Terkait tadabbur dan tafsir surah An-Naba, kita sekarang memasuki bagian yang kedua, yaitu tentang perenungan adanya alam semesta yang ada di hadapan kita, yang bermula dari ketiadaan, menjadi bukti bahwa Allah mampu membangkitkan segala sesuatu yang dulunya hidup lalu mengalami kematian.
Hal ini menjadi bantahan telak bagi kaum musyrikin yang ragu, “Apakah benar Allah bisa menghidupkan saya lagi setelah saya mati dan menjadi tulang belulang?”
Sehubungan dengan rangkaian ayat yang akan kita renungkan yaitu ayat keenam sampai keenam belas, Syekh Muhammad Ali Ash-Shabuni memberikan wajar yang luar biasa indahnya. Dia menulis,
Kemudian Allah SWT menunjuk dalil-dalil yang menunjukkan kekuasaan-Nya Yang Maha Kuasa untuk menguatkan dalil-dalil terhadap orang-orang kafir mengenai apa yang mereka ingkari mengenai masalah kebangkitan, seolah-olah Dia berfirman: Allah yang mampu menciptakan makhluk-makhluk besar itu, mampu menghidupkan kembali manusia setelah matinya.
“Allah Ta’ala memberikan tanda yang menunjukkan kekuasaannya. Beri sinyal ini sebagai argumen kepada orang-orang kafir yang mengingkari adanya hari kiamat yaitu hari kiamat. Seolah-olah dikatakan kepada mereka, ‘Bahwa Tuhan yang mampu menciptakan makhluk yang luar biasa ini dari ketiadaan, juga mampu menghidupkan kembali manusia setelah mereka mati’.” (Shofwatut Tafasir, 3: 483)
Ibnu Juzay Tuhan memberkati di dalam At-Tashil menulis,
Seolah-olah beliau mengatakan: Tuhan yang mampu menciptakan makhluk-makhluk besar ini, mampu menghidupkan kembali manusia setelah kematiannya, dan boleh jadi beliau menyebutkan hal tersebut sebagai dalil monoteisme karena yang menciptakan makhluk-makhluk tersebut hanyalah Tuhan saja, tidak ada sekutunya.
“Seakan-akan Allah berkata, “Bahwa Tuhan yang mampu menciptakan makhluk-makhluk yang luar biasa ini, pastinya juga mampu untuk menghidupkan manusia setelah mereka wafat”. Ayat ini juga menjadi bukti atas tauhid, dikarenakan Zat yang menciptakan semua makhluk ini adalah Tuhan satu, tidak ada kesyirikan baginya.” (At-Tashil li ‘Ulumit Tanzil, 2: 444)
Mari kita renungi segala makhluk Allah yang luar biasa ini, agar semakin kokoh keyakinan kita tentang adanya hari kiamat.
Allah Ta’ala dikatakan,
Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai tempat lahirnya?
“Bukankah Kami telah menjadikan bumi luas?” (QS.An-Naba’ [78]: 6)
Bumi Allah jadikan hamparan, bahkan dijadikan nyaman seperti kasur atau ranjang agar manusia bisa menetap di atas bumi, bisa hidup disana, serta Allah berikan kemudahan untuk ditanami berbagai macam tanaman. (At-Tashil li ‘Ulumit Tanzil, 2: 444; Shofwatut Tafasir, 3: 483)
Allah Ta’ala dikatakan,
Dan gunung-gunung adalah pasaknya
“Dan gunung-gunung sebagai pasak?” (QS. An-Naba’ [78]: 7)
Allah serupakan gunung sebagai pasak dikarenakan dengan gunung-gunung tersebut, bumi menjadi stabil dan tidak bergoyang kesana kemari, tidak pula terjadi gempa yang terjadi setiap hari yang akan menghancurkan kehidupan manusia. (Taishir Karimir Rahman, hal. 906)
Allah Ta’ala dikatakan,
Dan Kami menciptakan kamu berpasangan
“Kami menciptakan kamu berpasang-pasangan.” (QS. An-Naba’ [78]: 8)
Allah menjadikan kehidupan manusia berpasangan laki-laki dan perempuan, agar terlaksana pernikahan. Dengan demikian, manusia memiliki keturunan dan kehidupan di muka bumi tidak terputus. Allah ciptakan pasangan dari masing-masing jenisnya, bukan jenis yang lain, agar seseorang bisa mendapatkan sakinah, mawaddahdan berkah. (Taishir Karimir Rahman, hal. 906; Shofwatut Tafasir, 3: 483)
Baca juga: Diantara istilah-istilah yang perlu diketahui dalam mempelajari tafsir Al-Qur’an
Allah Ta’ala dikatakan,
Dan Kami jadikan tidurmu istirahat
“Kami menjadikan tidurmu untuk beristirahat.” (QS. An-Naba’ [78]: 9)
Allah menjadikan tidur sebagai waktu istirahatnya badan, memutus kesibukan mencari penghidupan di siang harinya. Allah jadikan rasa ngantuk dan tidur bagi manusia sebagai nikmat, agar manusia bisa berhenti sejenak dari kegiatan yang senantiasa menuntut gerakan badan; yang jika tidak dihentikan, akan menimbulkan bahaya bagi manusia. (Taishir Karimir Rahman, hal. 906; Shofwatut Tafasir, 3: 483)
Allah Ta’ala dikatakan,
Dan Kami jadikan malam sebagai penutup
“Kami menjadikan malam sebagai pakaian.” (QS.An-Naba’ [78]: 10)
Malam diumpamakan seperti pakaian, karena malam menutup muka bumi dengan kegelapan seperti pakaian menutup anggota tubuh. Selain itu juga karena kegelapan malam menutupi pandangan mata. (Shofwatut Tafasir, 3: 483; At-Tashil li ‘Ulumit Tanzil, 2: 445)
Allah Ta’ala dikatakan,
Dan Kami jadikan hari itu sebagai penghidupan
“Kami memanfaatkan hari ini untuk mencari nafkah.” (QS.An-Naba’ [78]: 11)
Siang dijadikan waktu untuk bekerja, menggunakan potensi raga dan pikiran untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Allah menjadikan adanya siang dan malam agar hidup manusia teratur, ada waktu bekerja dan ada waktu istirahat. Seandainya Allah membuat semua waktu sebagai siang, manusia pasti akan binasa karena kelelahan tidak bisa istirahat. Demikian pula, jika Allah membuat semua waktu adalah malam, maka manusia akan kesulitan dalam bekerja dan memenuhi kebutuhan hidupnya.
Allah Ta’ala dikatakan,
Dan Kami bangun di atasmu tujuh bangunan yang kokoh.
“Kami bangun tujuh firma (surga) di atasmu.” (QS.An-Naba’ [78]: 12)
Allah membangun tujuh lapis langit di atas manusia. Tujuh lapis langit dengan penciptaan dari awal yang sempurna, dengan pengaturan yang tidak pernah salah, serta tidak rusak meskipun telah berlalu masa jutaan tahun lamanya. Langit Allah buat seperti atap bagi manusia, yang melindungi mereka dari berbagai kejadian berbahaya di luar angkasa yang bisa saja membinasakan mereka. (Shofwatut Tafasir, 3: 483)
Allah Ta’ala dikatakan,
Dan Kami jadikan pelita yang bercahaya
“Kami membuat lampu yang terang (matahari).” (QS.An-Naba’ [78]: 13)
Allah menjadikan di langit adanya matahari yang bersinar menerangi bumi. Sinarnya menerangi dan memberikan kehangatan bagi penduduk bumi. Panasnya sangat cocok untuk kehidupan bumi, serta stabil dalam waktu yang panjang. Siapa yang bisa menyalakan matahari dengan suhu yang pas itu untuk kehidupan bumi? Tentu hanya Allah yang mampu.
Allah Ta’ala dikatakan,
Dan Kami turunkan dari alat pemeras air yang melimpah.
“Kami turunkan dari awan air hujan yang turun deras.” (QS.An-Naba’ [78]: 14)
Allah menurunkan hujan dari awan. Awan mendung disebut dengan al-mu’shirot, yang artinya perasan, karena awan seakan diperas sehingga turunlan hujan, seperti seseorang memeras batang tebu kemudian turunlah air tebu karena diperas. (At-Tashil li ‘Ulumit Tanzil, 2: 445)
Allah Ta’ala dikatakan,
untuk menghasilkan cinta dan tanaman
“Agar Kami menumbuhkan dengannya biji-bijian, tanam-tanaman.” (QS. An-Naba’ [78]: 15)
Allah mengeluarkan dengan satu jenis air hujan yang sama, berbagai macam biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan, sebagai makanan bagi manusia dan hewan-hewan, suatu hal yang sangat luar biasa. Allah sebutkan biji-bijian dahulu (seperti beras, jagung, gandum, dan semisalnya) karena kebutuhan manusia atas biji-bijian lebih mendesakkarena itu secara umum merupakan makanan pokok bagi manusia.
Allah Ta’ala dikatakan,
Dan pipi gila
“Dan kebun-kebun yang rindang.” (QS. An-Naba’ [78]: 16)
Allah juga menumbuhkan berbagai macam tanaman dengan barbagai fungsinya. Tanaman yang memiliki batang keras digunakan untuk bahan pembuat rumah; tanaman yang harum digunakan untuk minyak wangi; tanaman yang rindang digunakan untuk berteduh, sehingga semuanya bermanfaat untuk manusia.
Demikianlah tafsir sederhana yang dapat kami sampaikan kepada para pembaca. Nantikan rangkaian tafsir selanjutnya, jazakumullahu khairan.
[Bersambung]
KEMBALI KE BAGIAN 1
***
Penulis: Dany Indra Permana
Artikel Muslim.or.id
Daftar Pustaka
Abu Hayyan, Muhammad bin Yusuf. (2000). Al-Bahru Al-Muhith (Vols. 1-10). Beirut: Darul Fikr.
Alusi, Syhabuddin Mahmud. (1994). Tafsir Ruhul Ma’ani (Vols. 1-15). Beirut: Darul Kutub Ilmiyyah.
Baghawi, Abu Muhammad Al-Hasan bin Mas’ud. (1999). Ma’alim At-Tanzil fi Tafsir Al-Qur’an (Vols. 1-5). Beirut: Dar Ihya At-Turats.
Ibnu Juzay, Abul Qasim Muhammad bin Ahmad. (1992). At-Tashil li ‘Ulumit Tanzil (Jilid 1-2). Beirut: Masyarakat Darul Arqam.
Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. (2009). Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim (Vols. 1-7). Arab Saudi: Dar Ibnul Jauzi.
Majma’ Malik Fahd. (2009). At-Rakyat Al-Muyassar.
Mawardi, Ali bin Muhammad. (1999). A-Chrun (Jilid 1-6). Beirut: Dar All-Cutub All-Ilmiyah.
Nasafi, Abdullah bin Ahmad bin Mahmud. (1998). Madariku At-Tanzilal Nyata Melanggar Aqaiiku Att TI lihat (Vols. 1-3). Beirut: Dar Al-Kalam At-Thayyib.
Sa’di, Abdurrahman. (2000). Taisir Al-Karimi Ar-Rahman fi Tafsir Kalami Al-Mannan. Beirut: Muassasah Ar-Risalah.
Shobuni, Muhammad Ali. (1997). Shofwatu At-Tafasir (Jilid 1-3). Kairo: Dar Ash-Shobuni.
Zuhaili, Wahbah. (1991). Tafsir Al-Munir dalam Al-Aqidah wa Asy-Syariah wa Al-Manhaj (Vols. 1-30). Damaskus: Darul Fikr.
News
Berita Teknologi
Berita Olahraga
Sports news
sports
Motivation
football prediction
technology
Berita Technologi
Berita Terkini
Tempat Wisata
News Flash
Football
Gaming
Game News
Gamers
Jasa Artikel
Jasa Backlink
Agen234
Agen234
Agen234
Resep
Download Film
A gaming center is a dedicated space where people come together to play video games, whether on PCs, consoles, or arcade machines. These centers can offer a range of services, from casual gaming sessions to competitive tournaments.