Bulan Ramadan adalah musim kebaikan yang paling agung dalam kehidupan seorang muslim. Sebuah momentum besar untuk memperbaiki hubungan dengan Allah Obat dan meningkatkan kualitas ibadah.
Kesempatan berupa kehidupan yang masih diberikan, kesehatan, ilmu, perekonomian, dan kemampuan yang Allah anugerahkan kepada kita sehingga kita mampu menjalani ibadah yang agung ini merupakan nikmat yang sangat besar. Sebuah keberkahan yang sangat dirindukan oleh orang-orang yang telah mendahului kita, yang mungkin ingin kembali ke dunia untuk beramal sejenak. Inilah gambaran betapa di bulan mulia ini dilipatgandakan amalan seorang hamba.
Seperti firman Tuhan Ta’ala,
Hingga ketika ajal menjemput salah seorang di antara mereka, dia berkata, “Ya Tuhanku, kembalikan aku, semoga aku bisa mengerjakan amal saleh dengan apa yang aku tinggalkan.” TIDAK.
“Supaya ketika kematian menimpa salah seorang di antara mereka, dia berkata, ‘Ya Tuhanku, kembalikan aku (ke dunia), agar aku dapat beramal shaleh atas apa yang telah aku tinggalkan.’ Tidak pernah…” (QS. Al-Mu’minun: 99–100)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampaikanlah kabar gembira kepada para sahabatnya ketika Ramadhan tiba, karena bulan ini adalah bulan yang penuh berkah, ampunan, dan rahmat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dikatakan,
Ketika Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan dirantai.
“Ketika Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan dibelenggu.” (HR. Bukhari no. 1899 dan Muslim no. 1079)
Ramadan adalah kesempatan emas untuk memperbanyak amal saleh. Jalan menuju kebaikan dibuka lebar, sementara penghalang-penghalang ketaatan dipersempit. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya menyambut Ramadan dengan persiapan iman, ilmu, dan amal, sebagaimana seorang pedagang bersiap menghadapi musim keuntungan besar.
Bahkan, kita bisa membayangkan bahwa bisa jadi ini merupakan kesempatan terakhir kita untuk beramal di bulan Ramadan. Tidak ada yang tahu, bisa jadi Ramadan tahun depan kita telah kembali ke asal (kubur) karena jatah hidup kita sampai disini.
Jadi, sangat layak bagi kita untuk benar-benar menjadikan momentum ‘terakhir’ ini sebagai persembahan terbaik kita kepada Tuhan Obat dengan segala amal saleh yang bisa kita kerjakan semaksimal yang kita mampu sesuai petunjuk sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Allah Obat dikatakan,
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu menjadi orang yang bertakwa.
“Hai orang-orang yang beriman, wajib atas kamu berpuasa sebagaimana wajib atas orang-orang sebelum kamu agar kamu menjadi orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah : 183)
Keutamaan bersedekah di bulan Ramadhan
Salah satu keistimewaan Ramadhan adalah berlipat gandanya pahala amal shaleh. Bacalah sejarah para Nabi terdahulu ya Allah Obat memberi mereka umur panjang hingga ratusan tahun. Sementara kita, umat Nabi Muhammad SAW shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah batasi dalam rentang 60 – 70 tahun. Namun, Allah memberikan keistimewaan kepada kita berupa keberkahan dan pahala yang berlipat ganda atas amal saleh yang kita kerjakan pada bulan yang mulia ini dengan syarat adanya keikhlasan dan mengikuti petunjuk nabawi.
Dalam hadits qudsi disebutkan bahwa puasa memiliki kedudukan istimewa di sisi Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dikatakan,
Allah SWT berfirman: Setiap amalan anak Adam adalah untuknya kecuali puasa, karena itu untuk Aku dan Aku akan membalasnya.
“Allah Ta’ala berfirman: Segala amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku dan Aku akan membalasnya.” (HR. Bukhari no. 1904 dan Muslim no. 1151)
Berbicara mengenai keikhlasan, maka dalam amalan puasa dituntut keikhlasan seorang hamba untuk mempersembahkan ibadahnya hanya kepada Allah saja; sangat dituntut. Begitulah bila kita mencoba merenungkan makna hadis di atas. Betapa istimewanya amalan puasa di hadapan Allah Obat. Oleh karenanya, inilah waktu terbaik untuk memperbanyak ibadah.
Banyak amal ibadah yang dapat kita lakukan di bulan mulia ini, yang kadang terlihat ringan dikerjakan, tapi jika tidak didorong oleh keinginan yang kuat untuk memperoleh ganjaran pahala dari Allah, maka akan terasa berat. Jika kita tidak membekali ilmu tentang kemuliaan amalan-amalan saleh ini, khususnya di bulan Ramadan, maka semua terasa biasa saja. Oleh sebab itu, mari bekali diri dengan ilmu, dan maksimalkan ibadah-ibadah mulia seperti: salat malam (tarawih), tilawah Al-Qur’an, sedekah, zikir, doa, i’tikaf, dan berbagai amalan ibadah lainnya sesuai tuntunan Nabi.
Prioritas Lailatul Qadar
Salah satu manfaat terbesar Ramadhan adalah keberadaannya Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir. Persiapkanlah diri untuk momentum agung yang setara dengan seribu bulan ini. Sungguh, tidak ada orang yang lebih rugi dari mereka yang tidak memaksimalkan dan memanfaatkan kesempatan beribadah pada malam Lailatul Qadar.
Allah Obat dikatakan,
Malam Ketetapan lebih baik dari seribu bulan
“Malam kemuliaan lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al-Qadr : 3)
Saudaraku, bayangkan bahwa seribu bulan setara dengan lebih dari 83 tahun. Ini menunjukkan betapa besar rahmat Allah kepada umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi berkata,
Barangsiapa yang melaksanakan salat Malam Ketetapan karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.
“Barangsiapa menjalani Lailatul Qadr dengan iman dan mengharapkan pahala, maka dosa masa lalunya akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 1901 dan Muslim no. 760)
Berdasarkan hadis tersebut, kita memahami bahwa ibadah satu malam dapat mengubah hidup seorang hamba selamanya. Inilah kesempatan bagi kita untuk mencoba menyeimbangkan amalan para Nabi terdahulu yang dianugerahi umur panjang. Sedangkan kita, walaupun umur kita tidak sepanjang mereka, namun kita diberkahi dengan keberkahan ibadah seperti Ramadhan dan Ramadhan. Lailatul Qadar.
Baca juga: Temukan Keutamaan Malam Lailatul Qadr
Kemurahan hati Rasulullah di bulan Ramadhan
Di bulan ini, iman yang benar tidak berhenti pada salat dan pembacaan, namun melahirkan empati, kepedulian, dan kedermawanan. Dan teladan terbesar dalam hal ini adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia bukan hanya manusia yang paling dermawan, namun kedermawanannya mencapai puncaknya di bulan Ramadhan.
Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhuma, dia berkata,
Rasulullah adalah orang yang paling dermawan, dan beliau adalah orang yang paling dermawan di bulan Ramadhan, ketika Jibril bertemu dengannya, dan dia bertemu dengannya setiap malam di bulan Ramadhan. Maka dia akan belajar Al-Qur’an bersamanya, karena Rasulullah lebih dermawan dengan kebaikan daripada angin yang bertiup.
“Rasulullah adalah manusia yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan ketika Jibril bertemu dengannya. Jibril menemuinya setiap malam di bulan Ramadhan, lalu mengajari dan mengaji bersamanya. Sesungguhnya Rasulullah lebih dermawan kebaikannya dari pada angin.” (HR. Bukhari no. 6 dan Muslim no. 2308)
Dalam riwayat tersebut dijelaskan bahwa ketika malaikat Jibril ‘alaihissalam datang menemuinya setiap malam di bulan Ramadhan untuk mengajar dan mengulang-ulang Al-Qur’an, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jadilah lebih murah hati dari pada angin yang bertiup. Angin bertiup kencang, menyentuh siapapun tanpa pandang bulu, dan memberi manfaat seluas-luasnya. Begitu pula dengan sedekah Nabi: cepat, tepat, dan menjangkau banyak orang.
Kedermawanan beliau lahir dari hati yang penuh keyakinan bahwa dunia hanyalah titipan, dan bahwa apa yang disedekahkan tidak pernah mengurangi harta, justru menambah keberkahan. Ramadan mempertemukan dua kekuatan besar dalam diri seorang mukmin: tilawah yang menghidupkan hati dan sedekah yang melembutkan jiwa. Maka, siapa yang benar-benar merasakan manisnya Ramadan, ia akan ringan tangan membantu sesama, memberi makan orang yang berbuka, memperhatikan fakir miskin, dan memperluas manfaat untuk orang lain. Inilah bukti bahwa Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi tentang melapangkan hati.
Menghargai waktu di bulan Ramadan
Ramadan adalah bulan yang singkat, namun nilainya sangat besar. Hari-harinya terbatas, malam-malamnya terhitung, dan setiap detiknya bernilai pahala. Oleh karena itu, seorang muslim harus benar-benar menjaga waktunya dari perkara sia-sia yang tidak mendekatkannya kepada Allah.
Allah Obat dikatakan,
Beberapa hari
“(Puasa itu) dalam beberapa hari yang terbilang.” (QS. Al-Baqarah : 184)
Ungkapan “ayyāman ma’dudāt” menunjukkan betapa cepatnya hari-hari berlalu. Ramadhan tidak lama lagi. Dia datang sebentar, lalu meninggalkan wadahnya. Bagi yang memanfaatkannya, ia meninggalkan pahala; bagi yang lalai meninggalkan penyesalan. Berapa banyak orang yang tahun lalu masih bersama kita, namun kini sudah berada di alam kubur dan tidak lagi mempunyai kesempatan untuk berpuasa satu hari pun.
Karena memahami hal ini, para ulama Salaf sangat menjaga waktu mereka di bulan Ramadan. Mereka memperbanyak tilawah Al-Qur’an, bahkan sebagian dari mereka mengkhatamkannya berkali-kali. Mereka mengurangi pembicaraan yang tidak bermanfaat, menjauhi majelis sia-sia, dan memfokuskan diri pada salat, zikir, doa, serta i’tikaf. Imam Malik Tuhan memberkati ketika memasuki Ramadan meninggalkan majelis hadis dan fokus membaca Al-Qur’an. Mereka sadar bahwa Ramadan adalah musim panen, bukan musim santai.
Mereka memahami bahwa Ramadan adalah kesempatan yang mungkin tidak akan kembali. Seorang mukmin sejati tidak tertipu oleh panjangnya angan-angan. Ia menyadari bahwa bisa jadi ini adalah Ramadan terakhirnya. Oleh karena itu, ia berusaha agar tidak ada satu malam pun berlalu tanpa qiyamullail, tidak ada satu hari pun berlalu tanpanya pembacaan, dan tidak ada satu kesempatan pun terlewat tanpa amal.
Ramadhan adalah anugerah yang luar biasa dari Tuhan Obat. Tidak semua orang diberi kesempatan untuk bertemu dengannya. Ada yang meninggal sebelum kedatangannya, ada pula yang hidup namun tidak diberi kekuatan untuk beribadah secara maksimal.
Semata-mata bertemu dengan Ramadan adalah nikmat yang sangat agung. Namun, bertemu saja tidak cukup. Yang lebih penting adalah diberi taufik untuk mengisinya dengan ketaatan. Sebab banyak orang yang hadir secara fisik di bulan Ramadan, tetapi hatinya lalai dan waktunya habis dalam perkara yang tidak bernilai akhirat.
Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya senantiasa memohon pertolongan kepada Allah agar dimudahkan dalam beribadah. Allah Obat dikatakan,
Kesuksesanku hanya bersama Tuhan
“Dan tidak ada taufik bagiku kecuali dengan pertolongan Allah.” (QS. Hud : 88)
Insya Allah Obat menjadikan kita termasuk orang-orang yang berhasil memanfaatkan Ramadan, mengampuni dosa-dosa kita, menerima amal ibadah kita, dan mempertemukan kita dengan Lailatul Qadar.
Amin. Tuhan memberkati.
Baca juga: Apa Amalan Terbaik di Bulan Ramadhan?
***
Penulis: Fauzan Hidayat
Artikel Muslim.or.id
Berita Terkini
Berita Terbaru
Daftar Terbaru
News
Jasa Impor China
Berita Terbaru
Flash News
RuangJP
Pemilu
Berita Terkini
Prediksi Bola
Technology
Otomotif
Berita Terbaru
Teknologi
Berita terkini
Berita Pemilu
Berita Teknologi
Hiburan
master Slote
Berita Terkini
Pendidikan
Resep
Jasa Backlink
Slot gacor terpercaya
Anime Batch