Ketika Allah Memberi Kesempatan Kedua

Ada pepatah yang mengatakan, “Kesempatan tidak datang dua kali.” Namun dalam pandangan Islam, kita belajar bahwa Allah tidak menutup pintu bagi mereka yang ingin memperbaiki diri. Kesempatan kedua bukanlah tentang mengulang masa lalu, tetapi tentang membuka lembaran baru dengan belajar dari kesalahan-kesalahan yang telah berlalu.

Rahmat Allah: Ruang untuk kesempatan kedua

Dalam hidup, manusia tidak lepas dari kesalahan dan dosa. Namun, kasih sayang Tuhan jauh melebihi murka-Nya. Allah Kisah dikatakan,

Katakanlah, “Wahai hamba-hamba-Ku yang berbuat maksiat terhadap dirinya sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni segala dosa.” Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang

“Katakanlah, hai hamba-hamba-Ku yang mendurhaka terhadap dirinya sendiri, jangan berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni segala dosa. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun dan Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar : 53)

Ayat ini adalah bukti bahwa kesempatan kedua selalu terbuka bagi mereka yang mau kembali. Selama napas masih berhembus, pintu tobat belum tertutup. Kesempatan kedua bukan untuk mengulang kesalahan, tetapi untuk menebus dan memperbaikinya.

Semua orang berhak atas kesempatan kedua

Islam mengajarkan keseimbangan antara kasih sayang dan tanggung jawab. Allah Maha Pengampun, namun juga Maha Adil. Kesempatan kedua bukan berarti pembenaran untuk mengulangi dosa, tetapi panggilan untuk berubah.

Rasulullah semoga Allah memberkati dia dan memberinya kedamaian dikatakan,

Seorang mukmin tidak disengat dua kali dari lubang yang sama.

“Tidak pantas bagi seorang mukmin digigit ular dari lubang yang sama dua kali.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Artinya, kesempatan kedua adalah ujian kejujuran niat. Apakah kita sungguh ingin memperbaiki diri, atau sekadar mencari alasan agar terhindar dari celaan manusia atas dosa dan kesalahannya?

Anakmu adalah kesempatan kedua bagimu

Terkadang, kesempatan kedua tidak datang pada diri kita, tetapi melalui generasi setelah kita. Anak adalah cermin masa depan dan panjang tangan dari usaha, pendidikan serta doa kita. Jika masa lalu kita penuh kekurangan, maka anak adalah ladang perbaikan. Melalui mereka, kita bisa menanamkan nilai yang dulu luput kita jalankan.

Anak bukan hanya amanah, tetapi juga anugerah untuk menebus hal-hal yang belum sempat kita benahi. Ia adalah kesempatan kedua yang hidup, yang bisa kita arahkan menuju kebaikan agar tidak mengulang kesalahan yang sama.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dikatakan,

Apabila seseorang meninggal dunia, maka berhentilah amalnya, kecuali tiga hal: sedekah yang terus-menerus, ilmu yang bermanfaat baginya, atau anak shaleh yang mendoakannya.

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputus amalnya kecuali tiga hal: (1) Sedekah Jariyah, (2) Ilmu yang dimanfaatkan, (3) Anak yang shaleh yang selalu mendoakan orang tuanya.” (HR.Muslim)

Dalam proses mendidik dan membesarkan anak-anak, kita bisa meraih tiga jariyah di atas sekaligus. Nafkah adalah sedekah terbaik yang kita berikan kepada mereka, pendidikan adalah ilmu jariyah yang kita tanamkan, dan doa dari anak yang saleh adalah buah dari nafkah halal serta pendidikan yang kita ajarkan.

Mengundang kesempatan kedua, bukti kasih sayang Allah kepada hamba-Nya

Setiap manusia berhak mendapat kesempatan kedua, karena setiap hati berhak disembuhkan oleh harapan. Namun, jangan sia-siakan rahmat itu dengan menunda perubahan. Karena kesempatan kedua adalah bukti bahwa Allah masih mencintai kita, meski kita pernah jauh dari-Nya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dikatakan,

Semua manusia adalah pendosa, dan sebaik-baiknya pendosa adalah mereka yang bertaubat.

“Setiap anak Adam pasti (pernah) melakukan kesalahan dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah orang yang bertaubat.” (HR. Tirmidzi no.2499)

Dalam narasi lain,

Allah lebih ridha dengan taubat hamba-Nya dari pada salah seorang di antara kamu yang menunggangi untanya dan menyesatkannya di padang gurun.

“Sesungguhnya Allah sangat senang dengan taubat hamba-Nya, lebih dari kebahagiaan seseorang di antara kamu yang menemukan untanya yang hilang di negeri yang luas.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kesempatan kedua adalah taufik dari Allah. Gunakan itu untuk tidak mengulangi kesalahan, tapi untuk menulis cerita baru yang penuh halaman bagus.

Apakah masih ada pintu terbuka setelah kesempatan kedua?

Manusia adalah makhluk yang mudah tergelincir. Kita jatuh, terpuruk, dan menyesal. Namun, Allah tidak menilai kita dari berapa kali kita terjatuh, tetapi seberapa tulus kita bangkit dan kembali kepada-Nya. Selama hidup masih berlanjut dan napas masih terhembus, kesempatan itu tetap terbuka.

Islam bukanlah agama yang menutup pintu harapan. Islam adalah agama yang memeluk manusia ketika ia lalai, lalu mengajaknya tumbuh menjadi hamba yang lebih bertakwa. Selama hati masih ingin menyesal, lidah masih ingin memohon ampun, berusahalah menjauh dan tidak mengulanginya, maka Allah tidak akan menolak taubat hamba-Nya selama ia tidak berbuat syirik dan menyekutukan-Nya.

Allah Kisah dikatakan,

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni siapa pun yang mempersekutukan-Nya, namun Dia mengampuni selain itu kepada siapa pun yang Dia kehendaki.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa kemusyrikan, dan Dia mengampuni segala dosa selain (kemusyrikan), bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS.An Nisa’: 48)

Rasulullah semoga Allah memberkati dia dan memberinya kedamaian dikatakan,

Allah menerima taubat hamba selama ia tidak menipu

“Sesungguhnya Allah menerima tobat hamba-Nya selama nyawa (ruh)nya belum sampai di tenggorokan.” (HR. Tirmidzi no. 3537)

Selama kehidupan belum berakhir, selama mata masih bisa meneteskan air penyesalan, selama hati masih bisa berbisik lirih, “Ya Allah, ampuni Aku,” selama itu pula kesempatan terus ada.

Namun, satu hal yang perlu kita renungkan, kesempatan itu tidak selamanya datang dengan bentuk yang sama. Bisa jadi kali ini ia hadir dalam ujian, dalam kehilangan, dalam peringatan, atau bahkan dalam luka yang memaksa kita untuk sadar.

Sebelum ajal itu tiba, gunakan setiap napas untuk memperbaiki diri. Karena selama hidup masih ada, kesempatan tidak berhenti di angka dua, ia terus terbuka bagi hati yang tak lelah kembali kepada sang Pencipta.

Baca juga: Kesempatan Mengetuk Pintu Sang Raja

***

Penulis: Arif Muhammad Nurwijaya

Artikel Muslim.or.id


News
Berita
News Flash
Blog
Technology
Sports
Sport
Football
Tips
Finance
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Kekinian
News
Berita Terkini
Olahraga
Pasang Internet Myrepublic
Jasa Import China
Jasa Import Door to Door

Download Film

Gaming center adalah sebuah tempat atau fasilitas yang menyediakan berbagai perangkat dan layanan untuk bermain video game, baik di PC, konsol, maupun mesin arcade. Gaming center ini bisa dikunjungi oleh siapa saja yang ingin bermain game secara individu atau bersama teman-teman. Beberapa gaming center juga sering digunakan sebagai lokasi turnamen game atau esports.