Apakah Ibnu Shayyad Dajjal?

Sosok Abdullah bin Shayyad sejak kemunculannya terus menjadi misteri. Kematiannya pun menjadi polemik. Ada yang mengatakan dia meninggal saat peristiwa Harrah; ada yang mengatakan dia mati di Madinah dan disaksikan kaum muslimin; sementara yang lain mengatakan dia tidak mati, tetapi menghilang entah kemana.

Pada pembahasan sebelumnya tentang kondisi Ibnu Shayyad dan ujian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadapnya, terlihat bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih menunda penentuan status Ibnu Sayyad karena belum diberikan wahyu apakah Ibnu Sayyad itu Dajjal atau bukan.

Namun, Umar Semoga Tuhan berkenan padanya bersumpah di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menegur atau mengingkari sumpahnya. Beberapa sahabat lainnya juga sependapat dengan Umar dan bersumpah bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal, sebagaimana meriwayatkan dari Jabir, Ibnu Umar, dan Abu Dzar.

Dalam hadits riwayat Muhammad bin Al-Munkadir disebutkan,

Saya melihat Jaber bin Abdullah bersumpah kepada Tuhan bahwa Ibnu Sayyad adalah antikristus. Saya berkata: Apakah Anda bersumpah demi Tuhan?! Dia berkata: Saya mendengar Omar bersumpah tentang hal ini di hadapan Nabi, semoga Tuhan memberkati dia dan memberinya kedamaian, tetapi Nabi, semoga Tuhan memberkatinya dan memberinya kedamaian, tidak mengingkarinya.

“Aku melihat Jabir bin Abdullah bersumpah demi Tuhan bahwa Ibnu Sayyad adalah Dajjal. Aku bertanya, ‘Kamu bersumpah demi Tuhan?’ Dia menjawab, ‘Saya mendengar Umar bersumpah di depan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamdan Nabi tidak menegurnya.’” (HR. Bukhari dan Muslim)

Nafi’ meriwayatkan,

Ibnu Omar pernah berkata: Demi Tuhan, aku yakin Dajjal adalah Ibnu Sayyad

“Ibnu Umar berkata, ‘Demi Allah, aku tidak meragukan bahwa Al-Masih ad-Dajjal adalah Ibnu Sayyad.’” (HR. Abu Daud)

Zaid bin Wahb meriwayatkan bahwa Abu Dzar Semoga Tuhan berkenan padanya dikatakan,

Karena bersumpah sepuluh kali bahwa Ibnu Sayyid adalah Dajjal, lebih aku cintai daripada bersumpah satu kali bahwa dia bukan Dajjal.

“Lebih aku sukai bersumpah sepuluh kali bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal daripada sekali bersumpah bahwa ia bukan Dajjal.” (HR. Ahmad)

Nafi’ juga meriwayatkan bahwa Ibnu Umar pernah bertemu dengan Ibnu Shayyad di salah satu jalan di Madinah dan mengucapkan sepatah kata kepadanya. Ibnu Shayyad begitu marah mendengar perkataan Ibnu Umar hingga membuat keributan di jalan. Kemudian Ibnu Umar pergi menemui Hafsah dan menceritakan kejadian tersebut. Hafsah berkata,

“Semoga Tuhan mengasihanimu! Apa yang kamu inginkan dari Ibnu Shaid?! Tahukah kamu bahwa dia adalah Rasulullah?” shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Sesungguhnya dia keluar hanya karena kemarahan yang dibencinya?!'” (HR. Muslim)

Dalam sebuah riwayat dari Nafi’, ia berkata bahwa Ibnu Umar Semoga Tuhan berkenan padanya dikatakan,

“Aku telah menemuinya sebanyak dua kali. (Pada pertemuan pertama) aku menemuinya, lalu aku berkata kepada sebagian mereka (sahabat Ibnu Shayyad), “Apakah kalian mengatakan bahwa dia Dajjal?” Mereka menjawab, “Tidak, demi Allah.” Nafi berkata, Ibnu Umar mengatakan, “Engkau telah berbohong kepadaku, demi Allah. Sebagian dari kalian telah mengabarkan kepadaku sesungguhnya dia tidak akan mati hingga dia menjadi orang yang paling banyak harta dan anaknya di antara kalian, demikianlah anggapan tentangnya sampai hari ini.”

Dia berkata, “Kami juga berdiskusi, lalu meninggalkannya.” Dia berkata, “Saya bertemu dengannya pada kesempatan lain ketika matanya bengkak.” Saya bertanya, “Sejak kapan matamu seperti yang saya lihat sekarang?” Dia menjawab, “Saya tidak tahu.” Aku membalas, “Kamu tidak tahu kalau itu ada di kepalamu sendiri?” Beliau bersabda, “Jika Allah menghendaki, niscaya Dia akan mewujudkan hal ini pada tongkatmu ini.” Katanya, “Kemudian dia mendengus seperti dengusan keledai yang paling keras yang pernah saya dengar.” Katanya, “Kemudian sebagian temannya mengira bahwa saya telah memukulnya dengan tongkat saya hingga matanya terluka. Demi Allah, padahal saya tidak merasakannya sama sekali.”

Dia (Nafi) berkata, “Dan dia mendatangi Ummul Mu’minin (Hafshah), dan meriwayatkannya, dia bertanya, ‘Apa yang kamu inginkan darinya?! Tidakkah kamu tahu bahwa dia (Nabi) pernah berkata,

Apa yang kamu inginkan?! Tahukah kamu bahwa beliau bersabda: “Hal pertama yang ditimbulkannya pada manusia adalah kemarahan yang membuat mereka marah.”

‘Sesungguhnya sebab awal yang mendorongnya keluar kepada manusia adalah kemarahan yang menyebabkan dia marah.’” (HR. Muslim)

Ibnu Sayyad sering mendengar apa yang orang katakan tentangnya dan merasa tersinggung. Ia membela diri dengan mengatakan bahwa ia bukan Dajjal, dan membuktikan hal itu dengan menyatakan bahwa ciri-ciri Dajjal yang disebutkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak ada padanya.

Dalam hadits dari Abu Sa’id al-Khudri Semoga Tuhan berkenan padanya disebutkan,

“Kami pernah keluar untuk menunaikan haji atau umrah dan Ibnu Shaid ikut bersama kami, lalu kami berhenti. Belakangan, orang-orang berpisah saat saya bersamanya. Saya merasa sangat takut karena apa yang dikatakan orang tentang dia.” Abu Sa’id berkata, “Dia datang membawa perbekalannya, lalu dia menaruhnya bersama perbekalanku.” Aku berkata padanya, “Udaranya panas sekali, sebaiknya kau taruh di bawah pohon,” kata Abu Sa’id, “Akhirnya dia melakukannya.”

Kemudian kami diberikan satu ekor kambing, lalu dia pergi dan kembali dengan membawa satu wadah besar. Dia berkata, “Minumlah, wahai Abu Sa’id!” Aku berkata, “Sesungguhnya udara sekarang ini panas sekali, dan susu itu juga panas,” sebenarnya tidak ada masalah bagiku, hanya saja aku tidak ingin meminum sesuatu yang berasal dari tangannya, (atau dia berkata) mengambil dari tangannya.”

Lalu dia berkata, “Wahai Abu Sa’id, sebelumnya aku hendak mengambil tali, lalu menggantungkannya di pohon, kemudian aku ikat leherku karena (merasa sakit hati) terhadap segala hal yang dikatakan oleh manusia. Wahai Abu Sa’id, siapakah yang tidak mengetahui hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada yang tersembunyi darimu wahai kaum Ansar. Bukankah Anda orang yang paling mengetahui hadis Rasulullah? shallallahu ‘alaihi wa sallam? Bukankah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengatakan, ‘Dia (Dajjal) adalah seorang kafir,’ sedangkan saya seorang Muslim? Bukankah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda bahwa dia (Dajjal) adalah orang yang tidak memiliki anak, sementara aku telah meninggalkan anak-anakku di Madinah? Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda bahwa dia (Dajjal) tidak akan pernah memasuki Madinah dan Makkah, sementara aku datang dari Madinah menuju Makkah?”

Abu Sa’id al-Khudri berkata, “Saya hampir menerima alasannya,” lalu dia berkata, “Demi Allah, saya mengenalnya dan mengetahui tempat lahirnya, dan di mana dia berada sekarang.” Abu Sa’id berkata, “Aku berkata kepadanya, ‘Celakalah kamu di hari-harimu.'” (HR. Muslim)

Ibnu Sayyad berkata dalam riwayat lain, “Demi Allah, aku mengetahui di mana dia (Dajjal) sekarang, dan mengetahui ayah dan ibunya.” (Narator berkata) dikatakan kepadanya, “Apakah kamu akan bahagia jika kamu menjadi dia?” Beliau menjawab, “Jika ditawarkan kepadaku, maka aku tidak akan membencinya.” (HR.Muslim)

Para ulama merasa bingung dan rancu dengan hal-hal yang berkaitan dengan Ibnu Sayyad, sehingga urusannya menjadi sulit dipahami. Sebagian orang berpendapat bahwa ia adalah Dajjal. Mereka mendasarkan pendapatnya pada fakta bahwa beberapa sahabat Semoga Tuhan meridhoi mereka bersumpah bahwa Ibnu Sayyad adalah Dajjal, dan berdasarkan interaksi dan peristiwa yang menimpa Ibnu Sayyad dengan Ibnu Umar dan Abu Sa’id Semoga Tuhan meridhoi mereka.

Namun, sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa Ibnu Sayyad bukanlah Dajjal. Mereka berdalil dengan mengacu pada hadis Tamim ad-Dariy Semoga Tuhan berkenan padanya.

[Bersambung]

KEMBALI KE BAGIAN 1

***

Penulis: Gazzeta Raka Putra Setyawan

Artikel Muslim.or.id


PakarPBN

A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.

In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.

The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.

Jasa Backlink

Download Anime Batch