Pengecualian dalam Kaidah أن Mudmarah Setelah Lam

Adapun maksud Ibnu Hisyam,

مَسْبُوقٍ بِاسْمٍ خَالِصٍ

“Bisa didahului oleh isim murni (isim khalish)ini merupakan batasan untuk mengecualikan isim yang tidak murni, yaitu isim yang mengandung makna fi’il, seperti isim fa’il. Contohnya adalah:

الْمُتَكَلِّمُ فَيَسْتَفِيدُ الطَّالِبُ، هُوَ الْمُحَاضِرُ

“Pembicaranya adalah dosen, sehingga mahasiswa memperoleh manfaat.”

Kata الْمُتَكَلِّمُ merupakan shigoh isim fa’il. Pada isim fa’il tersebut terdapat makna fi’il, dan dia menggantikan fi’il. Kata الْمُتَكَلِّمُ merupakan isim fa’il (kata benda pelaku) yang mengandung makna fi’il (kata kerja) dan menempati kedudukan fi’il tersebut. Hal itu karena ia menjadi silah (penghubung) bagi “al-” (أل). Padahal, asalnya silah itu berbentuk sebuah kalimat. Oleh karena itu, الْمُتَكَلِّمُ berkedudukan seperti يَتَكَلَّمُ (sedang berbicara). Maka perkiraan susunan kalimat tersebut asalnya adalah الَّذِي يَتَكَلَّمُ (orang yang berbicara). Kemudian ketika datang “al-” (أل), kata tersebut diubah menjadi isim fa’il dan sebagai penggati isim fa’il, karena fi’il tidak bisa menjadi silah (kalimat penghubung) bagi alif-lam tersebut. Oleh sebab itu, fi’il  يَسْتَفِيدُ wajib dibaca marfu’ (rafa’), karena dia di-athof-kan kepada isim yang tidak lepas dari makna fi’il (yakni isim fa’il).

Kedua, boleh menampakkan atau menyembunyikan huruf أن apabila أن berada setelah lam al-jarr, kemudian langsung diikuti oleh fi’il mudhari. Hal itu berlaku baik lam tersebut:

Pertama, lam ta’lil, yaitu lam yang menunjukkan makna alasan (karena), yaitu bahwa apa yang datang setelahnya merupakan sebab atau tujuan dari kata yang terletak sebelumnya. Contohnya adalah:

حَضَرْتُ لِأَسْتَفِيدَ

Aku hadir agar memperoleh manfaat.

Kata أستفيدَ adalah fi’il mudhari’ yang manshub karena adanya أن yang disembunyikan (mudmarah) secara boleh (jawazan) setelah lam ta’lil. Maka kalimat aslinya adalah حَضَرْتُ لِأَنْ أَسْتَفِيدَ. Allah Ta’ala berfirman,

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ

Dan Kami menurunkan kepadamu Adz-Dzikr (Al-Qur’an) agar engkau menjelaskan kepada manusia.” (QS. An-Nahl: 44)

Kedua, lam bayan berfungsi untuk menjelaskan akibat (lam al-aqibah), yang juga disebut lam assairurah. Yaitu lam yang menunjukkan bahwa sesuatu yang terjadi setelahnya merupakan akibat atau hasil yang terjadi dari sesuatu sebelumnya. Contohnya adalah firman Allah Ta’ala,

فَالْتَقَطَهُ آلُ فِرْعَوْنَ لِيَكُونَ لَهُمْ عَدُوًّا وَحَزَنًا

Lalu keluarga Fir’aun memungut (Musa) agar dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka.(QS. Al-Qashas: 8)

Huruf lam pada ayat ini bukanlah lam yang menunjukkan sebab (lam at-ta’lil), karena keluarga Fir’aun tidak memungut Nabi Musa dengan tujuan agar ia menjadi musuh dan penyebab kesedihan bagi mereka. Mereka justru memungutnya agar menjadi penyejuk mata bagi mereka. Namun, akibat akhirnya justru ia menjadi musuh dan sumber kesedihan bagi mereka. Maka huruf لِ pada kata لِيَكُونَ tampak seperti lam ta’lil (lam yang berarti “agar/supaya”) maknanya bukan tujuan keluarga Fir’aun, akan tetapi itu adalah lam bayan al-aqibah yang menjadi akibat untuk Fir’aun. Maka pada ayat tersebut huruf أن disembunyikan.

Ketiga, lam tersebut adalah lam tambahan (لَامٌ زَائِدَةٌ), yaitu lam yang terletak setelah fi’il muta’addi (kata kerja transitif / butuh objek). Fungsi lam ini adalah untuk memberikan penegasan (taukid). Contohnya adalah firman Allah Ta’ala,

إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

Sesungguhnya Allah hanya menghendaki untuk menghilangkan dosa (najis) dari kalian, wahai Ahlul Bait, dan menyucikan kalian sesuci-sucinya.(QS. Al-Ahzab: 33)

Kata kerja يُرِيدُ adalah fi’il mudhari muta’addi (memerlukan objek). Objeknya adalah mashdar yang terbentuk dari أن yang muqaddarah (diperkirakan / disembunyikan) secara boleh (جوازًا) setelah lam dan dari fi’il mudhari’ setelahnya. Lam ini merupakan lam tambahan (za’idah) yang berada di antara fi’il dan maf’ul-nya. Oleh karena itu, perkiraan (taqdirnya) ayat tersebut adalah:

إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ إِذْهَابَ الرِّجْسِ عَنْكُمْ

Sesungguhnya Allah hanya menghendaki penghilangan dosa (najis) dari kalian.

Maka kata لِ pada  kata لِيُذْهِبَ disebut oleh ulama Nahwu adalah huruf لام زائدة (lam tambahan) karena fi’il يُرِيدُ sudah merupakan fi’il muta’addi yang langsung membutuhkan maf’ul, maf’ul-nya adalah masdhar muawwal dari أن يُذْهِبَ yang bisa di-takwil atau diubah menjadi masdhar shorih, yaitu إذهاب. Kehadiran lam di sini berfungsi sebagai التوكيد (penegasan). Kata أن يُذْهِبَ tersebut adalah maf’ul bih dari fi’il mudhari mutaaddi يُرِيدُ.

Adapun maksud Ibnu Hisyam dari potongan berikut adalah:

إِلَّا فِي نَحْوِ لِئَلَّا يَعْلَمَ [الحديد: ٢٩]، وَلِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ [النساء: ١٦٥]، فَتُظْهَرُ لَا غَيْرُ

Kecuali pada contoh firman Allah: لِئَلَّا يَعْلَمَ (QS. Al-hadid: 29) dan لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ (QS. An-Nisa’: 165), maka (أن) harus ditampakkan, tidak boleh selain itu.

Contoh La Nafi (penafian),

أَحْضُرُ مُبَكِّرًا لِئَلَّا يَفُوتَنِي الدَّرْسُ

“Aku datang lebih awal agar tidak ketinggalan pelajaran.”

Contohnya dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala berfirman,

لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ

“Agar tidak ada bagi manusia alasan (untuk membantah) Allah.” (QS. An-Nisa’: 165)

Huruf lam ل adalah huruf ta’lil (menyatakan sebab/tujuan) sekaligus huruf jer. Adapun أن adalah huruf mashdariyyah sekaligus huruf yang menashabkan fi’il mudhari’, sedangkan لا adalah huruf penafian.

Hamzah pada kata لِئَلَّا adalah hamzah milik أن. Hanya saja, huruf tersebut ber-idgham (melebur) ke dalam لا, sehingga tidak tampak baik dalam pengucapan maupun dalam tulisan.

Kata يَكُونَ adalah fi’il mudhari’ naqish (كان dan saudara-saudaranya) yang me-rafa’-kan isim dan me-nashab-kan khabar. Fi’il tersebut manshub karena didahului oleh أن. Adapun لِلنَّاسِ berkedudukan sebagai khabar muqaddam (yang didahulukan), sedangkan حُجَّةٌ adalah isim muakhor (yang diakhirkan).

Contoh لا yang berstatus tambahan (زائدة) untuk menguatkan makna yang terdapat pada firman Allah Ta’ala,

لِئَلَّا يَعْلَمَ أَهْلُ الْكِتَابِ أَلَّا يَقْدِرُونَ عَلَى شَيْءٍ مِنْ فَضْلِ اللَّهِ

“(Allah menganugerahkan itu) agar Ahlulkitab (yang tidak beriman kepada Nabi Muhammad) mengetahui bahwa mereka sedikit pun tidak akan mendapat karunia Allah.” (QS. Al-Ḥadid: 29)

Pada ayat ini, لا dipandang sebagai huruf za’idah (tambahan) yang tidak berfungsi sebagai penafian, melainkan sebagai penguat makna (li at-ta’kid). Oleh karena itu, frasa لِئَلَّا يَعْلَمَ dipahami dengan makna لِيَعْلَمَ, yaitu “agar Ahli Kitab mengetahui”. Dengan demikian, keberadaan لا tidak mengubah makna menjadi penafian, tetapi hanya berfungsi sebagai unsur penegas dalam susunan kalimat. Apabila لا dipahami sebagai لا النافية, maka makna ayat akan berubah menjadi “agar Ahli Kitab tidak mengetahui,” yang bertentangan dengan konteks dan maksud ayat. Oleh karena itu, para ulama nahwu menggolongkan لا pada ayat tersebut sebagai لا الزائدة المؤكدة, yaitu huruf tambahan yang berfungsi memperkuat makna tanpa memberikan pengaruh terhadap i’rab.

[Bersambung]

KEMBALI KE BAGIAN 33

***

Penulis: Rafi Nugraha

Artikel Muslim.or.id


PakarPBN

A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.

In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.

The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.

Jasa Backlink

Download Anime Batch