Zaman ini bukan hanya zaman kemudahan, tetapi juga zaman yang penuh dengan ujian yang tersirat dan tak terasa. Ujian itu tidak selalu datang dalam bentuk kekurangan dan kesulitan, justru sering datang dalam bentuk kelapangan dan kemudahan. Apa yang dahulu sulit didapat, kini begitu mudah dibeli. Apa yang dahulu harus ditunggu, kini bisa diperoleh dalam hitungan detik. Manusia tidak lagi kesulitan mencari barang, tetapi kesulitan menahan diri.
Allah mengingatkan,
Tidak, seseorang tertipu jika dia melihat dirinya menjadi kaya.
“Ketahuilah, sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas ketika ia merasa cukup.” (QS. Al-‘Alaq: 6–7)
Allah Azza dari Jalla telah mengingatkan realitas dunia sejak awal,
Ketahuilah, bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan, hiburan, dan perhiasan, dan bermegah-megah di antara kalian sendiri, serta bertambahnya harta dan anak.
“Ketahuilah bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan, bercanda, berdandan, bermegah-megah di antara kalian sendiri, dan bersaing dalam harta dan anak.” (QS. Al-Hadid : 20)
Perhatikan susunan ayat ini. Allah menyebut permainan, hiburan, perhiasan, kebanggaan, lalu perlombaan dalam harta dan anak keturunan. Seakan Allah menggambarkan fase demi fase manusia yang larut dalam dunia hingga lupa bahwa ia sedang berjalan menuju akhirat.
Syekh As-Sa’di Tuhan memberkati dijelaskan dengan sangat jelas dan panjang lebar dalam kitab tafsirnya, kemudian memberikan nasehat yang begitu indah dan berkata,
Hal ini ditegaskan oleh kenyataan bahwa ia adalah pecinta dunia dan merasa nyaman dengan hal itu. Berbeda dengan orang yang mengetahui dunia dan realitasnya, sehingga ia menjadikannya sebuah lorong, dan tidak menjadikannya sebuah kestabilan, maka ia berlomba-lomba dalam hal yang mendekatkan dirinya kepada Allah, dan mengambil sarana-sarana yang akan mengantarkannya menuju tempat tinggal martabat-Nya, dan jika ia melihat seseorang yang memperbanyak dirinya dan bersaing dengannya dalam hal uang dan anak; Bersainglah dengannya dengan perbuatan baik
“Hal ini terbukti terjadi pada orang-orang yang mencintai dunia dan merasa tenang dengannya. Berbeda dengan orang yang mengenal dunia dan hakikatnya. Ia menjadikannya hanya sebagai tempat persinggahan, bukan sebagai tempat menetap. Maka ia berlomba dalam hal-hal yang mendekatkannya kepada Allah, dan mengambil berbagai sarana yang dapat mengantarkannya menuju negeri kemuliaan-Nya. Dan apabila ia melihat orang lain saling berlomba serta berbangga-bangga dalam harta dan anak-anak, maka ia menyaingi mereka dengan amal-amal saleh.” [1]
Allah Subhanahu Ta’ala juga mengatakan,
Kehidupan dunia tidak lain hanyalah kenikmatan khayalan.
“Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Ali ‘Imran : 185)
Larangan limbah dan tabdzir
Diantara sifat-sifat tercela yang diharamkan syariat adalah sifat limbah (berlebihan) dan tabdzir (boro). Ar-Raghib Tuhan memberkati dikatakan,
Itu adalah melebihi batas dalam setiap perbuatan yang dilakukan seseorang, sekalipun itu menghabiskan waktu berbulan-bulan
“Limbah adalah melampaui batas dalam setiap perbuatan yang dilakukan manusia, meskipun istilah ini lebih sering digunakan dalam konteks pengeluaran harta.” [2]
Sufyan bin ‘Uyainah Tuhan memberkati dikatakan,
Apapun yang kamu keluarkan selain untuk ketaatan kepada Allah adalah boros, meskipun kecil
“Apa pun yang kamu belanjakan tanpa menaati Allah, adalah sia-sia (limbah), meskipun jumlahnya kecil.” [3]
Sebagian ulama membedakan antara tabdzir (menghambur-hamburkan harta) dan limbah (berlebihan).
Tabdzir adalah mengeluarkan harta bukan pada tempatnya baik dalam maksiat atau tanpa manfaat, karena bermain-main dan meremehkan harta.
Adapun limbah adalah berlebihan dalam makanan, minuman, dan pakaian, tanpa kebutuhan.
Islam bukanlah agama yang memusuhi kesenangan, namun mengatur agar kesenangan tidak berubah menjadi kehancuran.
Allah Azza dari Jalla dikatakan,
Dan makanlah dan minumlah, dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai yang berlebih-lebihan.
“Makan dan minumlah, namun jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebihan.” (QS. Al-A’raf : 31)
Sebagian salaf berkata,
Allah menggabungkan pengobatan dalam setengah ayat: “Dan makanlah dan minumlah, dan jangan berlebihan.”
“Allah telah menghimpun ilmu kesehatan dalam setengah ayat, ‘Makan dan minumlah, dan jangan berlebihan.’” [4]
Tuhan juga berkata,
Dan berikanlah kepadanya haknya pada hari panennya, dan janganlah kamu berlebih-lebihan, karena dia tidak menyukai yang berlebihan.
“Dan penuhi haknya pada hari pemetikan buahnya, dan jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebihan.” (QS. Al-An’am : 141)
‘Atha’ bin Abi Rabah berkata,
Mereka dilarang berfoya-foya dalam segala hal
“Mereka dilarang berlebihan dalam segala hal.” [5]
Ibnu Katsir menjelaskan,
Dan jangan makan berlebihan; Karena itu berbahaya bagi pikiran dan tubuh
“Yakni jangan berlebihan dalam makan, karena hal itu membahayakan akal dan badan.” [6]
Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya radhiyallahu ‘anhum, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dikatakan,
Makanlah, bersedekah, dan pakailah pakaian, tanpa pemborosan atau imajinasi.
“Makanlah, bersedekah, dan berpakaianlah tanpa berlebih-lebihan dan tanpa kesombongan.” (HR. An-Nasa’i)
Ibnu ‘Abbas semoga Allah memberkati dia dan memberinya kedamaian dikatakan,
Makanlah apapun yang kamu mau, kenakan apapun yang kamu mau, dan kamu tidak akan disalahartikan oleh dua hal: pemborosan atau imajinasi.
“Makanlah apa yang engkau mau, dan pakailah apa yang engkau mau, selama terhindar dari dua hal: berlebihan dan sombong.” [7]
Dari Miqdam bin Ma’di Karib semoga Tuhan memberkatimu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dikatakan,
Tidak ada manusia yang mengisi bejana lebih buruk dari perutnya. Menurut Putra Adam, ada makanan yang menguatkan inti tubuhnya. Jika hal itu tidak dapat dihindari, maka sepertiganya untuk makanannya, sepertiga lagi untuk minumannya, dan sepertiga lagi untuk jiwanya.
“Tidaklah anak Adam memenuhi suatu wadah yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap untuk menegakkan tulang punggungnya. Jika harus lebih, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumnya, dan sepertiga untuk nafasnya.” (HR. At-Tirmidzi dan berkata: hadis hasan yang otentik)
Allah Subhanahu Ta’ala dikatakan,
Sesungguhnya orang-orang yang boros itu adalah saudara setan, dan setan itu ingkar kepada Rabbnya.
“Sesungguhnya orang-orang boros itu adalah saudara setan, dan setan sangat durhaka kepada Tuhannya.” (QS. Al-Isra’: 27)
Bahayanya menyombongkan diri
Allah Azza dari Jalla dikatakan,
Perkalian mengalihkan perhatianmu, sampai kamu mengunjungi kuburan.
“Bermegah-megahan telah melalaikan kalian sampai kalian masuk kubur.” (QS. At-Takatsur: 1–2)
Bermegah-megahan bisa dalam jumlah harta, kendaraan, rumah, bahkan dalam gaya hidup.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dikatakan,
Seandainya anak Adam mempunyai satu lembah emas, niscaya dia mempunyai dua lembah, dan tidak ada yang memenuhi mulutnya kecuali debu, dan Allah akan mengampuni orang-orang yang bertaubat.
“Seandainya seorang anak Adam memiliki satu lembah emas, tentu ia menginginkan dua lembah lainnya, dan sama sekai tidak akan memenuhi mulutnya (merasa puas) selain tanah (yaitu setelah mati) dan Allah menerima tobat orang-orang yang bertobat.” (Muttafaqun ‘alaih)
Dia shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengatakan,
Demi Tuhan, apa itu kemiskinan? Aku mengkhawatirkan kamu, namun aku khawatir dunia akan diperluas kepadamu sebagaimana dunia telah diperluas kepada orang-orang sebelum kamu, dan kamu akan berkompetisi di dalamnya sebagaimana mereka berkompetisi di dalamnya, dan dunia akan menghancurkan kamu sebagaimana menghancurkan mereka.
“Demi Allah, bukanlah kemiskinan yang aku khawatirkan atas kalian, tetapi aku khawatir dunia dibentangkan untuk kalian sebagaimana dibentangkan untuk orang sebelum kalian, lalu kalian berlomba-lomba padanya sebagaimana mereka berlomba-lomba, sehingga ia membinasakan kalian sebagaimana membinasakan mereka.” (HR. Bukhari)
Kanaan dan merasa cukup
Allah juga memuji hamba-hamba-Nya yang tengah,
Dan orang-orang yang dalam membelanjakannya tidak boros dan tidak pelit, dan ada keseimbangan di antara keduanya.
“Dan orang-orang yang dalam menafkahkan hartanya tidak berlebih-lebihan dan tidak kikir, melainkan berada di tengah-tengah antara keduanya.” (QS. Al-Furqan : 67)
Ibnu Katsir menjelaskan,
Mereka tidak boros dalam pengeluarannya, sehingga membelanjakan melebihi kebutuhannya, juga tidak pelit terhadap keluarganya, sehingga lalai terhadap hak-haknya, sehingga tidak mencukupi kebutuhannya. Sebaliknya, keadilan adalah sebuah pilihan, dan yang terbaik adalah pilihan tengah, bukan ini atau itu
“Mereka tidak menghamburkan harta melampaui kebutuhan, dan tidak pula pelit terhadap keluarga sehingga mengurangi hak-haknya. Mereka adil dan merupakan pilihan terbaik, dan yang terbaik adalah yang di tengah.”
Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dikatakan,
Berhasillah orang yang mendapat hidayah Islam, diberi rezeki, dan merasa cukup dengannya.
“Berbahagialah orang yang mendapat petunjuk dalam Islam, diberi rezeki yang cukup, dan Puas (merasa cukup) dengan rezeki tersebut.” (HR. Ibnu Majah, Syekh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini autentik)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dikatakan,
Kekayaan adalah kekayaan hati, dan kemiskinan adalah kemiskinan hati.
“Sesungguhnya kekayaan adalah kekayaan hati, dan kemiskinan adalah kemiskinan hati.” (HR. An-Nasa’i, Ibnu Hibban, shahih Al-Albani)
Dunia ada di tangan, bukan di hati
Allah Azza dari Jalla dikatakan,
Apa yang kamu miliki akan habis dan apa yang Tuhan miliki akan tetap ada.
“Apa yang ada di sisi kalian akan habis, dan apa yang ada di sisi Allah akan kekal.” (QS. An-Nahl: 96)
Dan Tuhan Subhanahu Ta’ala juga mengatakan,
Wahai orang-orang yang beriman, jangan biarkan hartamu atau anak-anakmu mengalihkan perhatianmu dari mengingat Allah.
“Hai orang-orang yang beriman, jangan biarkan hartamu dan anak-anakmu melalaikanmu dari mengingat Allah.” (QS. Al-Munafiqun : 9)
Properti bukanlah musuh. Namun jika diabaikan maka akan berbahaya.
Hemat adalah bentuk kesadaran.
Hemat adalah latihan menahan nafsu.
Hemat adalah bukti bahwa akhirat lebih kita cintai daripada dunia.
Karena pada akhirnya, ketika kita berdiri di hadapan Allah, yang ditanya bukan apa yang kita miliki, tetapi bagaimana kita menggunakannya.
Ali bin Abi Thalib semoga Allah memberkati dia dan memberinya kedamaian dikatakan,
Apa pun yang Anda belanjakan untuk diri sendiri dan keluarga Anda, tanpa pemborosan atau pemborosan, dan apa pun yang Anda sedekahkan, adalah milik Anda. Dan apa saja yang kamu belanjakan karena kemunafikan dan reputasi, itulah nasib setan
“Apa yang kamu nafkahkan untuk diri sendiri dan keluargamu tanpa berlebih-lebihan dan tanpa pemborosan, serta apa yang kamu sedekahkan, maka itu menjadi milikmu (di akhirat). Adapun apa yang kamu belanjakan untuk riya dan ingin dipuji, maka itulah bagiannya setan.” [8]
Ibnu al-Jawzi Tuhan memberkati dikatakan,
Orang bijak mengatur dengan pikirannya penghidupannya di dunia ini. Jika dia miskin, dia berusaha mencari nafkah dan membuat industri, dia akan menahan diri dari mempermalukan orang lain, mengurangi hubungan, dan menggunakan kepuasan. Dia hidup dalam keadaan sehat di antara masyarakat, dan dihargai di antara mereka, dan jika dia kaya, dia harus mengatur pengeluarannya. Takut menjadi miskin dan membutuhkan penghinaan untuk berkreasi
“Orang yang berakal mengatur hidupnya dengan akalnya. Jika miskin, ia berusaha mencari nafkah agar tidak dipermalukan di depan orang. Jika kaya, ia mengatur produksinya agar tidak jatuh miskin dan terhina.” [9]
Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dikatakan,
Kekayaan bukanlah banyaknya kekayaan, namun kekayaan adalah kekayaan jiwa.
“Orang kaya bukanlah orang yang mempunyai banyak harta, namun orang kaya adalah orang yang hatinya selalu merasa berkecukupan.” (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)
Semoga Tuhan menciptakan dunia di tangan kita, bukan di hati kita.
Demi Allah, Ta’ala.
***
Penulis: Gazzeta Raka Putra Setyawan
Artikel Muslim.or.id
Referensi:
[1] Tafsir Al-Kariim Ar-Rahman fii Tafsiri Kalam Al-Mannan, hal. 1001.
[2] Mausu’ah Nadhrotu An-Na’iim, 9: 3994.
[3] Ibid.
[4] Tafsir Ibnu Katsir, 2: 210.
[5] Di tempat yang sama, 2: 182.
[6] Di tempat yang sama, 2: 182.
[7] Shahih Bukhari, 4: 53.
[8] Ad-Dar Al-Mansur, 5: 275.
[9] Syaid Al-Khathir, hal. 404.
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.