TIDAK
Dialah Imamnya, Al-Hafizh, tsiqah (orang yang terpercaya), pengembara yang banyak bepergian, ahli perjalanan, Muhaddith besar Islam, sisa generasi salaf, di antara tokoh yang berumur panjang, Abu Al-Qasim Sulaiman bin Ahmad bin Ayyub bin Muthir Al-Lakhmi, Asy-Syami, Ath-Thabarani.
Silsilahnya
Al-Lakhmi adalah perbandingan hingga Lakhm, yaitu salah satu suku Arab yang berasal dari Yaman, kemudian merantau ke wilayah Syam dan menetap di sana. Adapun Ath-Tabarani adalah perbandingan kepada Thabariyah (Tiberias), yaitu sebuah kota yang terletak di bagian timur laut Palestina. Kota tersebut berada di antara wilayah Safad, Akka, Nazaret, dan Baisan, di sisi barat Danau Thabariyah. Sejumlah ulama juga dinisbahkan kepada kota ini, dan orang yang berasal darinya disebut “Thabarani”, untuk membedakannya dari “Ath-Thabari” yang dinisbahkan kepada Thabaristan.
Kelahiran dan tahun lahirnya
Imam Ath-Tabarani Semoga Tuhan mengampuni dia lahir di kota ‘Akka pada bulan Safar tahun 260 Hijriah. Ibunya berasal dari ‘Akka. Adapun asal keluarganya dari Thabariyah (Tiberias) di wilayah Syam.
Anak-anaknya
Ath-Thabarani memiliki seorang putra bernama Muhammad, yang ber-mengunyah Abu Dzarr (sama seperti mengunyah kakeknya, Ahmad). Ia meriwayatkan hadis dari Abu ‘Ali Al-Warraq, Abu ‘Amr bin Hakim, dan Abdullah bin Ja‘far atas pilihan ayahnya Semoga Tuhan mengampuni dia. Putranya ini wafat pada bulan Rajab tahun 399 Hijriah, dan dimakamkan di samping kubur ayahnya Semoga Tuhan mengampuni mereka.
Sejumlah ulama besar meriwayatkan darinya, seperti Abu ‘Ali Ar-Rustaqi, Abu Thahir bin ‘Urwah, Abu Ahmad Al-‘Aththar, ‘Ali bin Ahmad bin Mihran, Abu Sa‘d bin Qamjah, ‘Ali bin Al-Husain Al-Iskaf, ‘Ali bin Sa‘id Al-Baqqal, dan lainnya, termasuk para ulama generasi setelah mereka.
Ia juga memiliki seorang putri bernama Fatimah. Nama ibunya adalah Asma’ binti Ahmad bin Muhammad bin Shudrah Al-Khathib. Dikisahkan bahwa Fatimah biasa berpuasa satu hari, berbuka satu hari, dan hanya tidur sedikit di malam hari.
Awal mendengarkan hadis dan perjalanan keilmuan
Ath-Thabarani mulai mendengar hadis pada tahun 273 Hijriah. Ayahnya membawanya dalam perjalanan ilmiah dan sangat memperhatikannya dalam belajar, karena ayahnya sendiri termasuk ahli hadis dari kalangan murid Duhyaim. Perjalanan ilmiahnya dimulai pada tahun 275 Hijriah. Ia terus melakukan perjalanan dan bertemu para ulama selama 16 tahun.
Imam Ath-Tabarani Semoga Tuhan mengampuni dia mendengar hadis di berbagai negeri, di antaranya: di dua Tanah Haram (Makkah dan Madinah), Yaman, kota-kota di wilayah Syam, Mesir, Baghdad, Kufah, Bashrah, Ashbahan, Khuzistan, dan selainnya. Kemudian beliau menetap di Ashbahan dan tinggal di sana sekitar enam puluh tahun, menyebarkan ilmu dan menyusun karya-karya ilmiah.
Adz-Dzahabi Tuhan memberkati dikatakan,
Sebaliknya, dia tiba di Irak setelah dia menyelesaikan Mesir, Syam, Hijaz, dan Yaman. Jika tidak, jika dia pergi ke Irak terlebih dahulu, dia akan mendapatkan rantai penularan yang besar.
“Dia tiba di Irak setelah tamat (menimba ilmu) dari Mesir, Syam, Hijaz, dan Yaman. Seandainya dia ke Irak terlebih dahulu, niscaya dia memperoleh sanad yang sangat tinggi.”
Beliau menulis hadis dari siapapun yang ditemuinya, baik yang datang maupun yang pergi, hingga beliau menjadi sangat unggul dalam bidang hadis. Ia mengumpulkan, menyusun, dan menulis banyak karya. Umur panjang, dan para Muhaddith berbondong-bondong datang kepadanya dari berbagai negeri. Ia meriwayatkan hadis dari lebih dari seribu guru.
Para guru
Di antara ulama yang ditemuinya adalah murid-murid Yazid bin Harun, Ruh bin ‘Ubadah, Abu ‘Ashim, Hajjaj bin Muhammad, dan ‘Abdur Razzaq. Ia mendengar hadis dari sejumlah ulama di berbagai kota, seperti di Baitul Maqdis, Thabariyah, Qaisariyah, dan lain-lain. Dikisahkan juga dari tokoh-tokoh besar seperti:
- Abu Zur’ah Ad-Dimasyqi;
- Ishaq bin Ibrahim Ad-Dabari;
- Abdullah bin Ahmad bin Hanbal;
- Abu Abdurrahman An-Nasa’i;
- dan banyak lagi ulama besar dari berbagai wilayah seperti Syam, Mesir, Baghdad, dan Makkah.
Jumlah guru yang ditemuinya sangat banyak, mencerminkan luasnya wilayah tersebut rihlah (perjalanan ilmiah) dan kekuatan sanad dalam ilmu hadis.
Murid-muridnya
Banyak ulama yang meriwayatkan hadis dari Imam Ath-Tabarani Semoga Tuhan mengampuni dia. Ke Muhaddith berbondong-bondong datang kepadanya dari berbagai negeri untuk mengambil hadis darinya. Di antara yang meriwayatkan darinya adalah: Abu Khalifah Al-Jumahi, Al-Hafizh Ibnu ‘Uqdah (keduanya bahkan termasuk gurunya), Ibnu Mandah, Abu Bakar bin Mardawaih, Abu Nu‘aim Al-Ashbahani, Abu Sa‘id An-Naqqasy, dan sejumlah besar ulama lainnya dari berbagai wilayah.
Perawi terakhir darinya
Orang terakhir yang meriwayatkan darinya hingga wafatnya adalah Abu Bakar Muhammad bin Abdullah bin Rizhah At-Tajir yang wafat pada tahun 440 H. Setelahnya ada Abu Al-Qasim Abdurrahman bin Abi Bakar Adz-Dzakwani yang meriwayatkan dari Ath-Thabarani melalui derajat sampai kematiannya pada tahun 442 atau 443 H.
Banyaknya hadits dan besarnya minat terhadap sejarahnya
Abu Bakar bin Abi ‘Ali meriwayatkan bahwa ayahnya pernah bertanya kepada Ath-Tabarani tentang jumlah hadits yang dikumpulkannya. Dia menjawab,
Saya biasa tidur di bangku selama tiga puluh tahun
“Aku tidur di atas tikar anyaman selama tiga puluh tahun.”
Jawaban ini menunjukkan keseriusan, ketelitian, dan kegigihan beliau dalam menuntut dan mengumpulkan hadis.
Hadits Ath-Thabarani terus populer dan dicari sepanjang masa. Pada masa muridnya, Ibnu Rizhah, banyak orang yang belajar dan meriwayatkan darinya. Ulama seperti As-Silafi menulis dari sekitar seratus santri tersebut. Begitu pula Abu Musa Al-Madini dan Abu Al-‘Ala Al-Hamadzani.
Orang-orang juga berbondong-bondong mengambil riwayat dari perawi terakhir di jalur sanadnya, termasuk Fatimah Al-Jauzdaniyah yang wafat pada tahun 524 H. Para Muhaddith seperti Ibnu Khalil, Adh-Dhiya’, anak-anak Al-Hafizh Abdul Ghani, dan masih banyak lagi yang lain melakukan perjalanan khusus untuk mendapatkan hadits Ath-Tabarani, kemudian membawanya ke Syam, meriwayatkan, dan menyebarkannya. Kemudian sanadnya sampai kepada ulama-ulama besar seperti Ibnu Ja’wan, Al-Haritsi, Al-Mizzi, Ibnu Samah, Al-Barzali, dan lain-lain.
Adz-Dzahabi Tuhan memberkati dikatakan,
Dan yang terbaik dari itu adalah komunikasi (kamus kecilnya), jadi jangan sampai ketinggalan, semoga Tuhan mengasihani Anda
“Riwayat tertinggi yang masih nyambung (sanad) darinya adalah Al-Mu’jam Ash-Shaghir. Maka janganlah kalian melewatkannya, semoga Allah merahmati kalian.”
Baca juga: Biografi Imam Al-Qurthubi
Keyakinan dan metode
Imam Ath-Tabarani Semoga Tuhan mengampuni dia berada di atas keyakinan Ahl al-Hadits, mengikuti jejak basis dan manhaj para salaf yang saleh. Diantara karyanya dalam bidang kepercayaan adalah bukunya yang berjudul Sharh Kitab As-Sunnah (atau disebut juga: Kitab Sya’r As-Sunnah), yang merupakan salah satu kitab syahadat yang disusun berdasarkan metode Ahlus Sunnah dan Salaf. Meski kitab tersebut kini telah hilang, namun para ulama terdahulu sempat melihat dan mengenalinya. Buku ini adalah sebuah mahakarya.
Al-Hafizh Ibnu Mandah berkata dalam biografinya tentang Al-Hafizh Ath-Tabarani,
Puisi Kitab Sunnah ada sepuluh bagian
“Kitab As-Sunnah (karya beliau) terdiri dari sepuluh juz (bagian).”
Syekhul Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam kitabnya Dar’u Ta’arudh al-‘Aql wan-Naql,
Barang siapa yang merenungkan kitab-kitab yang tergolong dalam karya para Sahabat dan Pengikut, atau bahkan yang tergolong dalam Sunnah, seperti “Kitab Sunnah dan Jawaban Al-Jahmiyyah” karya Al-Athram dan Abdullah bin Ahmad… dan puisi Abu Al-Qasim Al-Tabarani dan Abu Al-Syekh Al-Asbahani… Dan berkali-kali lebih dari itu, maka dia melihat hal ini dari riwayat-riwayat yang diriwayatkan dan diulang-ulang dari para Sahabat dan Pengikut apa yang diketahui dari maka perlulah para Sahabat dan Pengikut mengucapkannya sesuai dengan syarat dan maknanya, dan sesuai dengan perkataan para ahli pembuktian yang meneguhkan transendensi Tuhan sendiri atas ciptaan-Nya, yang meneguhkan visi-Nya, dan yang mengatakan bahwa ucapan Al-Qur’an bukanlah ciptaan yang terpisah dari-Nya, dan ini menjadi bukti dari dua aspek; Salah satunya dari sudut pandang konsensus para pendahulu; Tidak mungkin mereka menyepakati cabang-cabangnya dalam suatu kesalahan, lalu bagaimana dengan prinsipnya? Kedua, mereka mengatakan apa yang sesuai dengan makna dan makna nash, tidak memahami apa pun yang bertentangan dengan itu
“Barangsiapa mempelajari kitab-kitab yang disusunnya basis teman dan atau masuk, bahkan kitab-kitab yang disusun dalam masalah sunnah, seperti Kitab Sunnah dan Ar-Radd ‘ala Al-Jahmiyyah karya Al-Atsram dan Abdullah bin Ahmad… juga karya Abu Al-Qasim Ath-Thabarani dan Abu Syaikh Al-Ashbahani… dan yang semisal mereka dalam jumlah yang banyak, niscaya ia akan menemukan di dalamnya dasar-dasarnya asli dan mutawatir dari para sahabat dan atau
Dari situ dapat dipastikan secara pasti (tanpa ragu) bahwa para sahabat dan atau berpikir sesuai dengan isi dan makna argumen. Mereka berada di atas opini Ahlul Itsbat (orang-orang yang menetapkan sifat-sifat Allah), yang menetapkan ketinggian Allah atas makhluk-Nya, menetapkan bahwa Allah dapat dilihat (di akhirat), serta menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah kalam-Nya, bukan makhluk dan tidak terpisah dari-Nya.
Hal ini menjadi dalil dari dua sisi:
Pertama, dari sisi ijmak salaf; karena tidak mungkin mereka bersepakat dalam kesalahan pada perkara cabang (hilang’), lalu bagaimana mungkin pada hal yang utama (ushul)?
Kedua, karena mereka berpendapat sesuai dengan makna dan kandungan nash-nash berkata, dan tidak memahaminya dengan arti sebaliknya.”
Adz-Dzahabi Tuhan memberkati katanya dalam bukunya Al-‘Uluw lil’ Aliy al-Ghaffar,
Hafiz Agung Abu al-Qasim Suleiman bin Ahmad bin Ayyub al-Lakhmi al-Shami, penduduk Isfahan, menulis dalam Kitab Sunnah babnya tentang apa yang dikatakan tentang berdirinya Tuhan Yang Maha Esa di singgasana-Nya, terpisah dari ciptaan-Nya. Beliau mengutip dalam surah hadits Abu Razin al-Uqaili, saya berkata: Wahai Rasulullah, dimanakah Tuhan kami? Dan hadits Abdullah bin Khalifa dari Umar tentang keagungan Tuhan atas singgasana-Nya, dan hadits tentang unta, dan singgasana itu ada di punggung mereka, dan Allah SWT di atasnya.
“Al-Hafizh Abu Al-Qasim Sulaiman bin Ahmad bin Ayyub Al-Lakhmi Ash-Syami yang agung, yang bertempat tinggal di Ashbahan, telah menyusun dalam kitabnya, As-Sunnah, sebuah bab tentang argumen tentang musim’ Allah Obat di atas Arsy-Nya, terpisah dari makhluk-Nya.
Dalam bab tersebut beliau membawa hadits Abu Razin Al-‘Uqaili yang mengatakan, “Aku bertanya, ‘Ya Rasulullah, dimanakah Tuhan kami?’”
Beliau juga membawa hadits Abdullah bin Khalifah dari Umar tentang ketinggian Tuhan di atas Arsy-Nya, serta hadits tentang kambing gunung (hadits Al-Aw’al), yang menyebutkan bahwa Arsy berada di atas punggung-punggung mereka dan bahwa Allah berada di atasnya.”
Ibnu Katsir Tuhan memberkati berkata dalam Tafsir Ibnu Katsir,
Al-Hafiz Abu Al-Qasim Al-Tabarani berkata dalam kitabnya Al-Sunnah, setelah banyak mengutip ucapan-ucapan ini dalam tafsir “Al-Samad”: Semua itu adalah benar, dan itu adalah sifat-sifat Tuhan kita Yang Maha Esa, dan Dialah yang sabar dalam kekurangan, dan Dialah yang habis nafkahnya, dan Dialah Samad yang tidak ada rongganya, dan tidak makan atau minum, dan Dialah yang tinggal setelah penciptaan-Nya.
Al-Hafizh Abu Al-Qasim Ath-Tabarani berkata dalam kitab tersebut As-Sunnah miliknya, setelah menyebutkan banyak pendapat dalam menafsirkan kata “Ash-Shamad”, “Semua pendapat itu sahih, dan itulah sifat-sifat Tuhan kita ‘Azza wa Jalla. Dialah tempat bergantung dalam segala kebutuhan. Dialah yang telah sempurna kemuliaan dan kepemimpinan-Nya. Dialah Ash-Shamad, yang tidak memiliki rongga (yakni tidak membutuhkan makan dan minum), tidak makan dan tidak minum, dan Dialah yang tetap ada setelah makhluk-Nya.”
[Bersambung]
LANJUT KE BAGIAN 2
***
Penulis: Gazzeta Raka Putra Setyawan
Artikel Muslim.or.id
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.