Kata pengantar
Ibadah haji merupakan rukun keempat dari lima rukun Islam. Haji merupakan kewajiban bagi setiap muslim mukallaf yang memiliki kemampuan. Allah berfirman,
Dan kewajiban Allah atas manusia untuk menunaikan ibadah haji ke Baitullah, siapa yang mampu memberi jalan kepadanya, dan siapa yang kafir, maka sesungguhnya Allah Maha Maha Mengetahui.
“Menjalankan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang bersedia berpergian ke Rumah Allah. Barang siapa yang menolak (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak membutuhkan apa-apa) dari alam semesta.” (QS. Ali ‘Imran : 97)
Mukallaf Maksudku sudah masa pubertas dan berakal. Memiliki kemampuan mencakup kemampuan badan dan juga harta. Kemampuan badan, yaitu badannya sehat serta mampu melakukan perjalanan jauh dan menunaikan rangkaian kegiatan manasik ibadah haji. Kemampuan harta, yaitu memliki harta untuk melakukan perjalanan dan juga biaya selama haji.
Didalam ziarah besar inilah terkandung Terima kasih dan beragam prioritas, di antaranya disebutkan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
Haji yang diterima tidak ada pahalanya kecuali surga.
“Tidak ada balasan yang pantas bagi orang yang hajinya mabrur selain surga.(HR.Muslim no.1349)
Dalam hadis lain disebutkan,
Barangsiapa yang menunaikan ibadah haji ke Rumah ini dan tidak melakukan perbuatan cabul atau berbuat maksiat, maka ia akan kembali seperti hari ibunya melahirkannya.
“Siapa yang berhaji ke Kakbah, lalu tidak berbuat rafats dan tidak berbuat kefasikan, maka dia kembali sebagaimana ketika dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Bukhari no. 1819 dan Muslim no. 1350)
Rafat maksudnya adalah melakukan hubungan suami istri dan segala hal yang mengarah kepada perbuatan tersebut, baik berupa perbuatan seperti mencium dan semisalnya, atau berupa perkataan seperti ucapan yang menggoda dan mengandung syahwat.
Allah telah menjadikan kewajiban ini istimewa dengan menjadikan hari-hari haji sebagai hari-hari terbaik dalam setahun, sebagaimana dijelaskan dalam hadits,
Tidak ada hari-hari yang lebih besar bagi Allah dan lebih dicintai-Nya daripada mengerjakannya selain sepuluh hari ini
“Tidak ada hari-hari yang lebih besar di sisi Allah dan tidak ada amal shaleh di dalamnya yang lebih dicintai-Nya daripada sepuluh hari pertama bulan Zulhijjah.” (HR.Ahmad no.6155, hasan)
Allah juga mengistimewakan hari Arafah di antara sepuluh hari ini dengan beberapa keutamaan, dan menjadikan wukuf di Arafah sebagai bagian penting dari rukun ibadah haji, sebagaimana disebutkan,
Haji Arafa
“Haji adalah Arafat.” (HR. Abu Dawud no. 1949, autentik)
Karena pentingnya hari Arafah, dan agungnya kedudukannya, maka Syekh ‘Abdurrazzaqq hafidzahullah mengumpulkan sejumlah prioritas yang ditetapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai hari ini, agar orang yang sedang berhaji merasakan betapa besar nikmat ini. Ini merupakan kemuliaan yang besar yang Allah mudahkan ketika bisa bertemu dengan hari ini dan menunaikan ibadah yang agung pula pada hari ini.
Prioritas pertama: Hari Arafah adalah hari terbaik dalam setahun
Hari Arafah adalah hari kesembilan di bulan Zulhijah. Disebutkan dalam hadis Nabi bahwa sepuluh hari awal bulan Zulhijah adalah hari-hari terbaik dalam satu tahun, dan amal saleh di hari-hari tersebut lebih baik dibandingkan amal di hari-hari lainnya. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dikatakan,
Tidak ada hari-hari yang lebih besar bagi Allah dan lebih dicintai-Nya daripada mengerjakannya selain sepuluh hari ini
“Tidak ada hari yang lebih besar di sisi Allah dan tidak ada amal shaleh di dalamnya yang lebih dicintai-Nya daripada sepuluh hari pertama bulan Zulhijjah.” (HR.Ahmad no.6155)
Allah telah bersumpah dengan sepuluh hari ini dalam Al-Qur’an, dan Allah tidak akan bersumpah kecuali dengan sesuatu yang besar. Allah Obat dikatakan dalam surat Al-Fajr,
Dan sepuluh malam
“(Demi sepuluh malam).”
Ibnu ‘Abbas semoga Allah memberkati dia dan memberinya kedamaian bersabda, “Sesungguhnya sepuluh malam yang disebutkan Allah dalam sumpah di ayat ini adalah sepuluh malam pertama di bulan Zulhijjah.” Demikian pula yang dikatakan oleh ‘Abdullah bin Zubair, Mujahid, Masruq, ‘Ikrimah, Qatadah, Adh-Dhahak, dan ulama Salaf lainnya. Hal ini juga dibenarkan oleh Ibnu Jarir Ath-Tabary, dan disebutkan demikian ijma’ ulama tafsir.
Bahkan Allah bersumpah secara khusus dengan hari Arafah dalam surah Al-Buruj yang menunjukkan ada keistimewaan yang lebih dibanding 10 hari lainnya,
Dan seorang saksi dan seorang saksi
“Demi yang menyaksikan dan yang disaksikan.“ (QS. Al Bruuj : 3)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dikatakan,
Hari yang disaksikan adalah Hari Arafat, dan hari yang disaksikan adalah hari Jumat
“Hari yang disaksikan adalah hari Arafat. Saksinya adalah hari Jumat.(HR. Tirmizi no. 3339, riwayat Al-Albani).
Hadits inilah yang menjadi landasan tafsir yang dijelaskan oleh khalifah ‘Ali bin Abi Thalib, Abu Hurairah, dan Ibnu ‘Abbas. semoga Allah memberkati dia dan memberinya kedamaian.
[Bersambung]
***
Penerjemah: Diterjemahkan oleh Mianoki
Artikel Muslim.or.id
Catatan kaki:
Diterjemahkan dari buku Fadhai-lu Yaumi ‘Arafah, karya Syekh Prof.Dr.’Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin al-Badr hafidzahullah
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.