Pernahkah kita merenung sejenak, betapa cepatnya waktu berlalu? Usia yang dulu terasa panjang, kini seakan berlari meninggalkan kita. Rambut yang dulu hitam, kini mulai memutih. Badan yang dulu kuat, kini mudah letih. Semua ini sejatinya adalah peringatan lembut dari Allah, bahwa hidup di dunia hanyalah sebentar, persinggahan singkat menuju kampung akhirat yang kekal.
Diantara kisah para Nabi yang begitu mengharukan adalah kisah Nabi Nuh ‘alaihissalam. Dia adalah Nabi tertua. Tuhan Kisah menyebutkan,
Dia tinggal di antara mereka selama seribu tahun, dikurangi lima puluh tahun.
“Maka dia (Nuh) hidup di tengah kaumnya selama seribu tahun kurang dari lima puluh tahun“ (QS. Al-‘Ankabut : 14)
Bayangkan, 950 tahun Nabi Nuh ‘alaihissalam berdakwah dengan penuh kesabaran, menghadapi caci maki, penolakan, bahkan hanya segelintir yang beriman kepadanya. Umur yang begitu panjang seakan memberikan pelajaran mendalam kepada kita, bahwa meski usia manusia panjang sekalipun, dunia tetaplah terasa singkat.
subhanallah, hampir seribu tahun hidupnya pun seakan berlalu bagai sekejap. Jika Nabi Nuh yang diberi umur panjang merasakan dunia begitu singkat, bagaimana dengan kita yang rata-rata hanya hidup 60–70 tahun?
Nabi ﷺ berkata,
Umur bangsaku berkisar antara enam puluh hingga tujuh puluh tahun, dan yang termuda di antara mereka mampu melakukan itu.
“Umur umatku antara enam puluh dan tujuh puluh tahun, dan sangat sedikit yang lebih dari itu.” (HR. Tirmidzi, no. 2331, hasan yang otentik)
Inilah dunia. Secepat kedipan mata. Maka janganlah tertipu olehnya.
Dunia adalah pertanian sementara
Allah Kisah Seringkali mengingatkan dalam Al-Qur’an, betapa dunia hanyalah kesenangan sesaat. Tuhan berkata,
Kehidupan dunia tidak lain hanyalah kenikmatan tipu daya.
“Dan kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Ali ‘Imran : 185)
Perhiasan dunia memang indah: rumah megah, kendaraan mewah, jabatan tinggi, dan harta berlimpah. Tetapi semuanya hanyalah fatamorgana. Ia tampak manis di awal, namun lenyap begitu cepat.
Ibarat bunga yang mekar sebentar, lalu layu karena panas terik. Tuhan menggambarkannya,
Ketahuilah, bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan, hiburan, dan perhiasan, dan bermegah-megah di antara kalian sendiri, serta bertambahnya harta dan anak. Bagaikan hujan yang menyenangkan orang-orang kafir. Pertumbuhannya kemudian menjadi gelisah dan Anda melihatnya menguning dan kemudian menjadi puing-puing.
“Ketahuilah bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan, sesuatu yang mengabaikan, menghiasi, dan menyombongkan diri di antara kamu, serta bersaing dalam harta dan keturunan. Bagaikan hujan yang hasil panennya membuat para petani takjub, kemudian hasil panennya mengering, lalu kamu lihat warnanya kuning, lalu musnah.” (QS. Al-Hadid : 20)
Bukankah kita sering menyaksikan sendiri? Betapa banyak orang mengejar dunia mati-matian, namun belum sempat menikmatinya, ajal sudah menjemput.
Realitas dunia di mata Nabi ﷺ
Nabi ﷺ kerap memberikan perumpamaan agar para sahabat tidak silau dengan dunia. Suatu ketika ia melewati bangkai kambing yang telinganya cacat. Lalu dia berkata,
Apakah menurut Anda hal ini akan lebih mudah bagi keluarganya jika dia masih hidup? Mereka berkata: Seandainya dia masih hidup, maka keluarganya tidak berhak mendapatkan apapun darinya. Beliau bersabda: Demi Allah, dunia ini lebih mudah bagi Allah dibandingkan dunia ini bagimu.
“Apakah menurutmu bangkai kambing ini berharga di mata pemiliknya? Para sahabat menjawab, ‘Seandainya kambing ini hidup, cacat telinga seperti itu tidak ada artinya.’ Rasulullah bersabda, ‘Demi Allah, dunia ini lebih hina di sisi Allah daripada bangkai ini di mata pemiliknya.’” (HR.Muslim no.2957)
Betapa rendahnya dunia di sisi Allah Pajak. Karena itu, orang yang menjadikan dunia sebagai tujuan utama sungguh telah tertipu.
Dunia bukan tujuan, melainkan jalan
Saudaraku, dunia bukanlah tempat untuk hidup selamanya. Dunia hanyalah tempat singgah, tempat menanam, tempat bekerja. Akhirat adalah tempat menuai.
Nabi ﷺ berkata,
Jadilah di dunia ini seolah-olah Anda adalah orang asing atau musafir.
“Hiduplah di dunia ini seolah-olah kamu adalah orang asing atau seorang musafir.” (HR.Bukhari no.6416)
Seorang musafir tidak pernah terlalu terpikat dengan penginapan. Dia tahu, tempat itu hanya untuk sementara. Dia akan segera berangkat untuk melanjutkan perjalanannya. Begitulah seharusnya kita berada di dunia. Tidak lalai dengan gemerlapnya, tidak silau dengan gemerlapnya, namun menjadikan dunia sebagai sarana menuju akhirat.
Sayangnya, banyak orang terjerat tipu daya dunia. Mereka mengira dunia adalah segalanya. Allah sudah mengingatkan,
Mereka mengetahui apa yang terlihat dari kehidupan dunia, namun mereka lalai terhadap kehidupan akhirat.
“Mereka hanya mengetahui apa yang dilahirkan (saja) dari kehidupan dunia, sedangkan mereka lalai terhadap akhirat.” (QS. Ar-Rum : 7)
Lihatlah bagaimana manusia saling berbangga: siapa yang rumahnya lebih besar, siapa yang mobilnya lebih mewah, siapa yang anaknya lebih banyak prestasinya. Padahal, semua itu tidak akan ditanya di hadapan Allah, kecuali apakah ia digunakan untuk ketaatan atau tidak.
Mengingat kematian
Rasulullah ﷺ berpesan agar kita sering-sering mengingat kematian, karena itulah yang bisa melembutkan hati dan menjauhkan diri dari kelalaian. Dia berkata,
Sering-seringlah menyebutkan perusak kesenangan.
“Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan (yaitu kematian).” (HR. Tirmidzi no. 2307, shahih)
Kematian akan memutus semua yang kita cintai: keluarga, harta benda, jabatan, dan kedudukan. Kami tidak membawa apa pun kecuali iman dan amal shaleh.
Saudaraku, dunia ini hanyalah sebuah ladang. Jangan sampai kita menghabiskan waktu, tenaga, dan pikiran hanya untuk sesuatu yang akan hilang. Manfaatkan dunia untuk menanam amal, agar di akhirat nanti kita akan memetik hasilnya. Nabi ﷺ berkata,
Dunia adalah penjaranya orang beriman dan surganya orang kafir
“Dunia ini penjara bagi orang beriman, dan surga bagi orang kafir.” (HR.Muslim no.2956)
Maka, bersabarlah dengan keterbatasan dunia. Janganlah hati kita guncang oleh cobaan, jangan pula silau oleh gemerlap dunia. Tenangkan hatimu: ini hanya dunia.
Baca juga: Jangan Teperdaya dengan Ilusi Dunia
***
Penulis: Fauzan Hidayat
Artikel Muslim.or.id
News
Berita Teknologi
Berita Olahraga
Sports news
sports
Motivation
football prediction
technology
Berita Technologi
Berita Terkini
Tempat Wisata
News Flash
Football
Gaming
Game News
Gamers
Jasa Artikel
Jasa Backlink
Agen234
Agen234
Agen234
Resep
Download Film
A gaming center is a dedicated space where people come together to play video games, whether on PCs, consoles, or arcade machines. These centers can offer a range of services, from casual gaming sessions to competitive tournaments.