Amal Kita Kecil, Yang Kecil Ini Serius

Allah Kisah telah menjelaskan tujuan penciptaan kita dengan sangat gamblang dalam firman-Nya,

Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali mereka untuk beribadah kepada-Ku.” (QS.Adz-Dzariyat : 56)

Sejumlah ulama menafsirkan pengucapannya Mereka beribadah pada ayat ini dengan maknanya Mereka menyatukan saya (monoteisme-Ku), karena ibadah tidak akan diterima kecuali dengan tauhid Allah Kisah. [1]

Sejatinya, ibadah itu kita tunaikan untuk diri kita sendiri, baik untuk kemaslahatan dunia maupun akhirat. Ibadah adalah sarana untuk memenuhi fungsi keberadaan kita, agar jauh dari krisis eksistensi. Dengan demikian, tujuan ibadah bukanlah untuk menambah kekuasaan Allah, sebab ibadah tidak sedikitpun mempengaruhi kebesaran-Nya. Dalam sebuah hadis qudsi, Allah Kisah berfirman, “Wahai hamba-Ku, seandainya orang pertama dan terakhir dari kalian, manusia dan jin, semuanya seperti orang yang paling bertakwa di antara kalian, maka hal itu tidak menambah kerajaan-Ku sedikit pun. Wahai hamba-Ku, seandainya orang pertama dan terakhir dari kalian, manusia dan jin, semuanya layaknya orang yang berhati paling jahat di antara kalian, maka hal itu tidak mengurangi kerajaan-Ku sedikit pun.” [2]

Buah dari ibadah yang sejati

Ibadah yang benar-benar membuahkan manfaat adalah ibadah yang diterima di sisi Allah. Dan buah terbesarnya kelak adalah nikmat yang agung, yaitu bertemu dan memandang Allah Kisah di surga sebagaimana firman-Nya,

Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri memandang kepada Tuhannya.

“Wajah (orang-orang beriman) pada hari itu berseri-seri. Melihat kepada Tuhannya.” (QS. Al-Qiyamah: 22–23)

Namun, perjumpaan yang dinanti ini tidak bisa digapai sembarang orang. Hanya mereka yang memenuhi kriteria berikut yang akan mendapatkannya,

Maka barangsiapa berharap bertemu Tuhannya, hendaklah dia beramal shaleh dan tidak menyekutukan siapapun dalam beribadah kepada Tuhannya.

“…Barangsiapa mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaknya beramal shaleh dan tidak menyekutukan siapapun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi : 110)

Dijelaskan bahwa syarat untuk mendapatkan keutamaan dalam ayat ini adalah menggabungkan ikhlas dan Mutaba’ah (mengikuti Sunnah Nabi ﷺ) dalam beribadah. [3] Barangsiapa melakukan perbuatan syirik dan bid’ah dalam ibadahnya, maka dia tidak memenuhi kriteria di atas.

Seriusi yang sedikit ini!

Kalau kita mau berpikir jernih, betapa ruginya beramal tanpa keikhlasan, karena semua amal akan gugur karenanya, sebagaimana firman Allah. Mengetuk,

Jika kamu ikut, niscaya pekerjaanmu batal dan kamu termasuk orang-orang yang merugi.

“…Sesungguhnya jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya amalmu akan gugur dan niscaya kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar : 65)

Satu orang atau masuk yang mulia, Maimun bin Mihran Tuhan memberkati pernah berkata,

Perbuatanmu sedikit, maka simpanlah yang sedikit ini.

“Sedekahmu sangat kecil, jadi berikan padaku dengan tulus.” [4]

Generasi atau masuk termasuk dalam generasi terbaik dalam sejarah Islam. Nabi ﷺ berkata,

Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi setelahnya, kemudian generasi setelahnya

“Orang-orang terbaik ada di masa saya (sahabat), lalu setelah mereka (atau)kemudian setelah mereka (tabi’ut tabi’in).” [5]

Dengan kondisi yang demikian, mereka tetap merasa amalnya sedikit. Lantas, bagaimana dengan amal kita hari ini?

Begitu pula dengan mutaba’ah, karena amalan yang dikerjakan tanpa dalil syar’i (sesat), statusnya ditolak. Nabi ﷺ berkata,

Barangsiapa memasukkan sesuatu yang bukan merupakan bagiannya ke dalam perkara kami, maka ia ditolak.

“Barang siapa yang menjadikan suatu perkara baru dalam urusan kita (agama) yang bukan dari dirinya, maka tertolak.” [6]

Ibadah adalah sebuah pertunjukan, dan pertunjukan itu harus mengikuti kriteria penerimanya, bukan mengikuti seleranya sendiri.

Berkaca pada perkataan Maimun bin Mihran sebelumnya, rasanya sangat layak kita katakan, “Amal kita jauh lebih sedikit dibandingkan generasi shaleh sebelumnya, maka amalkanlah amal itu dengan sungguh-sungguh dan ikhlas Mutaba’ah. Jangan sampai, amal kita yang sudah amat sedikit ini justru habis tergerus syirik dan bidah.

Dakwah yang sehat dan normal

Kenyataan bahwa ikhlas dan Mutaba’ah merupakan syarat diterimanya amal, sudah semestinya menjadi landasan bahwa dakwah yang sehat adalah dakwah yang menaruh perhatian besar terhadap keduanya, dengan tidak menjadikannya sebagai hal yang tabu. Dakwah yang normal harus punya atensi dalam menjauhkan umat dari kesyirikan. Inilah tanda kasih sayang paling tulus dari para juru dakwah, selayaknya dakwah para Nabi ‘alaihim asy-sholatu as salam. Mereka selalu memprioritaskan dakwah tauhid sebagaimana firman Allah Mengetuk,

Dan Kami telah mengutus utusan ke setiap umat, dengan pesan, “Sembahlah Tuhan dan hindarilah kezaliman.”

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul kepada setiap umat (untuk menyeru): Sembahlah Allah saja dan menjauhlah pondok itu.” (QS. An-Nahl : 36)

Yang dimaksud pondok itu di sini adalah segala sesembahan selain Allah. [7]

Dakwah yang sehat adalah dakwah yang memiliki perhatian besar dalam menjaga umat dari TBC (takhayul, bidaah, gula lemak), seperti perhatian Nabi ﷺ yang memperingatkan umat agar tidak melakukan perbuatan sesat dalam berbagai kesempatan dalam khutbahnya. Dia ﷺ ​​berkata,

Dan hati-hatilah terhadap penemuan-penemuan baru, karena setiap penemuan baru adalah suatu inovasi, dan setiap inovasi adalah kesalahan.

“Waspadalah terhadap hal-hal baru yang diciptakan, karena setiap hal baru (dalam agama, pena.) adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah bid’ah.” [8]

Hadis ini menjadi dalil bahwa seluruh bidah dalam perkara agama adalah terlarang.

Mari sejenak kita mengalihkan fokus untuk membaca ulang skala prioritas. Belakangan ini, masih kita jumpai sebagian pendakwah sering membahas tema-tema umum yang memang penting, namun tidak memberi porsi untuk memperingatkan umat dari bahaya syirik dan bidah, meskipun sekadar selipan kecil di tengah pembahasan topik bermanfaat lainnya.

Katakanlah ada yang tidak sepakat dengan sebagian ritual yang dianggap syirik. Lantas, sudah sejauh mana keseriusan mereka dalam mendakwahkan amalan syirik yang mereka sepakati? Ironisnya, sebagian pihak malah dikenal luas karena kritik tajam terhadap dakwah tauhid, bukan karena mendakwahkan tauhid itu sendiri.

Katakanlah sebagian pihak memandang bahwa bidah itu ada yang baik dan ada yang terlarang. Lantas, sudah sekeras apa upaya mereka dalam melarang masyarakat dari berbuat amalan yang mereka nilai sebagai bidah yang terlarang? Sangat disayangkan apabila yang getol disampaikan hanya bidah yang mereka nilai baik saja, jarang disampaikan bidah apa saja yang terlarang seolah tiada. Bukankah hal ini juga amanah ilmiah yang perlu dipahami umat?

Akibatnya, masih banyak masyarakat yang belum mengetahui sama sekali istilah bid’ah. Ada pula yang alergi ketika mendengar kata-kata syirik dan bid’ah seolah-olah kata-kata tersebut haram untuk diucapkan, padahal kedua istilah ini akrab dijumpai dalam tradisi keilmuan Islam seiring berjalannya waktu. Ada pula yang salah paham, seperti menganggap pergi haji dengan pesawat adalah sesat, padahal itu hanya sarana duniawi yang tidak bernilai ibadah pada hakikatnya. Demikianlah akibat dakwah yang tidak adil dan proporsional.

Insya Allah Kisah senantiasa memberikan kita hidayah untuk beribadah dengan ikhlas dan mengikuti tuntunan Nabi ﷺ, menjauhkan kita dari kemusyrikan dan bid’ah, serta kuatkan kita pada tauhid dan sunnah hingga akhir hayat, agar kita diberikan keridhaan bertemu dan memandang kepada Allah. Kisah di surga-Nya kelak.

Baca juga: Dua Amal Rahasia Pengantar ke Surga dan Neraka

***

Penulis: Reza Mahendra, S.Psi.

Artikel Muslim.or.id

Referensi:

[1] At-Tamhid li Syarhi Kitab At-Tauhid, 1: 11.

[2] SDM. Muslim no. 2577.

[3] Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 563; Dar Ibnul Jauzi.

[4] Hilyatul Auliya’, 4: 89.

[5] HR. Bukhari no. 6429 dan Muslim no. 2533.

[6] HR. Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718.

[7] Tafsir Al-Qurthubi, 10: 103.

[8] SDM. Abu Dawud no. 4607, dinilai otentik oleh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani.


News
Berita
News Flash
Blog
Technology
Sports
Sport
Football
Tips
Finance
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Kekinian
News
Berita Terkini
Olahraga
Pasang Internet Myrepublic
Jasa Import China
Jasa Import Door to Door

Download Film

Gaming center adalah sebuah tempat atau fasilitas yang menyediakan berbagai perangkat dan layanan untuk bermain video game, baik di PC, konsol, maupun mesin arcade. Gaming center ini bisa dikunjungi oleh siapa saja yang ingin bermain game secara individu atau bersama teman-teman. Beberapa gaming center juga sering digunakan sebagai lokasi turnamen game atau esports.