Bekal Menjadi Pemimpin Terbaik (Bag. 7): Fokus Bekerja dengan Baik

Resep kepemimpinan hebat adalah fokus bekerja dengan baik

Jangan sampai ada sesuatu yang menyibukkanmu di luar urusan kepemimpinan. Karena seorang pemimpin yang fokus, mengutamakan amanah, dan menunaikan kewajibannya akan mendapatkan:

  1. Tambahan nikmat dari Allah ﷻ.
  2. Memperoleh sebutan serta reputasi yang baik dalam tugas dan kepemimpinannya.
  3. Rasa cinta rakyat.
  4. Pertolongan untuk mewujudkan kebaikan, sehingga berbagai kebaikan dan keberkahan akan terus datang.
  5. Pembangunan dan kemakmuran akan tersebar luas.
  6. Kesuburan dan kemakmuran akan tampak di berbagai wilayah.
  7. Pemasukan kutipan publik dan pendapatan negeri akan meningkat.
  8. Harta kekayaan pemimpin pun akan bertambah banyak.
  9. Konsekuensi dari kemakmuran adalah pemimpin akan lebih mampu melatih militer.
  10. Dapat menyenangkan rakyat melalui curahan hadiah.
  11. Kepemimpinan politik pun akan dipuji.
  12. Keadilanmu akan diakui oleh lawan.
  13. Dalam segala urusan engkau memiliki keadilan, sarana, kekuatan, dan bekal.

Maka berlombalah dalam hal tersebut dan jangan utamakan sesuatu yang lain atasnya, niscaya akhir kekuasaanmu akan terpuji, jika Allah ﷻ menghendaki.

Pantau terus para pejabat daerah

Thahir bin Al-Husain berwasiat,

واجعل في كل كورة من عملك أمينًا يخبرك خبر عمالك ويكتب إليك بسيرهم وأعمالهم، حتى كأنك مع كل عامل في عمله معاينًا لأموره كلِّها

Tunjuklah seorang kepercayaan resmi di setiap daerah di bawah wilayahmu, yang akan melaporkan kepadamu kabar-kabar tentang para pejabatmu serta mencatatkan untukmu rekam jejak dan kegiatan mereka. Hingga seakan-akan engkau seperti memiliki kontak pribadi dengan setiap pejabat di wilayahmu dan mengamati secara langsung urusan mereka semuanya.

Buat perencanaan matang, jangan tergesa-gesa, dan beristikharah

Bagian wasiat ini asalnya adalah lanjutan dari konteks pembicaraan memperhatikan daerah di bawah wilayah. Namun, pembahasan di sini lebih banyak mengandung pesan untuk merencanakan dengan baik segala tindakan. Dalam perencanaan pun perlu pertimbangan ahli berbasis keilmuan maupun yang tahu hakikat permasalahan. Setelah itu, tidak lupa untuk memperbanyak istikharah.

Thahir melanjutkan wasiatnya:

Jika engkau ingin memerintahkan mereka melakukan sesuatu, maka pertimbangkan apa akibat yang engkau kehendaki darinya. Jika engkau pandang hasilnya akan selamat dan sehat, dan engkau mengharapkan umpan balik yang baik darinya dan menguntungkan, maka teruskanlah perintah itu. Namun, jika tidak, tahan diri dari tergesa-gesa dan berkonsultasilah dengan orang ahli yang memiliki wawasan dan paham tentang hal itu.

Persiapkan segala hal untuk langkah taktis tersebut dengan baik. Sebab, seringkali seseorang melihat urusan yang ingin diselesaikannya, lalu berharap memperolehnya seperti apa yang dia bayangkan. Namun, hal itu membuatnya lupa dan takjub. Jika dia tidak memperhatikan akibatnya, itu justru akan mencelakakannya, dan urusannya pun tidak tuntas.

Tetapkan dulu keyakinan diri atas segala apa yang engkau inginkan, dan laksanakanlah setelah memohon pertolongan kekuatan kepada Allah ﷻ. Seringlah memohon petunjuk (istikharah) kepada Allah ﷻ dalam segala urusanmu.

Pesan yang disampaikan Thahir ini mendorong pemimpin untuk menghasilkan evidence-based policy atau kebijakan berbasis data pembuktian. Dalam dunia kebijakan publik, sebuah kebijakan yang baik akan datang dari proses penalaran data yang menghasilkan asumsi dan strategi. Kebijakan yang buruk dan pemerintahan yang primitif akan bergerak atas dasar insting pemimpin. Hal ini sering terjadi di negara otoriter, yang dipimpin seorang diktator. Realitanya memang negara yang demikian akan selalu terbelakang.

Model negara Islam seringkali dicap sebagai negara yang otoriter dan mendewakan titah pemimpin. Padahal, DNA negara yang berbasis nilai Islam seharusnya bersifat dialektis dan dua arah. Pemimpin dihormati, tetapi rakyat tetap mendapatkan ruang untuk diakomodir aspirasinya dengan tinjauan ahli. Oleh karena itu, pemimpin muslim harus selalu dilingkari oleh orang-orang yang berkompetensi tinggi. Sehingga ketika hendak menjalankan proses musyawarah, pemimpin memiliki kelengkapan yang lengkap dari segi wawasan dan kebijaksanaan.

Saran strategis Thahir ini semakin lengkap karena ditutup dengan ajakan untuk beristikharah atas keputusan itu. Hal ini menjadi penting karena dalam seluruh keputusan, wajib bagi seorang muslim melibatkan Allah Al-Hakim. Apalagi ini urusan yang melibatkan hajat orang banyak.

Seorang pemimpin seringkali menghadapi banyak data dan informasi ketika memutuskan. Ada yang benar-benar data yang valid dan dibutuhkan, tetapi banyak juga informasi palsu yang dapat membelokkan keputusan. Oleh karena itu, jika hanya mengandalkan diri sendiri dan sirkelnya, maka potensi salah tetaplah sangat tinggi. Namun, siapa yang bisa menyaingi ketajaman seseorang yang telah diberi petunjuk oleh Allah Ta’ala. Itulah mengapa istikharah menjadi penting bagi seorang pemimpin.

Jangan tunda pekerjaan

Nasihat ini penting tidak hanya bagi seorang pemimpin rakyat, tetapi bagi masing-masing kita.

وافرغ من عمل يومك ولا تؤخره لغدك، وأكثر مباشرته بنفسك، فإن لغد أمورًا وحوادثَ تلهيك عن عمل يومك الذي أخرت

Selesaikanlah pekerjaanmu yang harus engkau lakukan hari ini dan tidak menundanya sampai besok, dan seringlah melakukannya sendiri. Sebab hari esok itu sudah punya banyak urusan dan acaranya sendiri yang akan membuatmu lupa melakukan pekerjaan yang harus engkau lakukan hari ini tetapi ditunda.

واعلم أن اليوم إذا مضى ذهب بما فيه، فإذا أخرت عمله اجتمع عليك عمل يومين فيشغلك ذلك حتى تمرض منه، وإذا أمضيت لكل يوم عمله أرحت بدنك ونفسك، وجمعت أمر سلطانك

Ketahuilah, ketika hari berlalu, ia lenyap bersama semua yang ada di dalamnya. Jika engkau menunda pekerjaan yang seharusnya engkau lakukan kemarin, engkau akan harus melakukan pekerjaan dua hari. Itu akan memberatkanmu, dan akhirnya akan membuatmu sakit. Sebaliknya, jika engkau melakukan pekerjaan yang harus engkau lakukan setiap hari, engkau telah memberikan waktu beristirahat bagi tubuh dan jiwamu, serta berkurang pula tugasmu sebagai penguasa.

Nasihat untuk lebih memperhatikan beberapa kelompok manusia

Dalam kehidupan, kita mengetahui bahwa sebagian orang mendapatkan perhatian yang berbeda dibandingkan yang lain. Kajian modern memiliki perspektif mendorong pemerintahan untuk memperhatikan kaum marjinal yang rentan. Thahir dalam potongan wasiat ini juga mewasiatkan untuk perhatian pada kelompok tersebut. Namun, dalam wasiat ini tidak hanya kelompok marjinal saja, tetapi disebutkan kelompok manapun yang perlu diperhatikan atas dasar yang kuat.

1) Perhatikan orang merdeka (maksudnya berintegritas) dan pemilik keutamaan di antara mereka. Merekalah orang yang telah engkau uji ketulusan hati mereka, yang telah engkau saksikan kecintaan mereka kepadamu, yang telah membantumu dengan nasihat, dan yang menjaga urusanmu. Pilihlah mereka sebagai orang dekatmu dan berbuat baiklah kepada mereka.

2) Perhatikanlah keluarga-keluarga terhormat yang kesusahan dan penuhilah kebutuhan hidup mereka. Perbaikilah kondisi mereka agar mereka tidak mendapati jalan yang salah akibat kefakiran mereka

3) Abdikan dirimu dengan terjun langsung mengurus masalah orang-orang fakir, miskin, dan orang yang tak sanggup melaporkan keluhan tentang ketidakadilan yang dideritanya kepadamu, serta orang yang terpinggirkan lainnya yang tidak mengetahui cara menuntut hak-haknya. Tanyakan tentang orang ini, apa masalahnya yang paling rahasia, dan tempatkan orang-orang terbaik dari kalangan rakyatmu yang akan bertanggung jawab atas mereka. Perintahkan mereka untuk melaporkan kepadamu kebutuhan dan kondisi mereka, sehingga engkau akan dapat mempertimbangkan langkah-langkah yang mesti diambil, yang dengannya Allah mungkin akan memperbaiki keadaan mereka.

4) Perhatikan juga para korban bencana, anak-anak yatim, dan para janda mereka. Beri mereka rezeki bantuan yang diambilkan dari kas bendahara (baitul mal), dengan mengikuti contoh dari Amirul Mukminin (Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhu) dalam menyayangi dan membantu mereka, agar dengan begitu Allah meningkatkan penghidupan mereka serta memberikan keberkahan dan menambah nikmat-Nya.

5) Berikan tunjangan kepada orang-orang buta yang diambilkan dari kas bendahara (baitul mal). Prioritaskan para penghafal Al-Quran di antara mereka, dan para penghafal sebagian besarnya, untuk diberi tunjangan lebih tinggi dari yang lain.

6) Dirikan rumah sakit yang diperuntukkan bagi orang Islam yang sakit, untuk melindungi mereka. Tunjuklah para petugas di rumah sakit ini yang akan menangani mereka dengan baik, dan tunjuk pula para dokter yang akan mengobati penyakit mereka. Penuhi keinginan mereka asalkan tidak menimbulkan pemborosan pada kas baitul mal.

Jika kita perhatikan apa yang dianjurkan di sini, maka kita melihat dorongan untuk memperhatikan beberapa kelompok orang ini berbasis urgensi. Tidak ada yang bisa menolong mereka kecuali melalui perbantuan pemerintah. Sebagian kelompok tersebut terhalang dari mendapatkan kebutuhannya karena keterbatasan keadaan, bukan sekadar ketidakmampuan. Thahir juga memberikan tingkatan prioritas dalam pemberian tersebut serta batasan-batasannya.

Kondisi kelompok marjinal itu sangat kompleks. Ada kerentanan sosio-ekonomi yang mengancam, tetapi mereka punya keengganan untuk mengutarakan. Bukan karena angkuh, tetapi karena beratnya konstruksi sosial yang menjarakkan mereka dari kekuasaan. Oleh karena itu, proses pendekatannya tidak mudah, butuh orang-orang yang lihai berkomunikasi untuk mendengarkan keluh kesah masyarakat yang terpinggirkan ini.

Aturan dalam membantu manusia

Dan ketahuilah, bahwa manusia itu apabila telah diberikan hak-hak mereka serta pemenuhan keinginan terbaik mereka, hal itu tetap belum membuat mereka puas dan merasa tenang sebelum mereka mengadukan kebutuhan-kebutuhan mereka yang lain kepada para pemimpinnya. Hal ini karena keinginan kuat untuk mendapatkan tambahan dan limpahan kelembutan dari pemimpin mereka.

Inilah kenyataan manusia, tidak pernah puas dengan nikmat yang ada. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَوْ أَنَّ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ ، وَلَنْ يَمْلأَ فَاهُ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ

“Seandainya seorang anak Adam memiliki satu lembah emas, tentu ia menginginkan dua lembah lainnya, dan sama sekai tidak akan memenuhi mulutnya (merasa puas) selain tanah (yaitu setelah mati) dan Allah menerima tobat orang-orang yang bertobat.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 6439 dan Muslim no. 1048)

Maka, orientasi kebijakan publik itu bukanlah pemenuhan hasrat masyarakat, tetapi terpenuhinya maslahat. Pemimpin tidak dituntut untuk memuaskan masyarakat seluruhnya. Namun, pemimpin dituntut untuk menghadirkan keputusan terbaik yang bisa dihasilkan bagi masyarakatnya.

Awas burnout bekerja untuk rakyat

Sering kali, orang yang mengurus masalah orang lain merasa terganggu dengan banyaknya hal yang disampaikan kepadanya, yang menyibukkan pikiran dan otaknya, dan menyebabkan dia jenuh dan kesulitan.

Oleh karenanya, pemimpin jangan sampai burnout ketika bekerja melayani rakyat. Ia pasti lelah, karena semua orang bertumpu kepadanya. Namun, lelah itu dapat berupa jadi nikmat tiada tara ketika seseorang mengingat janji Allah Ta’ala atas apa yang dikerjakannya. Bacalah pengingat Thahir berikut ini,

وليس مَن يرغب في العدل ويعرف محاسنَ أموره في العاجل وفضلَ ثواب الآجل كالذي يستقل ما يقرِّبه من الله، وتُلْتَمَسُ به رحمتُه

Namun, tidaklah sama antara orang yang mendambakan keadilan serta mengetahui kebaikan dari urusan-urusannya di dunia dan keutamaan pahala di akhirat, dengan orang yang meremehkan apa yang dapat mendekatkan dirinya kepada Allah Ta’ala dan apa yang menjadi jalan diraihnya rahmat-Nya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ، يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ

“Barangsiapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan, maka Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan di akhirat.” (HR. Muslim)

[Bersambung]

KEMBALI KE BAGIAN 6

***

Penulis: Glenshah Fauzi

Artikel Muslim.or.id


PakarPBN

A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.

In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.

The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.

Jasa Backlink

Download Anime Batch