Bagaimana Cara Menentukan Malam Lailatul Qadr?

Perbincangan tentang kapan terjadinya lailatul qadar selalu menjadi bahan obrolan panas di setiap Ramadan. Ada sebagian yang melakukan penelitian tertentu dengan melihat tanda alam, ada yang menghitung tanggal berdasarkan riwayat salaf, atau bahkan mengaku melihat malaikat Jibril turun kepadanya memberitahukan malam itu lailatul qadar. Ini semua adalah fenomena yang terjadi di masyarakat. Hal ini tidak sekadar meramaikan suasana Ramadan, tetapi bisa berkonsekuensi kepada akidah seorang muslim.

Oleh karena itu, penentuan lailatul qadar menjadi penting bagi umat Islam. Bukan sekedar motivasi untuk memperbanyak amal, namun tentang bagaimana seharusnya seorang muslim berinteraksi dengan hal gaib. Selain itu, terdapat manfaat budi pekerti dalam berinteraksi dengan ayat dan narasi.

Mulai mencari lailatul qadar di paruh kedua Ramadhan

Terdapat banyak pendapat dari kalangan ulama salaf mengenai kapan terjadinya lailatul qadar. Di dalam Lathaiful Maarif, Ibnu Rajab Tuhan memberkati mengumpulkan beragam riwayat bahwasanya para ulama terdahulu mulai mencari lailatul qadar dari paruh kedua bulan Ramadan. Artinya, dari malam ke-15 sudah ada dari kalangan para sahabat yang memfokuskan diri meningkatkan amalan malam Ramadannya. Di antaranya adalah Ubay bin Kaab mendasari perbuatannya melakukan qunut di witir pada paruh kedua Ramadan karena berharap datangnya lailatul qadar. Ibnu Rajab Tuhan memberkati menilai ini didasarkan pada hadis,

Saya melihatnya dan melupakannya, jadi saya melewatkannya di sore hari

“Aku mengetahuinya, lalu melupakan kapannya, jadi carilah dia di separuh terakhir Ramadan.” (HR. Thabrani, sebagian nukilan para wanitanya didapatkan pula pada riwayat Muslim)

Namun, setelah perintah ini, Nabi ﷺ pun memerintahkan untuk mencari di malam ke-23.

Salah satu pendapat kuat di luar 10 malam terakhir adalah malam ke-17 Ramadan, karena banyak dikaitkan dengan peristiwa besar di sejarah Islam. Kejadian besar yang terjadi di malam ke-17 adalah peristiwa perang Badr yang menjadi momentum kemenangan kaum muslimin atas kaum kuffar Quraisy.

Juga tersedia basis dari Ibnu Mas’ud yang dinilai marfu’ oleh Ibnu Rajab, tetapi dilemahkan sebagian ulama,

Carilah pada malam ketujuh belas bulan Ramadhan, malam kedua puluh satu, dan malam kedua puluh tiga.

“Saya mencarinya pada malam ke-17 Ramadhan, malam ke-21, dan malam ke-23.” (HR. Abu Dawud no. 1384, dievaluasi hasan. Al-Mundziri memberikan komentar pada perawinya, yakni Hakim bin Saif, sebagai tokoh yang diperbincangkan)

Namun, semua riwayat ini lemah. Akan tetapi, ada sebagian riwayat yang menyebutkan para salaf melakukannya. Apakah ini bertentangan? Jawabannya tidak. Lantas bagaimana cara menyikapinya?

Baca juga: Kapan Malam Lailatul Qadar Tahun Ini?

Bagaimana menyikapi riwayat lemah berkaitan lailatul qadar?

Simaklah keterangan Ibnu Rajab Tuhan memberkati berikut,

Juga, setiap waktu berbeda dari siang atau malam. Akhir darinya lebih baik dari pada awalnya, Seperti hari Arafah, dan hari Jumat. Serta siang dan malam pada umumnya; Akhir dari segalanya lebih baik dari pada awalnya. Oleh karena itu, salat tengah adalah salat Ashar, sebagaimana disebutkan dalam hadis-hadis shahih, dan banyak riwayat para pendahulu yang menunjukkannya. Dan juga sepuluh hari Dzulhijjah dan Muharram. Yang terakhir lebih baik dari yang pertama

“Alasan lainnya adalah setiap waktu itu utama, baik siang atau malam. Sedang bagian akhirnya selalu lebih utama daripada bagian awalnyamisalnya hari Arafah dan hari Jumat. Begitu pula di seluruh waktu malam maupun siang secara umum, bagian akhirnya selalu lebih utama daripada bagian awalnya. Oleh karena itu, salat pertengahan atau salat wushtha yaitu shalat Asar berdasarkan hadis shahih yang ada dan dasar-dasarnya dari para salaf. Begitu juga sepuluh hari pertama bulan Zulhijah dan Muharam, bagian akhirnya selalu lebih utama daripada bagian awalnya.” (Lathaiful Maarif, hal. 176)

Artinya, kiprah para ulama terdahulu tersebut dalam rangka semakin mendekati akhir, mereka semakin meningkatkan daya tarik amal gas. Inilah pesan yang ingin kami sampaikan. Bukan menekankan lemahnya praktik berbasis hadis, namun bagaimana budaya yang terbentuk di kalangan salaf sebelumnya dalam mencari lailatul qadar.

Nabi ﷺ juga melakukan iktikaf dan mengejar malam sejak paruh kedua Ramadhan. Namun dalam riwayat shahih dijelaskan bahwa Nabi ﷺ memerintahkan untuk melakukan pencarian pada 10 malam terakhir. Ibnu Rajab Tuhan memberkati menjelaskan bahwa riwayat ini semua menunjukkan bahwasanya Nabi ﷺ belum mendapatkan isyarat bahwa lailatul qadar hadir di 10 malam terakhir. Ketika sudah mendapatkan wahyu tersebut, maka Nabi ﷺ pun memerintahkan untuk meningkatkan amal di 10 malam terakhir.

Dan berbagai riwayat yang menyebutkan Nabi ﷺ tidak tidur di 10 malam terakhir pun tak lepas dari kritik setahun. Sehingga yang ingin kita tekankan adalah bagaimana suasana mengejar malam kemuliaan itu dibangun. Kritik yang mengenai riwayat-riwayat ini tidak melemahkan pesannya untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas amal di paruh akhir.

Sebab, tercermin dari aksi masyarakat Madinah misalnya, mereka memperkuat semangat bersedekah sejak tanggal 17 Ramadhan, seperti dikutip Imam Ahmad. Tuhan memberkati. Begitupula ada sebagian yang mengkhususkan mencari di malam tersebut, di antara penduduk Mekah dan Madinah. Begitupula pendapat Qadhi Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan Asy-Syaibani yang menilai bahwa lailatul qadar dicari di paruh kedua Ramadan tanpa ditentukan pastinya di hari ke berapa.

Semuanya menyimpulkan bahwa pesan kuncinya adalah bersemangat mengejar lailatul qadar sedini mungkin.

Namun, jika artikel ini hanya berhenti sampai sini, maka ini akan mengecewakan para pembaca yang menuntut jawaban dari pertanyaan pada judul tersebut. Oleh karena itu, kita akan membahas bagaimana para salaf terdahulu merekam tanda-tanda lailatul qadar.

Tanda malam lailatul qadar

Ada beberapa qarinah (indikasi) yang menunjukkan terjadinya lailatul qadar pada malam yang memiliki ciri atau rumus tersebut. Tujuannya bukan untuk memastikan, namun untuk menghimpun ciri-ciri yang dilihat oleh para Salaf sebelumnya lailatul qadar. Perbuatan ini merupakan perwujudan sifat-sifat yang Allah ﷻ sebutkan dalam Al-Quran.

Damai, ini sampai awal fajar.

“Keselamatan terjadi sampai akhir terbitnya fajar.” (QS. Al-Qadr: 5)

Tanda-tandanya berupa riwayat shahih Nabi ﷺ terkait waktu, dan juga suasana yang terjadi. Terdapat juga riwayat pengalaman dan pengamatan para Salaf setelah zaman Nabi ﷺ.

1) Udara terasa sejuk, tenang, dan cerah. Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, Nabi ﷺ berkata,

Malam adalah malam yang menyenangkan, panas dan tidak panas dan tidak dingin. Matahari menjadi lemah dan merah di pagi hari

“[Malam] lailatul qadar adalah malam yang indah, cerah, tidak panas dan tidak juga dingin, keesokan harinya cahaya sinar mataharinya melemah kemerah-merahan.” (HR. At-Thayalisy no. 349, Ibnu Khuzaimah 3: 231, Bazzar 1: 486, dan dihasankan oleh Syekh Ali Hasan Al-Halabi)

2) Matahari pada pagi harinya jernih dan tidak ada sinar yang menyilaukan. Dari Ubay semoga Tuhan memberkatimu, Nabi ﷺ berkata,

Pada pagi hari suatu malam sampai matahari terbit, tidak ada sinarnya, seolah-olah tertutup sampai terbit

“Pagi siang malam lailatul qadar, matahari terbit tidak ada sinar menyilaukan, seperti bejana hingga meninggi.” (HR. Muslim no. 762)

3) Ada rasa ketenangan dan kelezatan dalam beribadah karena Jibril ‘alaihissalam dan para malaikat turun malam itu. Allah ﷻ berfirman,

Para malaikat dan ruh turun ke dalamnya

“Pada malam itu turunlah malaikat dan malaikat Jibril.” (QS. Al Qadar : 4).

Ibnu Katsir Tuhan memberkati menafsirkan, “Banyak malaikat yang akan turun lailatul qadar karena banyaknya berkah pada malam tersebut. Karena sekali lagi, turunnya malaikat menandakan turunnya berkah dan rahmat.”

Dari semua tanda di atas, kita tidak mengetahui dengan pasti kapan malam lailatul qadar terjadi. Semuanya hanyalah tanda yang tidak bisa kita pastikan. Inilah jawaban akhirnya: tidak ada cara menentukan malam lailatul qadar secara pasti.

Namun, tentu ada hikmah dari tindakan Tuhan tersebut lailatul qadar sebagai rahasia bagi hamba-Nya.

Apa hikmah dirahasiakannya malam lailatul qadar?

Hikmahnya adalah agar kita sapu bersih setiap malam di bulan Ramadan. Hanya saja isyarat-isyarat ini akan mendorong kita untuk menentukan momentum menekan gas amal kita mulai kapan. Praktik Nabi ﷺ dan para sahabat yang mulia adalah demikian, mereka tidak membeda-bedakan secara ekstrem hari-hari mulia di bulan Ramadan. Sebagaimana prinsip yang dikemas oleh Ibnu Rajab semoga Allah mengampuni dia,

“Hari-hari di Ramadan sama mulianya dengan malam Ramadan. Dan semakin mendekati ujung suatu momentum, maka semakin istimewa.”

Jadilah kita hamba Allah ﷻ yang menyembah-Nya kapan saja dan karena alasan Dialah Zat yang berhak disembah. Bukan karena sekadar hari istimewa. Hari-hari istimewa adalah kemurahan Allah ﷻ untuk memotivasi kita lebih semangat beramal. Dan tentu, sangat mudah bagi akal kita menerima fakta bahwa: pelari yang berlatih 30 hari akan lebih berhak meraih podium juara dibandingkan orang biasa yang baru berlari di momen perlombaan tersebut.

Pilihan ada di tangan Anda: menjadi pelari yang terlatih atau menjadi orang biasa yang baru mencoba berlari di hari perlombaan?

Baca juga: Untung Besar di Malam Lailatul Qadr

***

Penulis: Glenshah Fauzi

Artikel Muslim.or.id

Catatan kaki:

Seluruh catatan ini mengacu kepada kitab Lathaiful Maarif karya Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali Tuhan memberkati dengan Tentu Asy-Syekh Yasin Muhammad As-Sawas. Umumnya penilaian terhadap hadis ini didasarkan pada catatan Tentu.


PakarPBN

A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.

In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.

The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.

Jasa Backlink

Download Anime Batch