Bagaimana Nabi mengatur makan di bulan Ramadhan?

Sunnah Nabi ﷺ begitu lengkap mulai dari urusan besar hingga urusan printilan kecil yang mungkin kita tidak perhatikan. Termasuk riwayat yang sampai kepada kita adalah bagaimana Nabi ﷺ mengatur pola makannya, khususnya di bulan Ramadan. Tentu ini adalah permasalahan kebiasaan dan keseharian yang tidak mutlak menjadi panduan ibadah yang harus diikuti. Namun, setidaknya kita bisa mengambil faidah dari perbuatan Nabi ﷺ dan menjadi peluang baru untuk kita mengikuti sunah Nabi ﷺ.

Gaya makan Nabi ﷺ siang dan malam

Nabi ﷺ memulai harinya dengan meminum air putih dan terkadang dicampur dengan madu. Kemudian sarapan dengan tujuh kurma. Nabi ﷺ kemudian melanjutkan aktivitas sehari-harinya hingga waktu Ashar tiba. Usai menunaikan shalat Asar, Nabi ﷺ biasanya menyantap roti gandum yang diberi minyak zaitun. Ada pula riwayat Nabi ﷺ makan daging – beliau sangat senang dengan daging – atau mengisi bekal makan siangnya dengan kurma dan madu. Pada malam hari, Nabi ﷺ akan makan malam setelah shalat Isya dan Witir dengan cara makan yoghurt atau olahan susu.[1]

Dalam riwayat yang memperlihatkan keadaan di bulan Ramadhan, Nabi ﷺ makan sedikit ketika memasuki Maghrib, berupa kurma dan air. Kemudian Nabi ﷺ akan makan lagi sebelum memimpin para sahabat shalat tarawih atau beliau akan shalat sendirian di rumahnya.

Kaidah dari Ibnul Qayyim Tuhan memberkati di dalam Zaadul Ma’ad, “Makanlah sesuai kebiasaan penduduk, jangan membatasi dengan satu jenis makanan saja.”

Membatasi hanya satu jenis saja setiap saat – bahkan jika itu adalah makanan terbaik – adalah risiko yang berbahaya. Sebaliknya, dia memakan apa yang menjadi kebiasaan masyarakat di negaranya

“Membatasi diri memakan satu jenis makanan saja, meskipun itu makanan yang terbaik, berisiko membahayakan. Baginda Nabi ﷺ memakan apa yang biasa dimakan oleh penduduk setempat.” (Zaadul Ma’ad, 4: 199)[2]

Dari apa yang dijelaskan oleh penulis dan Ibnul Qayyim, kita bisa ambil kesimpulan:

  1. Makanan Nabi ﷺ adalah makanan umum umatnya, bukan makanan istimewa dan mewah.
  2. Nabi ﷺ makan beragam jenis makanan, tetapi tidak terlalu banyak pula jenisnya, biasanya hanya 2-3 jenis saja.
  3. Nabi ﷺ tidak makan dengan porsi yang teramat besar, namun secukupnya.

Budaya makan Nabi ﷺ adalah selalu memenuhi kebutuhan gizi:

  1. Karbohidrat = roti;
  2. Protein = daging;
  3. Vitamin = buah;
  4. Gula energi cepat = buah dan madu;
  5. Serat = buah;
  6. Mineral kompleks = buah, madu, dan minyak zaitun;
  7. Bumbu makanan = cuka;
  8. Nabi ﷺ juga makan manisan, tetapi porsinya tidak besar, serta peruntukan aktivitasnya tinggi.

Gaya sahur Nabi ﷺ

Terkadang, dia makan sahur bersama beberapa temannya. Diriwayatkan secara shahih bahwa dia dan Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu makan sahur. Setelah selesai, beliau akan salat Subuh. Waktu antara sahur dan salatnya hanya cukup untuk membaca lima puluh ayat Al-Quran. Nabi ﷺ ketika sahur biasanya memakan kurma, khususnya tamr.

Dari Abu Hurairah semoga Tuhan memberkatimu, Nabi ﷺ berkata,

Keberkahan sahur bagi orang beriman adalah kurma

“Makanan sahur yang paling enak adalah tamr (kurma kering)” (HR. Abu Daud no. 2345, disahkan oleh Al-Albani dalam Shahih Abu Daud)

Ada juga keadaan Nabi Muhammad ﷺ makan sahur, kemudian salat dua rekaat ringan salat sunah, dan menunggu di rumahnya sampai Bilal meminta izin untuk mengumandangkan azan. Kemudian Nabi Muhammad ﷺ meninggalkan rumah istri-istrinya, karena letaknya berdekatan dengan masjid, dan memimpin salat Subuh.

Baca juga: Bagaimana kabar Rasulullah di bulan Ramadhan?

Apa yang dimakan ketika berbuka?

Nabi ﷺ menasihati umatnya untuk berbuka puasa dengan urutan sebagai berikut:

  1. Ruthab (kurma matang berwarna coklat muda masih basah);
  2. Tamar (Kurma matang kering);
  3. Udara.

Hal ini berdasarkan dalil yang sahih, yaitu,

Dia mendengar Anas bin Malik berkata: Rasulullah SAW biasa berbuka puasa dengan kurma segar sebelum dia shalat. Jika tidak ada kurma segar, maka dia kurma, jika tidak hasa, maka segenggam air.

Tsabit Al-Bunani mendengar dari Anas bin Malik semoga Tuhan memberkatimu, ia berkata, “Rasulullah ﷺ berbuka puasa dengan beberapa orang rutab sebelum melakukan salat. Jika tidak ada rutab, maka dengan beberapa Tamar; jika tidak ada, maka dia meminum air tersebut beberapa kali.” (HR. Abu Dawud no. 2356)

Hadits di atas mengandung beberapa hikmah yang berharga, antara lain:

  1. Dianjurkan untuk berbuka puasa dengan rutab (kurma basah); jika tidak ada maka bisa dilakukan dengan tamr (kurma kering); dan jika tidak ada, maka minumlah air putih.
  2. Rasulullah ﷺ berbuka dengan beberapa buah kurma sebelum melaksanakan salat. Hal ini merupakan strategi pengaturan yang sangat teliti, karena puasa itu mengosongkan perut dari makanan sehingga hati tidak mendapatkan suplai makanan dari perut dan tidak dapat mengirimnya ke seluruh sel tubuh. Padahal rasa manis merupakan sesuatu yang sangat cepat meresap dan paling disukai hati, apalagi kalau dalam keadaan basah. Setelah itu, hati pun memproses dan melumatnya serta mengirim zat yang dihasilkannya ke seluruh anggota tubuh dan otak.
  3. Air merupakan pembersih usus manusia dan hal tersebut terjadi secara alami hingga saat ini.

Preferensi kurma dan air

Ibnul Qayyim Tuhan memberkati berikan penjelasan mengenai hadis di atas. Beliau bersabda, “Cara Nabi ﷺ berbuka puasa dengan memakan kurma atau air mengandung hikmah yang sangat mendalam:

  1. Karena saat berpuasa lambung kosong dari makanan apapun, sehingga tidak ada sesuatu yang amat sesuai untuk liver (hati) yang dapat disuplai langsung ke seluruh organ tubuh serta langsung menjadi energi, selain kurma dan air.
  2. Karbohidrat yang ada dalam kurma lebih mudah sampai ke liver dan lebih cocok dengan kondisi organ tersebut.
  3. Terutama sekali kurma masak yang masih segar. Liver akan lebih mudah menerimanya sehingga amat berguna bagi organ ini sekaligus juga dapat langsung diproses menjadi energi.
  4. Kalau tidak ada kurma basah, kurma kering juga enak, karena kandungan gulanya tinggi.
  5. Bila tidak ada juga, cukup beberapa teguk air untuk mendinginkan panasnya lambung akibat puasa sehingga dapat siap menerima makanan sesudah itu.”

Di dalam Thibbun Nabawi, Ibnul Qayyim Tuhan memberkati juga menjelaskan,

Ini adalah bagian dari kesempurnaan belas kasihnya – semoga Tuhan memberkatinya dan memberinya kedamaian – terhadap bangsanya dan nasihatnya. Kurma menguatkan hati dan melembutkan sifat. Mereka adalah salah satu buah yang paling bergizi bagi tubuh, dan memakannya saat perut kosong dapat membunuh cacing. Yaitu buah-buahan, makanan, obat-obatan, dan makanan penutup.

“Inilah salah satu kesempurnaan cinta Nabi ﷺ dan termasuk semangat memberi kebaikan kepada umatnya, karena kurma menguatkan hati dan memperlancar buang air besar, serta termasuk buah yang paling menyehatkan tubuh, dan memakannya dalam keadaan perut kosong bisa membunuh cacing. Jadi, kurma adalah buah, makanan, obat, dan manisan.” (Thibbun Nabawi, hal. 218)[3]

Kedokteran modern membuktikan bahwa kurma mengandung serat dan gula fruktosa yang menjadi sumber energi sekaligus pengatur kadar gula dalam darah. Kurma juga bermanfaat dalam memberikan ledakan energi, tetapi juga terkontrol. Serat dalam kurma cukup untuk menjaga pencernaan bekerja dengan baik di musim Ramadan yang waktu makannya bergeser dari pola harian. Keberadaan mineral dalam kurma berperan penting dalam menjaga kesehatan organ dalam.

Kata-katanya,

Jika dia tidak menemukannya, hendaklah dia berbuka puasa dengan air, itu adalah penyucian

“Jika tidak dapat, maka berbukalah dengan air, karena itu benar-benar air Thahur.”

Menurut Syekh Abdullah Bassam, kata Thahur Di Sini-Tuhan memberkati—yang dimaksud adalah bahwa air itu membersihkan lambung dan usus. Dan hal ini sekarang merupakan fakta ilmiah dalam dunia kedokteran. Sesungguhnya para dokter menganjurkan dan menasihati untuk minum air saat perut kosong, dan mereka mengatakan bahwa air itu membersihkan lambung dan usus serta menyeimbangkan kondisi (tabiat) tubuh manusia.” (Taudhihul Ahkam Syarh Bulughil Maram, 3: 477)[4]

Tamar (kurma kering) untuk sahur dan rutab (kurma basah) untuk berbuka puasa

Dalam riwayat yang disebutkan, terdapat perbedaan jenis kurma yang dikonsumsi Nabi ﷺ saat sahur dan berbuka puasa. Tamar atau kurma kering diutamakan dikonsumsi ketika sahur dan rutab atau kurma basah lebih diutamakan saat berbuka puasa. Salah satu manfaat yang kami catat dari Ustadz Abdurrahman Dani hafizhahullah adalah tamr atau kurma kering memiliki kandungan gula yang lebih tinggi sehingga mampu memberikan energi yang lebih cukup untuk menjalani hari puasa dibandingkan rutab.[5] Adapun rutab disunahkan di waktu berbuka karena sifatnya yang lebih mudah dicerna dan sehingga energinya lebih cepat didistribusikan oleh tubuh.

Kurma kering mengandung kalori gula yang lebih tinggi dibandingkan kurma basah. Selain itu, ia mengandung serat yang lebih tinggi sehingga penyaluran energinya lebih terkontrol untuk diserap tubuh. Sedangkan kurma basah memiliki kadar glukosa tinggi dibanding fruktosa, dimana glukosa lebih cepat bisa digunakan dibandingkan fruktosa. Tuhan memberkati, ini penjelasan dari kalangan ahli kesehatan klasik yang kami selaraskan dengan kedokteran modern.[6]

Makan secukupnya

Salah satu adab makan yang sering terlupa ketika Ramadan adalah makan secukupnya. Beragam menu takjil dari kolak manis sampai risol mayo membuat air liur bergelegak di mulut. Padahal, esensi berpuasa adalah menahan nafsu duniawi. Inilah yang membuat badan menjadi lemah untuk beribadah di bulan Ramadan. Perhatikanlah adab makan Nabi ﷺ berikut,

Bahwa dia tidak mengisi perutnya dengan makanan dan minuman ketika dia makan dan minum, dan hal ini ditunjukkan dengan sabdanya, semoga doa dan damai sejahtera Allah besertanya: Tidak ada manusia yang mengisi bejana yang lebih buruk dari perutnya. Anak Adam menghitung makanan yang menguatkan hatinya, dan jika tidak dapat dihindari, maka sepertiganya untuk makanannya, sepertiganya untuk minumannya, dan sepertiganya lagi untuk dirinya sendiri… Diriwayatkan oleh Ahmad, Al-Tirmidzi, dan Ibnu Majah.

Ia tidak mengisi perutnya dengan makanan dan minuman ketika makan dan minum, dan ini ditunjukkan oleh sabda Nabi ﷺ, “Tidak ada manusia yang mengisi bejana lebih buruk daripada perutnya. Beberapa suapan sudah cukup bagi anak Adam untuk membuatnya tetap tegak. Jika ia harus makan lebih banyak, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga untuk napasnya…” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Diriwayatkan bahwa beliau ﷺ biasa makan sahur bersama salah satu istrinya, dengan sedikit makanan, mungkin beberapa kurma atau lebih, disertai dengan air. Bahkan ketika berbuka puasa, ia hanya memakan kurma, dan hanya memakan sebagian dari makanan yang ada. Ia tidak membatasi dirinya secara mutlak, terkadang ia makan makanan enak seperti daging pendamping dan makan yang manis-manis.[7] Namun, Nabi ﷺ tidak mengonsumsinya dalam jumlah berlebih, bahkan jarang sekali beliau mencapai kenyang.

Baca juga: Apa Amalan Terbaik di Bulan Ramadhan?

***

Penulis: Glenshah Fauzi

Artikel Muslim.or.id

Referensi:

[1] https://www.islamweb.net/ar/fatwa/133457/%D9%87%D8%AF%D9%8A-%D8%B1%D8%B3%D9%88%D9%84-%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87-%D8%B5%D9%84%D9% 89-%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87-%D8%B9%D9%84%D9%8A%D9%87-%D9%88%D8% B3%D9%84%D9%85-%D9%81%D9%8A-%D8%A7%D9%84%D8%BA%D8%B0%D8%A7%D8%A1

[2] Inilah sebagian Zaadul Ma’ad yang dikumpulkan ke dalam Kitab Thibbun Nabawi Ibnul Qayyim rahimahullah.

[3] https://shamela.ws/book/23649/216

[4] https://shamela.ws/book/13604/1648#p1

[5] https://youtu.be/ch-9w9KQNH4?si=np5agAVH_OpxtTk5

[6] https://hellosehat.com/nutrisi/fakta-gizi/nutrisi-kurma-kering-vs-kurma-segar/

[7] Syaidul Khatir TIDAK. 787.



Berita Terkini

Berita Terbaru

Daftar Terbaru

News

Jasa Impor China

Berita Terbaru

Flash News

RuangJP

Pemilu

Berita Terkini

Prediksi Bola

Technology

Otomotif

Berita Terbaru

Teknologi

Berita terkini

Berita Pemilu

Berita Teknologi

Hiburan

master Slote

Berita Terkini

Pendidikan

Resep

Jasa Backlink

Slot gacor terpercaya

Anime Batch