tidak ada yang menyerupainya suatu apapun.’ (QS. al-Ikhlash: 1-4) Tidak ada sifat yang lebih baik dan jelas maknanya melebihi apa yang dengannya Allah mensifati Diri-Nya.” [18]
Imam Waki’
Waki’ bin al-Jarrah ar-Ru’asi (w. 197 H) adalah seorang imam besar, hafizh hadis, dan ulama Irak dari Kufah, dikenal luas karena kekuatan hafalan, kezuhudan, dan kedalaman ilmunya. Ia meriwayatkan hadis dari banyak imam besar seperti Sufyan ats-Tsauri dan menjadi guru bagi para tokoh besar semisal Imam Ahmad, Ibn al-Mubarak, dan Imam asy-Syafi‘i. Para ulama menilainya sebagai salah satu imam huffāzh terbesar pada masanya. [19]
Diriwayatkan bahwa beliau rahimahullah berkata,
نُسَلِّمُ هَذِهِ الْأَحَادِيثَ كَمَا جَاءَتْ، وَلَا نَقُولُ كَيْفَ هَذَا وَلِمَ جَاءَ هَذَا
“Kita hanya harus menerima hadis-hadis ini sebagaimana datangnya. Kita tidak perlu berkata bagaimana ini dan untuk apa ini bisa terjadi.” [20]
Dari perkataan-perkataan ulama yang merupakan para imam dan hafizh di masanya, dapat disimpulkan bahwa tidak ada satu pun dari perkataan mereka yang mengisyaratkan adanya ajaran tafwidh makna. Oleh karena itu, ajaran tafwidh makna merupakan hal yang tidak ditemukan di ajaran salaf. Padahal seharusnya mereka yang lebih mengetahui tentang bagaimana agama ini dipahami. Mereka hanya mengisyaratkan untuk tidak memisalkan atau tidak bertanya bagaimana dan untuk apa sifat Allah itu berlaku.
Kesimpulan
Dengan penjelasan-penjelasan di atas penulis memberikan kesimpulan sebagai penutup penulisan berseri dari “Tafwidh dalam Nama dan Sifat Allah” sebagai berikut:
Pertama, tulisan ini menegaskan adanya perbedaan yang sangat nyata dalam konsep tafwidh. Tafwidh pada kaifiyat merupakan manhaj yang ditempuh oleh para salaf dan termasuk jalan yang lurus. Adapun tafwidh pada makna bukanlah metode salaf, karena mengosongkan nash dari fungsi bayan (penjelasan) yang Allah kehendaki. Al-Quran diturunkan untuk dipahami maknanya, bukan sekadar dilafazkan tanpa pemahaman. Allah Ta’ala berfirman,
وَأَنْزَلْنَا الْقُرْآنَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ
“Kami turunkan Al-Quran sebagai penjelas bagi segala sesuatu.”
Ayat ini menunjukkan bahwa ayat-ayat sifat pun termasuk dalam cakupan bayan/tibyan (penjelas) yang dapat dipahami maknanya sesuai dengan kaidah bahasa Arab dan pemahaman salaf, bukan perkara yang dikosongkan dari makna sama sekali.
Kedua, tafwidh makna melahirkan problem metodologis yang serius dalam akidah. Dengan mengosongkan makna nash, maka teks wahyu kehilangan fungsi petunjuknya. Akibatnya, terbukalah pintu bagi berbagai bentuk penyimpangan, seperti ta’thil terselubung, ketidakkonsistenan dalam berinteraksi dengan nash, dan kerancuan antara iman dengan kebingungan. Para salaf justru menempuh jalan yang sangat jelas, yaitu menetapkan makna yang ditunjukkan oleh nash dan menyerahkan kaifiyat-nya kepada Allah. Dari sini lahir kaidah yang kokoh dalam akidah Ahlus Sunnah: “menetapkan sifat Allah tanpa penyerupaan (tasybih) dan mensucikan Allah tanpa peniadaan (ta’thil) sifat; serta tafwidh pada kaifiyat, bukan pada makna”.
Ketiga, implikasi praktis dari pembahasan ini adalah kewajiban menjaga manhaj salaf dalam memahami nama dan sifat Allah. Seorang penuntut ilmu tidak boleh mencukupkan diri dengan sikap menyerahkan makna, karena hal itu bukan bentuk kehati-hatian, melainkan bentuk pelepasan dari kewajiban tadabbur. Jalan yang selamat adalah memahami makna sebagaimana dipahami oleh generasi salaf dan menahan diri dari membagaimanakan sifat-sifat Allah. Dengan manhaj ini, kemurnian tauhid dapat terjaga dan umat terlindungi dari syubhat tafwidh makna.
Wallahu A’lam bis-shawab.
[Selesai]
KEMBALI KE BAGIAN 1
***
Penulis: Muhammad Insan Fathin
Artikel Muslim.or.id
Catatan kaki:
[1] Syekh ‘Abdur-Raḥmān bin Ṣāliḥ al-Maḥmūd, Mawqif Ibn Taymiyyah min al-Asyā‘irah, 3: 1179.
[2] Syekh Muḥammad bin Ṣāliḥ al-‘Utsaimīn, Syarḥ al-‘Aqīdah al-Wāsiṭiyyah, 1: 97.
[3] Syekh ‘Abd al-‘Azīz bin Marzūq aṭ-Ṭarīfī, al-Maghribiyyah fī Syarḥ al-‘Aqīdah al-Qayrawāniyyah, hal. 94.
[4] Syekh ‘Abd ar-Raḥīm bin Ṣumayl al-‘Alyānī as-Sulamī, Syarḥ al-Ḥamawiyyah, 4: 3.
[5] Syekh ‘Abd al-‘Azīz bin Marzūq aṭ-Ṭarīfī, al-Maghribiyyah fī Syarḥ al-‘Aqīdah al-Qayrawāniyyah, hal. 95.
[6] Syekh ‘Abd al-Raḥmān bin Nāṣir al-Barrāk, at-Tauḍīḥ li al-Masā’il al-‘Aqdiyyah fī Muqaddimah ar-Risālah al-Qairawāniyyah, hal. 87.
[7] Syekh ‘Alawi bin ‘Abd al-Qādir as-Saqqāf dkk., al-Mawsū‘ah al-‘Aqdiyah, 2: 470.
[8] Syaikhah Āmāl bint ‘Abd al-‘Azīz al-‘Amrū, al-Alfāẓ wa al-Muṣṭalaḥāt al-Muta’alliqah bi-Tawḥīd ar-Rubūbiyyah, hal. 71.
[9] Imam ad-Dārimī, ar-Radd ‘alā al-Jahmiyyah, hal. 29.
[10] Profil Hammād bin Abī Ḥanīfah an-Nu‘mān bin Thābit al-Kūfī, Tarajm.com, diakses dari
[11] Syekh ‘Abd al-‘Azīz bin ‘Abdullāh ar-Rājihī, Syarḥ ‘Aqīdah as-Salaf wa Aṣḥāb al-Ḥadīṡ, 6: 14.
[12] Imam ad-Dārimī, ar-Radd ‘alā al-Jahmiyyah, hal. 66.
[13] Imām al-Mizzī, Tahdzīb al-Kamāl, 7: 239.
[14] Imām Ibn Baṭṭah al-‘Ukbarī, al-Ibānah ‘an Syarī‘ah al-Firqah an-Nājiyah wa Mujānabat al-Firaq al-Madhmūmah, 7: 203.
[15] Imām al-Mizzī, Tahdzīb al-Kamāl, 9: 123.
[16] Imām Ibn ‘Abd al-Barr, al-Istidhkār, 2: 528.
[17] Imām adz-Dzahabī, Siyar A‘lām an-Nubalā’, 8: 422.
[18] Syekh al-Islām Ibn Taimiyah, Dar’u Ta‘āruḍ al-‘Aql wa an-Naql, 2: 23.
[19] Imām adz-Dzahabī, Siyar A‘lām an-Nubalā’, 8: 422 dan 9: 141.
[20] Imam ad-Dāruquṭnī, as-Shifāt, hal. 41.
Daftar Pustaka
Āl Burnū, Muḥammad Ṣidqī bin Aḥmad bin Muḥammad. Mawsū‘ah al-Qawā‘id al-Fiqhiyyah. Beirut: Mu’assasat ar-Risālah, 2003.
Aḥmad bin Ḥanbal. al-Fatḥ ar-Rabbānī li Tartīb Musnad al-Imām Aḥmad. Kairo: Dār Iḥyā’ at-Turāth al-‘Arabī.
al-‘Aydān, ‘Abd al-‘Azīz bin ‘Adnān dan Anas bin ‘Ādil al-Yatāmā. ad-Dalā’il wa al-Isyārāt ‘alā Akhṣar al-Mukhtaṣarāt. Cet. 1. Kuwait: Dār Rakā’iz; Riyadh: Dār Aṭlas al-Khaḍrā’, 1439 H / 2018 M. Diakses melalui Maktabah Syamilah.
al-‘Amrū, Āmāl binti ‘Abd al-‘Azīz. al-Alfāẓ wa al-Muṣṭalaḥāt al-Muta‘alliqah bi Tawḥīd ar-Rubūbiyyah. Diakses melalui Maktabah Syamilah.
al-Asyqar, ‘Umar bin Sulaimān bin ‘Abdullāh al-‘Utaibī. al-‘Aqīdah fī Allāh. Cet. 12. Yordania: Dār an-Nafā’is li an-Nasyr wa at-Tawzī‘, 1999 M. Diakses melalui Maktabah Syamilah.
al-Barrāk, ‘Abd ar-Raḥmān bin Nāṣir. Syarḥ al-‘Aqīdah at-Tadmuriyyah: Taḥqīq al-Iṡbāt li al-Asmā’ wa aṣ-Ṣifāt wa Bayān Ḥaqīqat al-Jam‘ bayna al-Qadar wa asy-Syar‘. Disiapkan oleh ‘Abd ar-Raḥmān bin Ṣāliḥ as-Sudais. Cet. 7. Riyadh: Mu’assasah Waqf asy-Syaikh ‘Abd ar-Raḥmān bin Nāṣir al-Barrāk, 1442 H / 2021 M. Diakses melalui Maktabah Syamilah.
al-Bukhārī, Muḥammad bin Ismā‘īl. Ṣaḥīḥ al-Bukhārī. Beirut: Dār Ibn Kathīr. ad-Dārimī, Abū Sa‘īd ‘Utsmān bin Sa‘īd. ar-Radd ‘alā al-Jahmiyyah. Kuwait: Dār Ibn al-Atsīr, 1416 H / 1995 M.
adz-Dzahabī, Syamsuddīn Muḥammad bin Aḥmad bin ‘Utsmān. Siyar A‘lām an-Nubalā’. Diakses melalui Islamweb dan Maktabah Syamilah.
Ibn Baṭṭah al-‘Ukbarī, ‘Ubaydullāh bin Muḥammad. al-Ibānah ‘an Syarī‘ah al-Firqah an-Nājiyah wa Mujānabat al-Firaq al-Madhmūmah. Riyadh: Dār ar-Rāyah li an-Nasyr wa at-Tawzī‘.
Ibn Baṭṭah al-‘Ukbarī. al-Ibānah al-Kubrā. Diakses melalui Maktabah Syamilah.
Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah, Muḥammad bin Abī Bakr. Badā’i‘ al-Fawā’id. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah. Diakses melalui Maktabah Syamilah.
Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah, Muḥammad bin Abī Bakr bin Ayyūb. aṣ-Ṣawā‘iq al-Mursalah fī ar-Radd ‘alā al-Jahmiyyah wa al-Mu‘aṭṭilah. Tahkik ‘Alī bin Muḥammad ad-Dakhīl Allāh. Riyadh: Dār al-‘Āṣimah, 1408 H. Diakses melalui Maktabah Syamilah.
Ibn Taymiyyah, Taqiyy ad-Dīn Aḥmad bin ‘Abd al-Ḥalīm al-Ḥarrānī ad-Dimasyqī. Dar’u Ta‘āruḍ al-‘Aql wa an-Naql. Ed. Muḥammad Rasyād Sālim. Riyadh: Universitas Imam Muḥammad bin Su‘ūd al-Islāmiyyah, 1411 H / 1991 M.
al-Khamīs, Muḥammad bin ‘Abd ar-Raḥmān. Syarḥ ar-Risālah at-Tadmuriyyah. Riyadh: Dār Aṭlas al-Khaḍrā’.
al-Maḥmūd, ‘Abd al-Raḥmān bin Ṣāliḥ bin Ṣāliḥ. Mawqif Ibn Taymiyyah min al-Asyā‘irah. Cet. 1. Riyadh: Maktabah ar-Rushd, 1415 H / 1995 M.
al-Mizzī, Jamāl ad-Dīn Yūsuf bin ‘Abd ar-Raḥmān. Tahdzīb al-Kamāl fī Asmā’ ar-Rijāl. Beirut: Mu’assasah ar-Risālah.
al-Muqshī, Muḥammad bin ‘Abdullāh. al-Ma‘nā fī Ṣifātillāh Ta‘ālā Ma‘lūm wa al-Kaif Majhūl. Diakses melalui Maktabah Syamilah.
as-Sa‘dī, ‘Abd ar-Raḥmān bin Nāṣir bin ‘Abdullāh. Taisīr al-Karīm ar-Raḥmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān. Tahkik ‘Abd ar-Raḥmān bin Mu‘allā al-Luwaiḥiq. Cet. 1. Beirut: Mu’assasah ar-Risālah, 1420 H / 2000 M. Diakses melalui Maktabah Syamilah.
as-Saqqāf, ‘Alawi bin ‘Abd al-Qādir dkk. al-Mawsū‘ah al-‘Aqdiyyah. Riyadh: Situs ad-Durar as-Saniyyah (dorar.net), 1433 H. Diakses melalui Maktabah Syamilah.
as-Sulamī, ‘Abd ar-Raḥīm bin Ṣumayl al-‘Alyānī. Syarḥ al-Ḥamawiyyah. Transkrip pelajaran. Diakses melalui Islamweb dan Maktabah Syamilah.
asy-Syāyi‘, Muḥammad bin ‘Abdul ‘Azīz. Ārā’ Ibn Ḥajar al-Haytamī al-I‘tiqādiyyah ( ‘Arḍ wa Taqwīm fī Ḍaw’ ‘Aqīdah as-Salaf ). Cet. 1. Riyadh: Dār al-Manhāj, 1427 H.
at-Ṭarīfī, ‘Abd al-‘Azīz bin Marzūq. al-Maghribiyyah fī Syarḥ al-‘Aqīdah al-Qayrawāniyyah (Muqaddimah ar-Risālah li Ibn Abī Zayd al-Qayrawānī). Riyadh: Dār al-Manhāj, 1438 H.
al-‘Utsaimīn, Muḥammad bin Ṣāliḥ. al-Qawā‘id al-Muthlā fī Ṣifātillāh wa Asmā’ihil Ḥusnā. Riyadh: Dār Ibn al-Jawzī. Diakses melalui Maktabah Syamilah.
al-‘Utsaimīn, Muḥammad bin Ṣāliḥ bin Muḥammad. Syarḥ al-‘Aqīdah al-Wāsiṭiyyah. Cet. 6. Arab Saudi: Dār Ibn al-Jawzī li an-Nasyr wa at-Tawzī‘, 1421 H.
az-Zuhairī, Abū al-Asybāl Ḥasan. Uṣūl Ahl as-Sunnah wa al-Jamā‘ah. Transkrip pelajaran audio. Diakses melalui Islamweb dan Maktabah Syamilah.
Sumber Web
“Profil Hammād bin Abī Ḥanīfah an-Nu‘mān bin Thābit al-Kūfī.” Tarajm.com. (diakses 13 Januari 2026).
News
Berita Teknologi
Berita Olahraga
Sports news
sports
Motivation
football prediction
technology
Berita Technologi
Berita Terkini
Tempat Wisata
News Flash
Football
Gaming
Game News
Gamers
Jasa Artikel
Jasa Backlink
Agen234
Agen234
Agen234
Resep
Download Film
A gaming center is a dedicated space where people come together to play video games, whether on PCs, consoles, or arcade machines. These centers can offer a range of services, from casual gaming sessions to competitive tournaments.