Dalam renungan ayat sebelumnya dalam surat An-Naziat, Allah menceritakan kisah Nabi Musa dan Fir’aun serta bagaimana akibat akhir dari perbuatan buruk Fir’aun. Ini sebagai hiburan bagi Baginda Nabi Muhammad SAW semoga Allah memberkati dia dan memberinya kedamaian bahwa nantipun kaumnya yang memusuhi Nabi dan tidak bertobat, mereka akan mendapatkan kesudahan yang sama seperti Fir’aun.
Kemudian pada ayat setelahnya, Allah kembali memberikan peringatan bagi kaum musyrikin Quraisy yang menentang Nabi, bahwa Allah mampu mendatangkan kiamat, dengan bukti-bukti Allah mampu menciptakan berbagai hal luar biasa di alam semesta ini.
Hamka menyebutkan sebuah wajar (keterkaitan antara ayat) menarik antara ayat ini dan sebelumnya, “Disebutkan tentang cerita Nabi Musa menghadapi Fir’aun serta bagaimana akhir hayat Fir’aun yang tenggelam di lautan Qulzum. Lalu di penutup dikatakan bahwa kejadian itu adalah suatu ibarat untuk perbandingan bagi manusia. Seberapa tinggipun pangkat, kekayaan, luasnya kekuasaan, dan kerajaan, manusia tetaplah manusia yang tidak ada artinya dibanding kebesaran alam ini. Manusia hidup singkat, di bawah 100 tahun lalu mati, adapun alam semesta tetap dalam kebesarannya, dan hanya Allah yang menciptakan itu semua.” (Tafsir Hamka, hal. 7879)
Allah Subhanahu Ta’ala dikatakan,
Apakah ciptaanmu lebih kuat dari langit dengan strukturnya?
“Apakah penciptaan kamu yang lebih hebat ataukah langit yang telah dibangun-Nya?” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 27)
Dalam ayat ini, Allah menggunakan kalimat tanya, bukan untuk bertanya, namun untuk takri’ (celaan) dan taubikh (mengecam) kaum musyrikin. Dengan nada mengancam, dapat kita rasakan betapa mengerikannya ayat ini, “Wahai sekalian Quraisy, apakah kalian lebih sulit untuk Allah ciptakan dibandingkan dengan langit yang begitu luas dan agung ini?”
Langit yang begitu luas ini mudah Allah ciptakan, apalagi sekedar menciptakan kalian kembali setelah mematikan kalian, hal itu tentu jauh lebih mudah, maka mengapa kalian masih mengingkari hari kiamat?
Perlu diingatkan kembali, jika kita menggunakan logika perbandingan dasar manusia, melihat langit yang sangat luas dengan berbagai isinya, dibandingkan dengan manusia yang sangat kecil dan lemah, tentu akan kita katakan bahwa menciptakan langit tentu lebih “sulit”. Tentu ini hanya perbandingan dasar karena Allah menggunakan “‘adatul basyariyah” atau pernyataan yang biasa dipakai dan dapat dimengerti manusia, untuk mendekatkan pemahaman. Namun di samping itu semua, secara hakikat, segala penciptaan makhluk adalah mudah bagi Allah, tanpa ada kesulitan apapun.
Lafadz “dan memberi” pada kalimat yang dibaca dengan kekuatanyaitu dibaca terpisah dengan cara berhenti dulu sejenak tanpa mengambil nafas. Karena potongan ayat ini dimaknai isti’naf, yaitu kalimat baru yang dimulai dari awal, tujuannya untuk menjelaskan agungnya bangunan langit yang Allah ciptakan dengan kekuatannya.
Allah Subhanahu Ta’ala dikatakan,
Dia menaikkan ketebalannya dan meratakannya
“Dia telah meninggikan bangunannya, lalu menyempurnakannya.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 28)
Allah meninggikan langit dan segala isinya, meninggikan atap langit untuk kita, dan menyempurnakannya dari segala sisi tanpa ada kekurangan dari sisi manapun.
Ibnu Katsir Tuhan memberkati menjelaskan bahwa “Allah meninggikan bangunan langit, melebarkan sudut-sudutnya, menyamakan sudut-sudutnya, dan menghiasinya dengan gugusan bintang di malam yang gelap.”
Allah Subhanahu Ta’ala dikatakan,
Dan Dia menutupi malamnya dan keluar pada pagi harinya.
“Dia menjadikan malam (gelap) dan menjadikan siang (terang).” (QS.An-Nāzi’āt [79]: 29)
Tuhan menjadikan malam gelap gulita dan siang terang benderang.
Hamka menjelaskan bahwa bumi berputar dengan putaran yang tetap mengelilingi matahari dalam garis edar yang stabil. Oleh karena itu, muncul siang dan juga malam dengan keteraturan yang indah selama jutaan tahun.
Dengan keteraturan ini pula, kita menjadi mudah untuk melakukan ibadah salat. Waktu berjalan perlahan dengan teratur mulai dari terbit fajar untuk melakukan salat Subuh, lalu naik perlahan untuk salat Dhuha, kemudian sampai tengah langit sehingga kita bisa melakukan salat Zuhur, dan seterusnya. Allah buat stabil dan perlahan agar kita bisa beribadah. Tidak terbayang betapa sulitnya ibadah jika perjalanan waktu sangatlah cepat dan tidak teratur bagi manusia.
Allah Subhanahu Ta’ala dikatakan,
Dan setelah itu, Dia membentangkan bumi.
“Setelah itu, Dia membentangkan bumi (untuk dihuni).” (QS.An-Nāzi’āt [79]: 30)
Setelah menciptakan langit, Allah menciptakan bumi serta membuatnya terhampar agar manusia dapat hidup dan memiliki penghidupan yang mudah di atasnya.
Meskipun disebutkan hamparan, namun ini tidak menafikan hasil-hasil penelitian dan pengamatan yang memperlihatkan bumi berbentuk bola atau bulat. Oleh karena itu, disebutkan dalam Tafsir Al-Kabir bahwa pada awalnya, bumi adalah suatu bola yang terkungkung, kemudian Allah lebarkan dan hamparkan bumi tersebut. Serta makna dari “Dahahaha” atau “menyebar” bukan sekadar terbentang (seperti karpet datar itu homogen), akan tetapi suatu hamparan (tidak homogen) yang mampu untuk menumbuhkan berbagai tumbuhan dan pepohonan, di sana terdapat bukit dan lembah, lautan dan daratan, serta selainnya.
Pendapat lain mengatakan bahwa bumi diciptakan sebelum langit, akan tetapi dibuat kosong pada awalnya. Kemudian setelah langit tercipta, baru Allah keluarkan air dan kehidupan di muka bumi.
Allah Subhanahu Ta’ala dikatakan,
Dia mengeluarkan darinya air dan padang rumputnya.
“Darinya (bumi) Dia mengeluarkan air dan (menyediakan) tempat penggembalaan.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 31)
Allah keluarkan mata air yang segar dari dalam bumi, kemudian menjadikannya sungai yang mengalir, setelah itu menumbuhkan dengan aliran sungai tersebut sebagai tumbuhan dan padang gembalaan untuk pakan hewan-hewan ternak.
Allah Subhanahu Ta’ala dikatakan,
Dan gunung-gunung yang Dia dirikan-Nya
“Gunung-gunung Dia pancangkan dengan kokoh.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 32)
Gunung-gunung menjulang di atas permukaan bumi, dijadikan sebagai pasak agar bumi tidak bergetar hebat dan membuat bumi nyaman ditinggali oleh manusia dan hewan-hewan.
Selain itu, gunung juga menjadi pagar alami yang berfungsi sebagai pemecah angin, menjaga manusia dari angin yang terlalu besar yang dapat menerbangkan mereka dan tempat tinggalnya.
Penyebutan gunung-gunung setelah penyebutan tentang air menjelaskan kepada kita bahwa ada hubungan erat antara keduanya. Ketika air dari lautan menguap karena panas, kemudian berkumpul menjadi awan hitam lalu hujan, pepohonan yang berada di pegunungan menahan air agar tidak langsung tumpah ruah seperti banjir bandang yang dapat menghancurkan manusia. Akan tetapi, Allah buat air menyerap perlahan ke muka bumi, terserap oleh akar-akar pohon raksasa dan lapisan tanah yang banyak jumlahnya, kemudian mengeluarkannya perlahan-lahan pada sungai-sungai yang mengalir teratur dari pegunungan menuju lautan. Semua hal ini adalah untuk kemasalahatan manusia.
Allah Subhanahu Ta’ala dikatakan,
Rezeki bagimu dan ternakmu
“(Semua itu disediakan) untuk kesenanganmu dan hewan ternakmu.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 33)
Allah lakukan semua yang telah disebutkan dalam ayat sebelumnya untuk manfaat dan masalat manusia serta hewan-hewan.
Coba pikirkan, segala sesuatu yang keluar dari muka bumi ini adalah untuk kepentingan manusia dan hewan ternaknya. Mulai dari pohon, biji-bijian yang menjadi makanan pokok, buah-buahan sebagai pelengkap, kapas dan wol sebagai pakaian yang merawat tubuh, hingga garam yang berasal dari air laut, serta api yang bahan bakarnya adalah pohon, baik yang masih hidup maupun yang telah lama mati.
[Bersambung]
KEMBALI KE BAGIAN 3
***
Penulis: Dany Indra Permana
Artikel Muslim.or.id
Catatan kaki:
Catatan mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.