Pada penggalan tafsir sebelumnya, kita telah melihat bagaimana keadaan menjelang dan ketika hari kiamat terjadi. Huru-hara serta berbagai hal mengerikan yang membuat takut manusia, bahkan hewan yang tidak berakal juga ketakutan. Setelah itu, manusia akan ingat semua yang telah dia kerjakan, dirinya kemudian menanti apakah akan dilemparkan ke dalam neraka yang sangat dalam atau didekatkan dengan surga penuh kenikmatan, sebagaimana akhir potongan ayat.
Setelah itu, Allah berbicara kepada kita tentang benarnya Al-Qur’an dan jujurnya Rasulullah sebagai penyampai wahyu kepada manusia. Pembuktian kebenaran ini sangat penting karena banyak manusia mendustakan huru-hara hari kiamat, tidak percaya bahwa kiamat akan terjadi. Maka, Allah memulai potongan ayat ini dengan sumpah untuk menegaskan kebenaran Al-Qur’an.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
فَلَآ اُقْسِمُ بِالْخُنَّسِۙ , الْجَوَارِ الْكُنَّسِۙ
“Aku bersumpah demi bintang-bintang yang beredar lagi terbenam.” (QS. At-Takwīr [81]:15-16)
Pada ayat ini, Allah Ta’ala membuka firman-Nya dengan bersumpah dengan benda-benda langit yang sangat menakjubkan. Allah bersumpah dengan menyebut “al-khunnas”, yaitu benda langit yang memiliki sifat takhnis atau hilang dan bersembunyi ketika siang hari dikarenakan cahayanya tertutup oleh terangnya cahaya matahari. Sedangkan ketika malam hari, benda langit ini akan muncul karena hilangnya cahaya matahari. Maka sumpah ini mencakup semua benda langit, baik yang memancarkan cahaya sendiri seperti bintang atau yang tidak memancarkan, tetapi hanya memantulkan seperti planet dan bulan.
Terdapat kalimat menarik pada ayat ini, yaitu Allah bersumpah dengan kata “فَلَآ اُقْسِمُ” yang secara harfiah maknanya adalah “tidak bersumpah”, akan tetapi bentuk kalimat ini digunakan secara fasih oleh orang Arab sebagai bentuk sumpah dan penegasan atas sumpah tersebut. Hal ini karena saking jelasnya kabar tersebut, bahkan tidak perlu kita bersumpah untuk menegaskannya, karena setiap person yang melihat dan merenungi pasti akan mengetahui bahwa obyek sumpah adalah benar adanya.
Terdapat rahasia menarik mengapa Allah bersumpah dengan benda-benda langit ini, yaitu adalah untuk menunjukkan sifat Maha Kuasa Allah, dimana Allah mampu untuk memperjalankan benda-benda langit raksasa tersebut sesuai garis edar mereka di alam semesta, serta mampu untuk mengadakan serta menghilangkan cahaya mereka kapanpun Dia kehendaki. Lebih jauh lagi, sumpah ini menepis kebodohan manusia yang menjadikan benda langit sebagai sesembahan, padahal mereka adalah makhluk Allah yang selalu tunduk kepada-Nya, bergerak sesuai kehendak-Nya, serta dapat dimatikan dan dihancurkan seketika oleh Rabb yang Maha Kuasa.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَالَّيْلِ اِذَا عَسْعَسَۙ
“Demi malam apabila telah larut.” (QS. At-Takwīr [81]: 17)
Allah bersumpah dengan malam hari. Kata “عَسْعَسَۙ” dalam bahasa Arab adalah kalimat musytarok atau kalimat yang memiliki dua makna atau lebih, dimana kedua makna ini adalah makna hakiki yang bukan majas, serta dapat digunakan bersamaan dalam satu keadaan yang sama. Makna kata ini adalah datang atau pergi. Oleh karena itu, ulama berbeda pendapat bagian malam mana yang Allah bersumpah dengannya..
Sebagian ulama berpendapat bahwa Allah besumpah dengan awal waktu malam, yang menunjukkan kebutuhan manusia atas pertolongan Allah karena datangnya waktu malam yang mencekam dan diliputi oleh kejahatan manusia dan jin. Sebagian lainnya berpendapat bahwa malam di sini adalah akhir malam, yaitu pada waktu sahur menjelang subuh, karena di dalamnya terdapat momen tersibaknya ketakutan manusia dan bersiap untuk mengawali hari dengan ibadah di waktu sepertiga malam yang akhir. Sebagian ulama lainnya memaknai sumpah di sini dengan awal dan akhir malam sekaligus karena menggunakan kedua makna musytarok bersamaan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَالصُّبْحِ اِذَا تَنَفَّسَۙ
“Demi subuh apabila (fajar) telah menyingsing.” (QS. At-Takwīr [81]: 18)
Allah bersumpah dengan waktu subuh, di mana waktu subuh adalah waktu manusia untuk memulai aktifitas mereka, di sana terdapat semangat dan kebaikan yang besar, sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mendoakan umat ini mendapatkan berkah yang melimpah di waktu pagi mereka. Waktu subuh yang datang, membawa nafas kehidupan, manusia bangun dari tidurnya setelah sebelumnya dimatikan oleh Allah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
اِنَّهٗ لَقَوْلُ رَسُوْلٍ كَرِيْمٍۙ
“Sesungguhnya (Al-Qur’an) itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril).” (QS. At-Takwīr [81]: 19)
Ketiga sumpah yang Allah sebutkan di atas adalah untuk menegaskan kalimat ini, yaitu bahwa Al-Qur’an adalah benar-benar firman Allah, yang dibawa oleh malaikat Jibril, diterima oleh Rasulullah, dan disampaikan kepada umat. Sumpah tersebut juga menegaskan bahwa berbagai kabar tentang hari kiamat yang disampaikan setiap hari oleh Nabi kepada kaum Quraisy, beliau dakwahkan dengan sepenuh jiwa raga agar manusia beriman dan sadar, adalah benar dari Allah Ta’ala, bukan merupakan perkara perdukunan dan berita palsu buatan manusia.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
ذِيْ قُوَّةٍ عِنْدَ ذِى الْعَرْشِ مَكِيْنٍۙ , مُّطَاعٍ ثَمَّ اَمِيْنٍۗ
“Yang memiliki kekuatan dan kedudukan tinggi di sisi (Allah) yang memiliki ʻArsy, yang di sana (Jibril) ditaati lagi dipercaya.” (QS. At-Takwīr [81]: 20-21)
Allah Ta’ala menyifati malaikat Jibril dengan lima sifat mulia, dengannya hilanglah keraguan bahwa wahyu yang dikirimkan tidak tersampaikan dengan baik atau terpotong di tengah perjalanan. Namun, wahyu tersebut sampai dengan utuh kepada Rasulullah tanpa ada yang hilang ataupun tercampur dengan hal lain.
Pertama, adalah sifat “karim” atau sifat mulia di sisi Allah Ta’ala, terbukti dengan Allah memberikannya hidayah serta memberikan tugas paling muliax, yaitu mengantarkan wahyu. Kedua, sifat kekuatan yang besar, di mana beliau mampu untuk menjaga wahyu tersebut dengan aman sampai kepada Rasulullah. Ketiga, memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah dengan menjalankan segala apa yang Allah perintahkan. Keempat, malaikat Jibril adalah sosok yang dipatuhi okeh malaikat muqarrabin. Kelima, jujur dan terpercaya, ini adalah sifat inti dan terluhur dari malaikat Jibril, terpercaya dan tidak pernah sekalipun berbohong atas wahyu yang dibawa.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَمَا صَاحِبُكُمْ بِمَجْنُوْنٍۚ
“Temanmu (Nabi Muhammad) itu bukanlah orang gila.” (QS. At-Takwīr [81]: 22)
Kemudian, risalah kenabian dan wahyu diberikan kepada Rasulullah Muhammad bin Abdillah, seorang pilihan Allah yang paling terpuji di bumi dan langit. Allah sebutkan Muhammad dengan kata “shahib” atau diartikan “temanmu” adalah karena sedari kecil, Nabi Muhammad telah hidup di tengah-tengah suku Quraisy, seorang anak dan remaja terbaik dalam suku tersebut.
Dirinya bukan orang asing yang turun dari langit atau muncul dari antah berantah kemudian membawa berita yang besar, bukan demikian. Akan tetapi, Muhammad adalah seseorang yang kalian kenal kebaikannya, keluarganya adalah keluarga terbaik di tengah bangsa Arab, bahkan kalian menyebutnya Muhammad Al-Amin, seseorang yang jujur lagi terpercaya. Kalian telah melihat bagaimana akhlaknya ketika tumbuh bersama kalian, kalian tidak pernah melihat keburukannya. Lantas mengapa setelah dia menjadi Nabi, malah kalian dustakan dan menuduhnya orang gila? Ini adalah suatu kebodohan nyata dari kaum musyrik Quraisy.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَلَقَدْ رَاٰهُ بِالْاُفُقِ الْمُبِيْنِۚ
“Sungguh, dia (Nabi Muhammad) benar-benar telah melihatnya (Jibril) di ufuk yang terang.” (QS. At-Takwīr [81]: 23)
Peristiwa penglihatan malaikat Jibril di ufuk yang terang ini terjadi setelah beliau melihat Jibril pada fase awal turunnya wahyu di dekat Gua Hira. Ketika itu, beliau melihat Jibril sedang duduk di atas kursi di antara langit dan bumi dalam wujud aslinya yang memiliki enam ratus sayap.
Malaikat Jibril memiliki bentuk yang sangat luar biasa besar, memiliki 600 sayap yang sangat indah, sampai menutupi seluruh ufuk dan menghalangi cahaya matahari. Peristiwa Nabi melihat langsung malaikat Jibril ini menjadikan ilmu beliau terhadap malaikat dan wahyu menjadi ilmu yang aksiomatis, melahirkan keyakinan mutlak dengan mata panca indra dan mata hati bahwa yang dilihat adalah benar-benar sesesok malaikat yang dekat dengan Allah. Allah berikan pada malaikat fisik yang sempurna dan indah, serta adanya rasa tenang saat turunnya wahyu, untuk meyakinkan bahwa yang menjumpai adalah malaikat, dan bukan setan yang terkutuk.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَمَا هُوَ عَلَى الْغَيْبِ بِضَنِيْنٍۚ
“Dia (Nabi Muhammad) bukanlah seorang yang kikir (enggan) untuk menerangkan yang gaib.” (QS. At-Takwīr [81]: 24)
Ayat ini adalah pujian yang sangat tinggi bagi Rasulullah, beliau mendapatkan kabar-kabar gaib tentang kiamat, surga, dan neraka, serta mendapatkan ilmu bagaimana untuk dapat menghindari neraka serta mendapatkan kesenangan abadi di surga. Semua hal tersebut tidak disembunyikan oleh Nabi, bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dakwahkan seluas-luasnya kepada semua orang.
Ayat ini juga menunjukkan kepedulian besar dari Nabi terhadap kita umatnya. Kalau seandainya Nabi merasa berat dan enggan menyampaikan risalah, beliau jengah dengan sikap umatnya yang membangkang, maka beliau tidak akan sampaikan jalan menuju kebahagiaan kepada umatnya. Rasanya biarlah disimpan sendiri saja agar yang selamat hanya orang dekat beliau, dan biarlah para pembangkang itu disiksa sampai habis di neraka.
Namun, tidaklah demikian, beliau adalah orang yang sangat peduli dengan umatnya. Semua jalan menuju surga telah Nabi sampaikan kepada kita dengan bentuk penyampaian terbaik. Seratus persen waktu dan tenaga beliau digunakan untuk menyamaikan risalah ilahi, berliau bersusah payah menyampaikan kebaikan agar kita semua selamat, bisa bertemu dengan beliau kelak di surga. Meskipun kadang, kita menjadi umat yang ngeyel dan mbalelo.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَيْطٰنٍ رَّجِيْمٍۚ
“(Al-Qur’an) itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk.” (QS. At-Takwīr [81]: 25)
Allah juga membantah orang musyrik Quraisy yang mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah perkataan setan. Dikarenakan mereka mengatakan bahwa setan dari kalangan jin di langit bisa mencuri-curi dengar wahyu yang turun, kemudian juga mampu untuk mengganggu wahyu yang turun sehingga rusak dan sampai dalam keadaan cacat. Kebodohan kaum musyrik ini dibantah dengan keras oleh Allah langsung. Bahkan Allah siapkan panah api yang sangat panas dan membakar bagi jin yang berusaha mencuri berita langit.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
فَاَيْنَ تَذْهَبُوْنَۗ
“Maka, ke manakah kamu akan pergi?” (QS. At-Takwīr [81]: 26)
Setelah diterangkan bahwa Al-Qur’an itu benar-benar datang dari Allah dan di dalamnya ada hidayah dan petunjuk yang memimpin manusia ke jalan yang lurus, ditanyakanlah kepada orang-orang kafir itu, “Jalan manakah yang akan kamu tempuh?” Apakah tetap akan menempuh jalan kesesatan, jalan kezaliman sehingga berakhir dalam neraka, atau mengikuti jalan petunjuk ini untuk menjadi sebaik-baiknya manusia di bumi dan bisa beristirahat tenang di surga kelak.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
اِنْ هُوَ اِلَّا ذِكْرٌ لِّلْعٰلَمِيْنَۙ
“(Al-Qur’an) itu tidak lain, kecuali peringatan bagi semesta alam.” (QS. At-Takwīr [81]: 27)
Al-Qur’an adalah nasihat dan pengingat bagi seluruh makhluk yang ada di alam ini.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
لِمَنْ شَاۤءَ مِنْكُمْ اَنْ يَّسْتَقِيْمَۗ
“(Yaitu) bagi siapa di antaramu yang hendak menempuh jalan yang lurus.” (QS. At-Takwīr [81]: 28)
Allah telah berikan jalan serta kesempatan untuk menuju kebaikan atau menuju kepada kehancuran. Siapa saja yang mengikuti jalan kebenaran, beriman dengan benar, menjalankan syariat-Nya, serta memiliki akhlak yang mulia, maka dia telah berada di jalan yang lurus, yang mengantarkan kepada kebahagiaan dunia dan kebahagiaan abadi di akhirat.
Kalimat “لِمَنْ شَاۤءَ مِنْكُمْ” adalah badal atau kata ganti dari “لِّلْعٰلَمِيْنَۙ” yang bermakna bahwa Al-Qur’an menjadi nasihat dan petunjuk bagi orang-orang yang menerima dan mempelajarinya. Adapun orang yang merasa acuh dari Al-Qur’an, maka dirinya berada dalam kerugian dan kegelapan yang sangat gelap.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَمَا تَشَاۤءُوْنَ اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُ رَبُّ الْعٰلَمِيْنَ ࣖ
“Kamu tidak dapat berkehendak, kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. At-Takwīr [81]: 29)
Surah At-Takwir ditutup dengan khawatimus suwar atau penutup yang sangat indah, yaitu istikamah menempuh jalan kebenaran tidaklah dapat diwujudkan kecuali dengan kehendak dan taufik dari Allah Ta’ala, Rabb semesta alam. Maka janganlah jumawa jika pada saat ini kita berada dalam keimanan, teruslah berdoa kepada Allah agar tetap memberikan iman kepada kita. Sebaliknya, terus doakan saudara-saudara kita yang belum beriman, doakan dan dakwahkan, agar mereka mendapatkan hidayah dari Allah.
[Selesai]
KEMBALI KE BAGIAN 1
***
Penulis: Dany Indra Permana
Artikel Muslim.or.id
Catatan kaki:
Mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/ dan https://tafsir.app/
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.