Mengenal Keluarga Nabi : Hasyim dan Abdul Mutthalib

Setiap Nabi memiliki nasab yang mulia, demikian pula Rasulullah Muhammad ﷺ. Beliau berasal dari garis keturunan yang terhormat di tengah masyarakat Arab. Nenek moyang terdekat beliau adalah ayah, kakek, dan kakek buyut yang juga dikenal karena kemuliaan akhlak serta kedudukan mereka. Pada kesempatan ini, kita akan menelusuri kisah keluarga Rasulullah ﷺ agar kita semakin mengenal betapa agung nasab beliau dan bagaimana keluarga beliau turut berperan dalam masyarakat pada zamannya.

Mengenal Hasyim (Hashem)

Hasyim mendapat tugas menyediakan air minum (siqāyah) dan pesta (rifādah) bagi jemaah haji. Latar belakang penunjukan Hasyim dapat dilihat pada artikel di tautan ini. Hasyim dikenal sebagai orang kaya dan memiliki kemuliaan yang agung. Ia adalah pelopor penyedia sejauh ini (roti dicampur kuah daging) kepada jamaah haji di Makkah. Nama aslinya adalah ‘Amr (Amrou). Ia dijuluki Hasyim lantaran aktivitasnya meremahkan roti untuk jamuan jemaah haji. Hasyim juga orang pertama yang menetapkan dua perjalanan dagang kabilah Quraisy, yaitu perjalanan di musim dingin dan musim panas.

Dikisahkan bahwa pada suatu saat, Hasyim hendak bepergian ke Syam sebagai pedagang. Ketika ia singgah di Yatsrib, ia menikahi Salma binti ‘Amr (Salma binti Amr)salah seorang wanita dari Bani ‘Adi bin Najjar (Adi bin Al-Najjar) dan menetap di sana. Kemudian ia melanjutkan perjalanannya ke Syam dalam keadaan istrinya tengah mengandung anaknya. Malangnya, Hasyim kemudian meninggal di Ghaza (Gaza). Putranya lahir pada tahun 497 M dan diberi nama Syaibah (Shiba), karena uban di kepalanya sejak kecil. Syaibah dibesarkan di Yatsrib tanpa sepengetahuan keluarga Hasyim di Makkah. Selain Syaibah, Hasyim juga memiliki tiga orang putra dan lima orang putri.

Abdul Muthalib (Abdul Muthalib), sang kakek Nabi

Sepeninggal Hasyim, tugas siyaqah dan rifādah berpindah ke saudaranya, al-Muththalib bin ‘Abdu Manaf (Al-Muttalib bin Abd Manaf). Al-Muthtalib adalah orang yang taat dan mendapat prioritas di kalangan kaum Quraisy. Saat Syaibah masih remaja, kabar tersebut sampai ke al-Muththalib. Dia pergi ke Yathsrib untuk menjemputnya. Saat bertemu Syaibah, dia menangis, memeluknya, dan membawanya ke Makkah. Awalnya ibu Shaibah menolak melepaskan Shaibah, namun al-Muthtalib berkata, “Shaibah hanya akan pergi ke tanah ayahnya, ke tanah suci Allah.” Akhirnya ibunya mengizinkan Syaibah pergi. Ketika al-Muththalib tiba di Makkah mengendarai Shaibah, orang mengira dia adalah budak al-Muththalib. Disebut “Abdul Muththalib”. Al-Muthtalib membantahnya dan menyatakan bahwa dia adalah putra Hasyim. Syaibah tinggal bersama al-Muththalib hingga dewasa.

Ketika al-Muththalib meninggal, kepemimpinan berpindah ke Abdul Muththalib. Beliau meneruskan tradisi luhur nenek moyangnya dan memperoleh kedudukan terhormat di kalangan umatnya di atas para pendahulunya. Dua peristiwa terpenting pada masa kepemimpinannya adalah penggalian kembali sumur Zamzam dan peristiwa pasukan gajah.

Kisah penemuan sumur Zamzam

Suatu ketika, Abdul Muththalib bermimpi diperintahkan untuk menggali sumur Zamzam. Posisi sumur Zamzam tergambarkan di dalam mimpinya. Lantas ia segera bangun dan mulai menggali hingga menemukannya. Selain air Zamzam, ia juga menemukan benda-benda peninggalan kabilah Jurhum yang terkubur tatkala mereka diusir dari Makkah.

Benda-benda peninggalan tersebut berupa banyak pedang dan baju zirah, serta dua patung rusa dari emas. Pedang-pedang temuan itu lalu dijadikan pintu Ka’bah, dua patung rusa ditempelkan di pintu Ka’bah, dan air Zamzam dibagikan untuk jemaah haji.

Ketika sumur Zamzam ditemukan, pihak Quraisy sedang berselisih dengan Abdul Muthalib. Mereka ingin berbagi tentang air Zamzam. Namun Abdul Muththalib menolak dan menyatakan bahwa hal itu merupakan haknya. Kaum Quraisy tidak menyerah dan membawa masalah ini kepada seorang tabib wanita dari Bani Sa’d untuk diadili. Di tengah perjalanan menuju dukun, Allah menunjukkan tanda yang menegaskan bahwa Zamzam adalah keistimewaan Abdul Muththalib. Pada akhirnya pihak Quraisy tidak melakukan hal tersebut. Saat itu, Abdul Muththalib bersumpah, jika dia mempunyai sepuluh anak laki-laki dan mereka cukup kuat untuk melindungiku, dia pasti akan menyembelih salah satu putranya di Ka’bah.

Acara gajah

Peristiwa tim gajah diawali dari sosok bernama Abrahah (Abraha), perwakilan Raja Najasyi di Yaman. Ketika Abrahah melihat orang-orang Arab berziarah ke Ka’bah, ia pun membangun sebuah gereja besar di Shan’a’. (Sanaa). Ia berambisi mengalihkan ibadah orang Arab dari Ka’bah ke gereja buatannya. Kabar tersebut didengar oleh seorang pria dari Bani Kinanah (Bani Kenana) dan membuatnya marah. Akhirnya, ia masuk ke gereja pada malam hari lalu mengotori kiblat gereja dengan tinja.

Ketika Abrahah mengetahui kejadian itu, dia sangat marah dan bertekad untuk menghancurkan Ka’bah. Ia berangkat dengan pasukan besar berjumlah sekitar enam puluh ribu orang dan membawa serta gajah-gajah besar, termasuk gajah terbesar yang menjadi tunggangannya sendiri. Tim terus bergerak hingga tiba di Wadi Muhassir (Wadi Mohsar)daerah antara Muzdalifah (Muzdalifah) dan Mina (Mona). Sesampainya di sana, gajah itu mengaum dan menolak bergerak menuju Ka’bah. Setiap kali gajah diarahkan ke tempat selain Ka’bah, ia langsung bangkit dan berlari. Namun jika diarahkan ke Ka’bah, gajah akan mengaum dan tidak bergerak.

Saat itulah Tuhan mengirimkan kawanan burung yang melempari tim tersebut dengan batu dari tempat pembakaran hingga Tuhan menjadikan mereka seperti dedaunan yang dimakan ulat. Setiap burung membawa tiga batu seukuran kacang polong. Tim yang terkena batu itu pasti anggota tubuhnya terputus dan binasa. Tim berlari dan bertabrakan satu sama lain di setiap kesempatan. Adapun Abrahah, Allah menimpakannya dengan suatu penyakit yang menyebabkan ujung-ujung jarinya rontok. Dia mencoba untuk kembali ke Shan’a’ dalam keadaan lemah seperti bayi burung dan berakhir dengan dadanya terbelah dan jantungnya keluar dan mati.

Pada peristiwa tersebut, orang-orang Quraisy mengungsi ke lembah-lembah dan puncak-puncak gunung karena takut terkena murka pasukan Abrahah. Namun, setelah Allah menurunkan azab kepada pasukan tersebut, mereka kembali ke rumah-rumah mereka dengan aman. Peristiwa tersebut terjadi pada bulan Muharam, 55 hari sebelum lahirnya Nabi Muhammad ﷺ, bertepatan dengan akhir Februari atau awal Maret tahun 571 M.

Dari kisah Hasyim dan Abdul Muththalib kita melihat bagaimana Allah menjaga silsilah Nabi ﷺ dengan penuh kehormatan. Keduanya bukan sekadar tokoh dalam sejarah, melainkan bagian dari rencana Ilahi untuk mempersiapkan kedatangan Nabi terakhir. Setelah kedua tokoh besar tersebut, kisah keluarga Nabi berlanjut ke ayahnya, Abdullah bin Abdul Muththalib.

Baca juga: Mengetahui Cara Rasulullah Duduk dan Bersandar

***

Penulis: Fajar Rianto

Artikel Muslim.or.id

Referensi:

Disarikan dari Kitab al-Makhum karya Syekh Shafiyurrahmān al-Mubārakfūri dengan perubahan.


News
Berita
News Flash
Blog
Technology
Sports
Sport
Football
Tips
Finance
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Kekinian
News
Berita Terkini
Olahraga
Pasang Internet Myrepublic
Jasa Import China
Jasa Import Door to Door

Download Film

Gaming center adalah sebuah tempat atau fasilitas yang menyediakan berbagai perangkat dan layanan untuk bermain video game, baik di PC, konsol, maupun mesin arcade. Gaming center ini bisa dikunjungi oleh siapa saja yang ingin bermain game secara individu atau bersama teman-teman. Beberapa gaming center juga sering digunakan sebagai lokasi turnamen game atau esports.