Allah Subhanahu Ta’ala sebelumnya telah menjelaskan penciptaan langit dan bumi, serta berbagai keajaiban ciptaan dan pengaturan. Penyebutan berbagai hal tersebut untuk menunjukkan dalil adanya hari kiamat yang dapat direnungkan oleh akal. Allah mampu menciptakan langit dan bumi dari ketiadaan, maka Allah juga bisa menghancurkan dan menghidupkannya kembali.
Kemudian di ayat-ayat setelahnya, Allah menjelaskan secara nyata tentang apa saja yang terjadi di hari kiamat.
Allah Subhanahu Ta’ala dikatakan,
Jadi ketika bencana besar itu datang,
“Maka, ketika musibah (kiamat) yang paling besar telah tiba.” (QS.An-Nāzi’āt [79]: 34)
Kiamat adalah suatu bencana dan kehancuran yang sangat besar. Ketika hari kiamat datang, kengeriannya meliputi segala sesuatu di alam ini, jauh melebihi bencana apapun yang pernah terjadi.
Ibnu Abbas berkata: Ini adalah Hari Kebangkitan, disebut demikian karena menandai setiap peristiwa yang besar dan mengerikan
“Ibnu Abbas menjelaskan bahwa hari kiamat disebut sebagai at-thaammah karena kedahsyatan huru-hara kiamat tersebut akan menutupi dan mengalahkan segala bentuk perkara mengerikan dan bencana apapun yang pernah dialami manusia selama di dunia.” (Shafwatut Tafsir, 3: 491)
Allah Subhanahu Ta’ala dikatakan,
Hari dimana manusia mengingat apa yang dia perjuangkan
“Pada hari (itu) manusia teringat apa yang telah dikerjakannya.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 35)
Manusia pada hari itu mengingat segala kebaikan atau keburukan yang pernah dilakukannya di dunia, ia melihat amalan itu tersusun rapi dalam catatan amalan para malaikat.
Allah Subhanahu Ta’ala dikatakan,
Neraka menjadi jelas bagi siapa saja yang melihatnya
“Dan (neraka) Jahim diperlihatkan dengan jelas kepada orang-orang yang melihatnya.” (QS.An-Nāzi’āt [79]: 36)
Ulama berbeda pendapat tentang siapa yang akan melihat neraka di hari itu. Al-Qurthubi Al-Maliki Tuhan memberkati memberikan penjelasan tentang ayat ini,
Neraka muncul, yaitu muncul. Bagi orang yang melihatnya, Ibnu Abbas berkata: Itu akan terungkap dan setiap orang yang melihat akan melihatnya bersinar. Dikatakan: Yang dimaksud adalah orang kafir, karena dialah yang melihat Neraka dengan segala macam siksa di dalamnya. Dan dikatakan: Orang mukmin melihatnya untuk mengetahui besarnya nikmat, sedangkan orang kafir akan melalui api neraka.
“Neraka muncul dan diperlihatkan bagi orang-orang yang dikehendaki melihatnya. Ibnu Abbas menjelaskan bahwa neraka akan ditampakkan sehingga terlihat jelas lagi menyala-nyala bagi setiap pihak yang memiliki penglihatan. Sebagian pendapat mengatakan bahwa yang melihat neraka dan berbagai siksa di dalamnya hanyalah orang-orang kafir. Namun, sebagian ulama berpendapat bahwa kaum mukminin juga melihat neraka agar semakin besar rasa syukur mereka karena telah diselamatkan dari neraka dan melihat kesudahan orang kafir di neraka.” (Tafsir Al-Qurthubi Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, 19:207)
Allah Subhanahu Ta’ala dikatakan,
Adapun orang yang melanggar
“Adapun orang yang melampaui batas.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 37)
Melampaui batas yang ditetapkan oleh Allah, ketika makhluk memiliki batasan sebagai hamba dari Allah Ta’ala, akan tetapi mereka terjang dan robek batas tersebut dan menyerahkan penyembahan mereka kepada selain Allah.
Mereka juga melampaui batasan dalam hidup dengan makhluk lain. Tuhan telah membuat batasan dengan makhluk lain dengan tidak saling menindas. Namun mereka juga melanggar batas tersebut dengan cara saling membunuh tanpa alasan yang dapat dibenarkan, memakan harta orang lain dengan cara saling menipu, merusak kehormatan rumah tangga orang lain, dan perbuatan keji lainnya.
Allah Subhanahu Ta’ala dikatakan,
Dan akibat dari kehidupan duniawi
“Dan lebih mengutamakan kehidupan dunia.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 38)
Mereka menjadikan dunia sebagai tujuan utama dan puncak cita-citanya. Pikiran, tenaga, dan waktu mereka habis hanya untuk menumpuk harta, mengejar jabatan, dan memuaskan hawa nafsu kebinatangan. Ketika terjadi benturan antara perintah Allah (urusan akhirat) dan kepentingan pribadi (urusan dunia), mereka tanpa ragu memilih keuntungan duniawi yang bisa cepat didapatkan. Mereka meninggalkan kewajiban, meninggalkan salat, korupsi, memakan harta haram, dan melanggar syariat demi keuntungan duniawi yang remeh temeh.
Lebih mengerikannya lagi, orang kafir merasa akan hidup kekal di dunia, mereka hidup seolah-olah tidak akan pernah mati dan tidak percaya (atau percaya namun abai) bahwa setiap perbuatan di dunia akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak.
Pada ayat 37 dan 38, Allah menyebutkan secara global kriteria penghuni neraka. Maka wajib bagi kita untuk melakukannya cerminan dan mengecek kehidupan keseharian kita, apakah perilaku kita dekat dan mirip dengan perilaku orang-orang kafir calon penghuni neraka tersebut ataukah tidak?
Allah Subhanahu Ta’ala dikatakan,
Neraka adalah tempat perlindungannya
“Sesungguhnya (neraka) tempat tinggal Jahimlah.” (QS. An-Nazi’at [79]: 39)
Neraka Jahim menjadi tempat tinggal abadi mereka, tidak ada tempat lain untuk mereka tinggal atau sekedar beristirahat dari kejamnya siksa neraka, 24 jam mereka disiksa tanpa pernah libur.
Tidak mungkin pula mereka bisa “menyuap” malaikat penjaga neraka sebagaimana yang bisa dilakukan di dunia. Karena pada hari itu, harta sudah tidak berguna, serta para malaikat senantiasa menjalankan perintah Allah tanpa bisa diganggu gugat.
Penghuni neraka juga tidak bisa memelas kesakitan mencari empati dari malaikat yang keras dan siksaannya mengerikan. Seberapapun mereka memelas kesakitan, api akan tetap membakar mereka setiap saat, selama-lamanya. Hal yang sangat mengerikan, bahkan untuk sekedar dibayangkan.
Allah Subhanahu Ta’ala dikatakan,
Adapun orang yang takut menghadap Tuhannya dan mengharamkan jiwa dari hawa nafsu,
“Adapun orang-orang yang takut pada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 40)
Setelah Allah menyebutkan sifat-sifat penghuni neraka yang membuat kita bercermin, apakah sifat ini ada pada diri kita (tujuannya adalah agar kita jauhi), maka Allah melanjutkan dengan menyebutkan kebalikanya. Yaitu kriteria para penghuni surga yang kekal abadi, sebagai bentuk motivasi beramal agar kita bisa seperti mereka.
Ada dua sifat yang Allah sebutkan: yang pertama berkaitan dengan rasa takut mereka terhadap Tuhan, ini adalah dimensi hati dan keimanan. Perasaan takut ini erat kaitannya dengan sifat kedua, yaitu menahan diri untuk tidak melakukan kemaksiatan berdasarkan nafsu kebinatangan yang ada dalam diri.
Keduanya sangat bertalian erat. Allah sebutkan rasa takut terlebih dahulu karena itu adalah asas. Ketika jiwa takut kepada Allah, maka pasti dia bisa mengerem dirinya dari maksiat. Adapun jika rasa takut hilang, merasa tidak diawasi oleh Allah, serta merasa Allah tidak mendengar apa yang dia ucapkan, maka pastilah akan mudah baginya melakukan berbagai macam maksiat, meskipun tahu bahwa itu adalah hal terlarang.
Allah Subhanahu Ta’ala dikatakan,
Karena Surga adalah tempat perlindungannya
“Sesungguhnya surgalah tempat tinggal(-nya).” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 41)
Tempat tinggal mereka adalah surga Allah, suatu tempat yang penuh kenikmatan yang kekal abadi. Jagalah dua sifat di atas, maka engkau akan beristirahat di surga Allah.
Setelah Allah sebutkan sifat penghuni neraka dan surga, Allah kembali membahas kebobrokan akidah orang musyrik yang mempertanyakan kapan kiamat itu terjadi.
Allah Subhanahu Ta’ala dikatakan,
Mereka bertanya kepadamu tentang Hari Kiamat yang akan tiba.
“Mereka (orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang hari kiamat, “Kapankah terjadinya?” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 42)
Setiap hari, Rasulullah memperingatkan manusia tentang akan datangnya kiamat, serta memerintahkan untuk bersiap-siap. Namun, Nabi tidak pernah memberitahu kapan itu terjadi, karena Nabi tidak mengetahui.
Orang-orang musyrik yang kurang ajar semakin menjadi-jadi keburukannya, sehingga mereka meledek Nabi dengan mengatakan, “Kapan kiamat itu terjadi? Sudah lama engkau bercerita, setiap hari engkau menakuti kami, tapi kapan terjadinya? Kalau memang benar pasti terjadi, maka segera katakan kapan terjadinya.” Pertanyaan karena jengah dan bernada menghina.
Allah Subhanahu Ta’ala dikatakan,
Apa pendapat Anda tentang ingatannya?
“Untuk apa engkau perlu menyebutkan (waktu)-nya?” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 43)
Allah menjelaskan bahwa Nabi tidak mengetahui kapan itu terjadi, karena kiamat adalah rahasia besar Allah bagi para makhluk, tidak ada satupun makhluk yang mengetahui. Hikmahnya agar kita bersiap-siap, tidak berleha-leha, dan tidak meremehkannya.
Allah Subhanahu Ta’ala dikatakan,
Bagi Tuhanmulah akhirnya
“Kepada Tuhanmulah (dikembalikan) kesudahan (ketentuan waktu)-nya.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 44)
Hanya Allah yang mengetahui kapan waktu tepatnya kiamat, sedang Nabi hanya diberikan tanda-tanda dekatnya saja.
Allah Subhanahu Ta’ala dikatakan,
Engkau hanyalah peringatan bagi mereka yang takut akan hal itu.
“Engkau (Nabi Muhammad) hanyalah pemberi peringatan bagi orang-orang yang takut terhadapnya (Hari Pembalasan).” (QS.An-Nāzi’āt [79]: 45)
Allah membela Nabi dari pertanyaan kurang ajar yang mempertanyakan kapan kiamat, bahwasanya tugas Nabi hanyalah memberikan peringatan untuk bersiap-siap menghadapi kiamat. Peringatan ini ditujukan bagi orang yang memiliki rasa takut saat berada di persidangan Allah, merasa takut tidak bisa bertanggung jawab dengan baik atas kehidupannya di dunia.
Secara khusus, Allah sebutkan peringatan bagi orang yang takut. Hal ini karena peringatan hanya bermanfaat bagi mereka. Mereka akan mempersiapkan diri. Sedangkan orang yang tidak takut akan acuh, memandangnya dengan pandangan sinis, bahkan menghina orang yang memperingatkan akan datangnya kiamat, dimana hal ini banyak terjadi di zaman kita.
Allah Subhanahu Ta’ala dikatakan,
Seolah-olah, pada hari mereka melihatnya, mereka hanya menginap di sore atau siang hari.
“Pada hari ketika melihatnya (hari kiamat itu), mereka merasa seakan-akan hanya (sebentar) tinggal (di dunia) pada waktu petang atau pagi.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 46)
Ketika datang hari kiamat, orang kafir merasa hanya tinggal sebentar saja di dunia.
Tidak perlu jauh melihat hari kiamat, kita yang saat ini berada di umur mungkin 40 tahun, 50 tahun, atau mungkin 80 tahun ketika membaca tafsir ini, kemudian mengingat kembali masa kecil kita, ketika orang tua masih hidup, ketika masih muda, kita akan merasa waktu berlalu sangatlah cepat. Seakan baru kemarin kita lalui hari-hari yang telah lewat, tidak terasa kita telah berada di hari ini, mungkin sudah di ujung umur kita, semua terasa cepat, tiba-tiba saja kita wafat, lalu tiba-tiba saja kita harus mempertanggungjawabkan kehidupan kita.
Insya Allah Obat memudahkan kami.
[Selesai]
KEMBALI KE BAGIAN 4
***
Penulis: Dany Indra Permana
Artikel Muslim.or.id
Catatan kaki:
Mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.