Etika “Sharenting” (Berbagi Konten Anak di Media Sosial) dalam Islam

Di era digital, fenomena “berbagi” yaitu berbagi konten anak telah menjadi praktik umum. Orang tua dengan mudah mengunggah foto, video, dan cerita tentang anak mereka ke media sosial, mulai dari momen lucu, prestasi, hingga kondisi keseharian. Namun, di balik niat baik untuk berbagi kebahagiaan dan kebanggaan, tersimpan pertanyaan fikih: bagaimana Islam memandang praktik ini? Apakah hak privasi dan martabat anak dalam Islam juga berlaku di ruang digital?

Dasar hukum dan prinsip syariat dalam pengasuhan

Tanggung jawab orang tua dalam Islam adalah sebuah amanah dari Allah Ta’ala yang bersifat sangat mulia dan berat. Al-Qur’an dan As-Sunah telah menetapkan kerangka dasar kewajiban ini, yang menjadi fondasi dalam menilai setiap tindakan pengasuhan, termasuk berbagi.

Kewajiban mendidik dan melindungi

Allah Ta’ala dikatakan,

Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu

“Hai orang-orang yang beriman! Lindungilah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu…” (QS. At-Tahrim: 6)

Ayat ini menegaskan bahwa lingkup pertama tanggung jawab seorang mukmin adalah melindungi diri dan keluarganya dari segala bentuk keburukan dan bahaya, baik di dunia maupun akhirat. Rasulullah ﷺ mempertegas konsep tanggung jawab ini dalam sabdanya yang agung,

Masing-masing kamu adalah seorang penggembala dan masing-masing kamu bertanggung jawab terhadap kawanannya.

“Setiap dari kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya…” (HR. Al-Bukhari no. 2049 dan Muslim no. 1829)

Anak adalah bagian utama dari “rakyat” yang dipimpin oleh orang tuanya. Oleh karena itu, setiap keputusan untuk membagikan informasi tentang mereka ke ranah publik yang tak terbendung adalah bagian dari tanggung jawab yang akan dipertanyakan di hadapan Allah.

Jaga privasi dan aurat

Islam sangat memuliakan dan menjunjung tinggi privasi. Allah Ta’ala dikatakan,

Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah sepertiga dari kalian yang memiliki tangan kanan kalian dan yang belum mencapai kedewasaan hendaknya meminta izin kepada kalian. Dia lulus

“Hai orang-orang yang beriman! Hendaklah hamba-hamba yang kamu miliki dan orang-orang yang belum cukup umur di antara kamu meminta izin kepadamu tiga kali (dalam satu hari)…” (QS. An-Nur : 58)

Ayat ini, meski berbicara dalam konteks kondisi tertentu, mengajarkan prinsip universal tentang penghormatan terhadap ruang privat (aurat) individu, termasuk anak-anak yang belum balig. Membagikan momen-momen privat anak—seperti saat mereka mandi, tertidur, atau sedang menangis—tanpa pertimbangan yang matang dapat dianggap melanggar privasi waktu dan keadaan mereka.

Larangan merugikan diri sendiri dan orang lain

Nabi ﷺ berkata,

Tidak ada salahnya, tidak ada salahnya

“Tidak dapat menimbulkan bahaya dan tidak dapat menanggapi bahaya.” (HR. Ibnu Majah no. 2340)

Kaidah fikih ini menjadi parameter kritis. Jika aktivitas berbagi terbukti atau berpotensi menimbulkan dharar (bahaya) bagi anak, baik secara fisik (seperti risiko pencurian identitas dan eksploitasi), maupun secara psikis (seperti rasa malu di kemudian hari atau menjadi bahan penindasan maya)maka hukumnya dapat bergeser ke arah haram.

Ancaman ‘ain dan bahaya digital

Di antara pertimbangan khusus yang diajarkan oleh para ulama adalah terkait ancaman ‘ain, yaitu pandangan mata yang dapat membahayakan. Ketika Ibnu Hajar al-Asqalani Tuhan memberkati menjelaskan tentang ‘ain, dia berkata,

Tatapan setuju yang diwarnai dengan rasa iri dari sifat jahat yang menimbulkan kerugian bagi orang yang dipandang.

“Pandangan (kagum/takjub) yang tercampur dengan rasa dengki dari orang yang berwatak buruk, yang mengakibatkan bahaya pada orang atau benda yang dilihatnya.” (Iman al-Bari10:200)

Al-Qur’an sendiri mengisyaratkan fakta ‘ain dalam firman-Nya tentang orang-orang kafir yang hampir menjatuhkan Rasulullah ﷺ dengan tatapannya (QS. Al-Qalam: 51). Nabi ﷺ pun bersabda,

Matanya benar

‘Ain itu nyata.” (HR. Al-Bukhari no. 5740 dan Muslim no. 2188)

Dalam konteks berbagimembagikan foto atau video anak—terutama yang menampilkan kelebihan, kecantikan, kecerdasan, atau kemudahan rezeki—dapat memancing pandangan takjub atau bahkan dengki dari sejumlah orang. Meski ‘ain terjadi dengan izin Allah dan bukan semata-mata karena foto tersebut, namun membuka peluang atau tidak melakukan sadd adz-dzari’ah (menghalangi jalan menuju kerusakan) adalah kelalaian.

Syekh Yusuf al-Qaradawi hafidzahullah menyatakan bahwa suatu perbuatan yang asalnya mubah (seperti berbagi foto) dapat berubah status hukumnya menjadi makruh atau haram jika menimbulkan mafsadah (kerusakan) yang lebih besar, seperti membuka peluang ‘Ain, Riya’, ujub, atau bahaya fisik dan non-fisik lainnya bagi anak.

Bahaya duniawi lainnya yang sangat nyata dan diungkap oleh penelitian modern termasuk:

  • Kehilangan kontrol atas identitas digital: Sejak lahir, jejak digital anak sudah terbentuk tanpa persetujuan mereka.
  • Risiko keamanan: Informasi seperti nama lengkap, tanggal lahir, lokasi sekolah, dan rutinitas dapat disalahgunakan untuk tujuan kejahatan.
  • Dampak psikologis jangka panjang: Konten yang dianggap lucu oleh orang tua mungkin menjadi sumber rasa malu dan bahan perundungan saat anak dewasa.

Berdasarkan tinjauan di atas, maka hukum asalnya adalah mubah, tetapi kebolehan ini bersyarat dan dapat berubah sesuai dengan niat, cara, dan konsekuensinya. Prinsip utama yang harus dipegang adalah “mendahulukan kemaslahatan (kebaikan) dan perlindungan anak daripada keinginan orang tua untuk berbagi.”

Pada akhirnya, tanggung jawab utama orang tua adalah mendidik dan melindungi anak untuk menjadi hamba Allah yang saleh, bukan menjadikan mereka sebagai “konten” yang diekspos untuk konsumsi publik. Kebahagiaan terindah justru seringkali ada dalam momen privat yang tidak terekspos, yang hanya menjadi kenangan manis antara anak, orang tua, dan rida Allah Obat.

Demi Allah, Ta’ala. Semoga bermanfaat.

Baca juga:

***

Penulis: Junaidi Abu Isa

Artikel Muslim.or.id



Berita Terkini

Berita Terbaru

Daftar Terbaru

News

Jasa Impor China

Berita Terbaru

Flash News

RuangJP

Pemilu

Berita Terkini

Prediksi Bola

Technology

Otomotif

Berita Terbaru

Teknologi

Berita terkini

Berita Pemilu

Berita Teknologi

Hiburan

master Slote

Berita Terkini

Pendidikan

Resep

Jasa Backlink

Slot gacor terpercaya

Anime Batch