Dalam perjalanan hidup ini, kita berjalan berdampingan dengan manusia yang Allah ciptakan dengan takaran yang berbeda-beda. Ada yang diberi tenaga kuat, ada yang fisiknya lemah. Ada yang luas ilmunya, ada yang masih merangkak dalam belajar. Ada yang lapang waktunya, ada pula yang terbatas oleh amanah keluarga dan pekerjaan. Semua perbedaan itu adalah sunnatullah, tanda kebijaksanaan Allah dalam membagi kemampuan hamba-hamba-Nya.
Namun, salah satu kesalahan yang sering muncul di lingkungan masyarakat, bahkan dalam lingkungan pendidikan dan dakwah, adalah kebiasaan menyalahkan atau meremehkan orang yang sudah berusaha sekuat tenaga, hanya karena hasil yang dicapai tidak sesuai harapan dan ekspektasi.
Terkadang hanya karena hasilnya tak seindah harapan tesebut, kita lupa bahwa di balik upaya itu ada hati yang berjuang, ada niat yang tulus, dan ada batas kemampuan yang hanya Allah Kisah siapa yang mengetahuinya.
Faktanya, Tuhan Kisah sendiri telah menegur sikap seperti itu melalui perkataannya,
Tidak ada jalan melawan orang-orang yang berbuat baik
“Tidak ada cara untuk menyalahkan mereka yang berbuat baik.” (QS.At-Taubah: 91)
Ayat ini mengandung pesan mendalam bahwa selama seseorang mempunyai niat yang baik dan berusaha semaksimal mungkin, maka tidak pantas ada orang yang mencela atau mempermalukannya. Karena dimata Allah yang dinilai bukan besar kecilnya hasil, melainkan keikhlasan niat dan kejujuran usaha.
Tuhan menilai niat dan usaha, bukan hanya hasil
Di mata manusia, terkadang hasil dipandang lebih penting dibandingkan proses. Kita terbiasa menilai dari apa yang terlihat, bukan dari apa yang diperjuangkan. Namun di mata Allah, ukuran keagungan sebuah amal bukan terletak pada besarnya hasil, namun pada keikhlasan niat dan kegigihan dalam berusaha.
Seseorang mungkin hanya mampu memberi sedikit, namun hatinya lebih ikhlas dibandingkan orang yang memberi banyak.
Ada yang ingin membantu lebih jauh, tetapi tubuhnya lemah, waktunya terbatas, atau keluarganya membutuhkan perhatian.
Ada yang tampak tidak banyak berkontribusi, padahal ia tengah berjuang dengan kondisi yang hanya Allah yang mengetahuinya.
Surah At-Taubah ayat 91 turun tentang orang-orang yang ingin berjihad, namun memiliki keterbatasan fisik, kesehatan, atau kondisi lain yang menghalangi. Meski mereka tidak bisa hadir di medan perang, Allah menyebut mereka berbuat baik karena niat mereka kuat, tekad mereka tulus, dan mereka telah melakukan yang mereka mampu.
Ada orang yang tidak hadir dalam kegiatan bukan karena malas, tetapi karena sakit atau beban berat yang ia pikul diam-diam.
Ada yang tidak mampu memberi banyak, bukan karena tidak peduli, tetapi karena ekonomi yang sempit.
Ada pula yang terlihat kurang aktif, padahal mereka sedang berjuang mengurus keluarga, menjaga kepercayaan, atau mengatur waktu yang terbatas.
Karena itu, mencela seseorang tanpa memahami kondisi adalah bentuk ketidakadilan. Sementara menghargai usahanya, meski kecil, adalah bagian dari akhlak mulia yang dicintai Allah Pajak.
Nabi semoga Allah memberkati dia dan memberinya kedamaian dikatakan,
Tuhan tidak melihat foto dan uangmu, tapi Dia melihat hati dan perbuatanmu.
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan hartamu, tetapi Allah melihat hati dan amalmu.” (HR.Muslim)
Dalam narasi lain,
Dia yang tidak berterima kasih kepada manusia tidak berterima kasih kepada Tuhan
“Siapa yang tidak berterima kasih kepada manusia, dia tidak berterima kasih kepada Tuhan.” (HR. Abu Dawud no. 2970 dan Ahmad no. 7926 dengan sanad shahih, lihat As-Sahih TIDAK. 417)
Baca juga: Akhlak yang Mulia, Tanda Kesempurnaan Islam Seorang Muslim
Mengapresiasi itu menumbuhkan empati dan melembutkan hati
Menghargai usaha orang lain adalah akhlak Rasulullah semoga Allah memberkati dia dan memberinya kedamaian. Ia tidak pernah meremehkan kemampuan teman-temannya, meskipun mereka memiliki kekurangan. Sebaliknya, ia memuji niat baik mereka dan memberi semangat.
Dalam perjalanan perang Tabuk, Rasulullah SAW semoga Allah memberkati dia dan memberinya kedamaian melihat para sahabat sudah berjalan jauh, sementara Abu Dzar tertinggal. Beliau tidak mencela ketertinggalan itu, justru bersabda dalam bentuk apresiasi,
Semoga Allah merahmati Abu Dzar, dia berjalan sendirian, mati sendirian, dan dibangkitkan sendirian.
“Semoga Tuhan mengampuni Abu Dzar! Dia berjalan sendirian, dia mati sendirian, dan dia akan dibangkitkan sendirian.” (HR. Al-Hakim dan Adz-Dzahabi in Takhrij Siyar A’lam al-Nubala’, 2: 56)
Sikap ini sangat penting di dunia modern:
Dalam organisasi dakwah, apresiasi dapat memperkuat ukhuwah dan meningkatkan semangat.
Dalam keluarga, penghargaan membuat anggota merasa dihargai dan dicintai.
Dalam pekerjaan, pengakuan terhadap usaha kecil sekalipun mampu meningkatkan loyalitas dan kualitas kerja.
Sebaliknya, kritik yang tidak pada tempatnya, apalagi meremehkan, tentu dapat mematikan semangat, memicu perpecahan, dan membuat seseorang enggan berusaha kembali.
Membedakan antara evaluasi dan menghakimi
Perlu dipahami bahwa menghargai usaha bukan berarti menutup pintu evaluasi. Dakwah, pekerjaan, dan kegiatan apa pun tetap memerlukan perbaikan. Namun perbedaannya adalah:
Evaluasi berfokus pada proses dan solusi, disampaikan dengan cara yang lembut dan adil. Sedangkan menghakimi dan menyalahkan berfokus pada individu, disampaikan dengan emosi atau merendahkan.
Allah tidak menyukai orang yang mencari-cari kesalahan dalam diri orang yang sudah berusaha dengan baik. Justru Allah memerintahkan kita untuk melihat kebaikan yang telah dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap jerih payah mereka, sebagaimana kaidah dalam Al-Quran,
Tidak ada jalan melawan orang-orang yang berbuat baik
“Tidak ada cara untuk menyalahkan mereka yang berbuat baik.” (QS.At-Taubah: 91)
Memberi teladan untuk perbaikan
Dalam Islam, memperbaiki suatu pekerjaan bukan hanya dengan memberi arahan, tetapi dengan memberikan contoh nyata tentang bagaimana pekerjaan itu seharusnya dilakukan. Ketika seseorang melihat teladan langsung, cara bekerja yang rapi, sikap yang amanah, atau pelayanan yang penuh adab, maka ia lebih mudah memahami dan meniru.
Rasulullah semoga Allah memberkati dia dan memberinya kedamaian dirinya mencontohkan hal ini. Beliau tidak hanya memerintahkan para sahabat untuk berbuat kebaikan, namun menunjukkan kebaikan itu dalam setiap amalnya.
Nabi semoga Allah memberkati dia dan memberinya kedamaian dikatakan,
Allah senang jika salah seorang di antara kalian mengerjakan suatu pekerjaan, ia mengerjakannya dengan baik.
“Sesungguhnya Allah mencintai jika salah satu di antara kalian melakukan sebuah amalan (pekerjaan), lalu menyempurnakannya.” (HR. Abu Ya’la dan At-Thabari)
Oleh karena itu, jika kita ingin pekerjaan dalam keluarga, lembaga, atau komunitas menjadi lebih baik, mulailah dengan memperlihatkan contoh nyata. Tunjukkan bagaimana menyelesaikan tugas dengan teliti, bagaimana menjaga amanah waktu, bagaimana bekerja tanpa mengeluh, atau bagaimana melayani dengan hati.
Teladan seperti ini tidak hanya mengajarkan, tetapi juga menggerakkan.
Insya Allah Kisah lembutkan hati kita untuk saling menghargai, saling meneladani, dan menjadikan segala upaya sebagai jalan kebaikan yang berkah.
Baca juga: Kebenaran dari Tawadu adalah melihat orang lain selalu lebih baik dari kita
***
Penulis: Arif Muhammad Nurwijaya
Artikel Muslim.or.id
Referensi:
Itu adalah gaya hidup, karya Syekh Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil.
News
Berita Teknologi
Berita Olahraga
Sports news
sports
Motivation
football prediction
technology
Berita Technologi
Berita Terkini
Tempat Wisata
News Flash
Football
Gaming
Game News
Gamers
Jasa Artikel
Jasa Backlink
Agen234
Agen234
Agen234
Resep
Download Film
A gaming center is a dedicated space where people come together to play video games, whether on PCs, consoles, or arcade machines. These centers can offer a range of services, from casual gaming sessions to competitive tournaments.