Menggunakan Al-Quran dan As-Sunah dalam Dialog Eksistensi Tuhan (Bag. 1)

Di zaman dahulu, argumen keberadaan Tuhan tidak menjadi pembahasan yang begitu signifikan di kalangan para ulama yang membahas akidah. Namun, di masa kini, urgensinya kian terasa karena syubhat kuffar sudah menyentuh fundamen keimanan, yakni eksistensi atau keberadaan Tuhan dalam semesta ini.

Akan tetapi, sejatinya para ulama Islam tidak sepenuhnya meninggalkan pembahasan ini. Justru pijakan dasar dalam berargumen tentang keberadaan Tuhan telah dibahas dan terus berkembang sampai hari ini. Termaktub dalam kitab dan brosur para salaf terdahulu berupa argumen solid tentang eksistensi Tuhan secara logis dan mudah diterima oleh banyak kalangan.

Cara Salaf dalam menyikapi diskursus eksistensi Tuhan

Sikap salaf dalam bab ini adalah moderat, mereka semangat menghadirkan argumen keberadaan Tuhan, tetapi tidak sampai mengorbankan validitas dalil naqli serta pemahamannya. Hal ini menjadi tonggak utama yang perlu dipegang para pelajar dalam mengulik pembahasan ini. Karena telah berlalu zaman, di mana para ulama semangat menghadirkan argumen keberadaan Tuhan dengan argumen logis. Sampai pada akhirnya, sebagian mereka terjebak dalam kontradiksi antara argumen logis dan argumen yang disampaikan oleh Allah ﷻ dan Rasul-Nya. Bahkan karena sebab perkara itu, akhirnya lebih mengutamakan argumen logis dibandingkan firman Allah dan sabda Rasulullah. Inilah yang terjadi kepada kalangan filsuf dan mutakallimin yang mengaitkan dirinya dengan Islam pada abad pertengahan.

Hal penting berkaitan penggunaan wahyu dalam menyusun argumen eksistensi Tuhan

Argumen eksistensi Tuhan bisa kita dapatkan dari dua sumber:

Pertama: Sumber akal

Kedua: Sumber bacaan (Al-Quran)

Al-Quran dan As-Sunah sejatinya membawa argumen keberadaan Tuhan yang banyak sekali. Namun, ketika berdialog dengan seseorang yang sudah kehilangan basis keyakinan kepada Tuhan, maka apalagi dengan validitas wahyu Tuhan. Oleh karena itu, dalam berdialog dengan kelompok ateis maupun agnostis, Al-Quran dan As-Sunah tidak dikedepankan sebagai argumen secara eksplisit. Akan tetapi, sebagai seorang muslim, kita menggunakan Al-Quran dan As-Sunah dalam dialog eksistensi Tuhan dengan pertimbangan sebagai berikut:

Pertama: Menjadikan Al-Quran dan As-Sunnah sebagai landasan berdialog

Al-Quran dan As-Sunnah sebagai wahyu yang diturunkan kepada Rasul-Nya dimaksudkan sebagai pedoman utama dalam hidup kita. Berisi aturan-aturan global yang komprehensif, contoh-contoh penting untuk meningkatkan pemahaman kita, serta perbandingan yang membuat kita semakin yakin akan mukjizat terbesar Nabi kita ﷺ. Allah ﷻ berfirman,

Dan Kami turunkan kepadamu Kitab sebagai penjelas segala sesuatu, dan sebagai petunjuk, rahmat, dan kabar baik bagi kaum muslimin.

“Dan Kami turunkan kepadamu Kitab (Al-Qur’an) yang menjelaskan segala sesuatunya serta petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS. an-Nahl : 89)

Al-Huda yang dimaksud adalah Al-Quran. Artinya jalan yang lurus, menjadi petunjuk ke arah yang benar. Yang sebaliknya adalah kesalahan (Tipu muslihat). Oleh karena itu, Al-Quran benar-benar menjadi panduan bagi kita semua untuk segala hal, khususnya dalam dakwah. Berdialog dengan ateis dalam masalah eksistensi Tuhan adalah sebesar-besar perkara dakwah, karena ia merupakan inti dakwah tauhid.

Dalam ayat lain Allah ﷻ berfirman,

Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk kepada orang-orang yang shaleh dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang beramal shaleh bahwa mereka akan mendapat pahala. Besar

“Sesungguhnya Al-Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberikan kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang beramal shaleh, bahwa baginya pahala yang besar.” (QS. Al-Isra’: 9)

Ayat tersebut menunjukkan bahwasanya pedoman dalam berdakwah dan berdialog dengan ateis adalah Al-Quran dan As-Sunah. Allah ﷻ mengetahui pentingnya perkara ini. Karena eksistensi adalah fundamen dari keyakinan akan konsep Tuhan dan syariat-Nya, tentu saja Allah ﷻ telah membekali umat dengan petunjuk terbaik untuk membuktikan keberadaan-Nya. Bukan hanya sekadar panduan berargumen, tetapi juga menjadi sibuk atau kabar gembira bagi orang yang membangun argumen di atasnya.

Baca juga: Bagaimana Akal Menunjukan Keberadaan Allah Ta’ala?

Kedua: Segala dalil yang dikembangkan tidak boleh bertentangan dengan realitas Al-Quran dan As-Sunnah membagikan

Sebagai bentuk penegasan dari panduan pertama yang disebutkan, maka segala bentuk argumentasi yang kita bangun hendaknya berlandaskan Al-Quran dan As-Sunnah, atau setidak-tidaknya tidak bertentangan. Dalam dialektika teis-ateis banyak argumen dan pandangan yang bertebaran dalam permasalahan ini. Ada yang berasal dari kalangan umat Islam, ada pula yang berasal dari teolog non-Muslim yang mengandalkan logika. Banyaknya argumen-argumen ini terkadang menggoda kita sebagai eksponen agama Allah ﷻ untuk menggunakannya atau mensintesis rumusan baru berdasarkan argumen tersebut. Faktanya, tidak semua argumen aman dari konsekuensi yang salah, bahkan analoginya pun bisa jadi bermasalah. Oleh karena itu, kita memerlukan alat untuk mempertimbangkan kebenaran semua argumen tersebut.

Allah ﷻ telah menjadikan Al-Kitab yaitu Al-Quran sebagai hakim untuk memutuskan suatu kebenaran. Allah ﷻ berfirman,

Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu Kitab dengan membawa kebenaran agar kamu dapat mengambil keputusan antara manusia sesuai dengan apa yang telah Allah tunjukkan kepadamu, dan jangan menjadi musuh bagi orang-orang yang berkhianat.

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, agar kamu menghakimi antar manusia berdasarkan apa yang diturunkan Allah kepadamu, dan jangan menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang berkhianat.” (QS.An Nisa’: 105)

Ayat ini diturunkan sehubungan dengan perselisihan antar manusia yang dihadapi Nabi ﷺ. Pesan yang dibawa ayat ini adalah perintah agar Nabi ﷺ berkomitmen menjadikan Al-Quran sebagai pedoman dalam memutuskan suatu perkara dan larangan mengikuti hawa nafsu. Luasnya makna ayat ini membuat kita memahami bahwa segala urusan dapat ditimbang dengan Al-Quran sebagai kalam Allah ﷻ yang dijaga kebenarannya. Ketika kita menemukan banyak dalil yang dapat digunakan untuk mendukung keberadaan Tuhan, maka dalil tersebut perlu disaring dengan fakta dan perintah yang terdapat dalam Al-Quran.

Kita juga bisa mendapatkan faidah bahwasanya ketika berdialog, kita harus tetap adil dalam berargumen, jangan sampai menuruti nafsu untuk memenangkan dialognya. Seorang guru kami mengatakan, “Kebenaran substansi tidak diukur oleh kemenangan dalam berdialog.” Hal ini diketahui oleh kebanyakan ilmuwan dan akademisi, berbeda dengan atlet debat modern yang dituntut untuk menang dalam penampilan dan retorika.

Dalam ayat lain Allah ﷻ berfirman,

Dan Kami turunkan kepadamu Kitab dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang ada sebelum Kitab itu dan mendominasinya. Maka putuskanlah keduanya berdasarkan apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dari kebenaran yang datang kepadamu

“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang telah terjadi sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan sebagai hakim atas kitab-kitab yang lain. Maka putuskanlah perkara mereka berdasarkan apa yang diturunkan Allah dan jangan ikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.” (QS. Al-Maidah : 48)

Kita mungkin menemukan argumen kebenaran Tuhan juga tersebar di buku-buku samawi yang tersisa kini. Maka, sikap kita kepadanya adalah sama, yakni ditimbang dengan Al-Quran terdahulu sebelum digunakan. Jangan karena merasa bercocokan dengan pendapat maupun hipotesis sendiri, tanpa crosscheck, langsung menggunakan begitu saja. Dalam ilmu debat pun, hal ini sangatlah fatal. Karena argumen yang dibangun atas sebuah dasar yang tidak kokoh, sangat mudah untuk dibantah dengan cara menginvalidasi atau membatalkan susunan argumennya.

Berdasarkan ayat di atas, Al-Quran dan As-Sunah hendaknya menjadi pengadil atas segala yang kita lakukan maupun argumen yang hendak kita jadikan sebagai dasar. Benarkah perkara yang ingin kita sampaikan ini telah sesuai dengan Al-Quran dan As-Sunah, atau minimal tidak bertentangan dengan keduanya? Sejatinya tidak ada perkara kebenaran yang tidak termaktub dalam keduanya. Karena keduanya adalah wahyu Allah ﷻ yang memang diturunkan untuk menjadi petunjuk dalam jagat kehidupan kita. Oleh karena itu, setiap kebaikan pasti sudah dijelaskan dalam Al-Quran dan As-Sunah, setidaknya termaktub kaidah semisal yang menjadi landasan dalam berargumen.

[Bersambung]

***

Penulis: Glenshah Fauzi

Artikel Muslim.or.id

Catatan kaki:

Tulisan ini terdiri dari tiga bagian yang kami sadur dari catatan pelajaran khususnya dalam Daurah Duat Nasional #3 bersama Ustad Dr. Firanda Andirja, Lc., MA. dan Ustad Nidhol Masyhud, Lc., Dipl. hafizhahumullah Keduanya tidak secara langsung menyebutkan poin-poin berikut, tetapi pembelajaran tersebut menginspirasi kami untuk meringkas metode penggunaan Al-Quran dan As-Sunah dalam berdialog dengan kelompok yang tidak mengakui kewujudan Tuhan.


PakarPBN

A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.

In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.

The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.

Jasa Backlink

Download Anime Batch