Di antara dampak buruk dan akibat fitnah berikutnya adalah siapa yang masuk ke dalam fitnah tersebut dan terlibat di dalamnya, biasanya akan berakhir dengan kebinasaan dan dampak yang sangat buruk. Ia tidak mendapatkan kebaikan apa pun darinya; sebaliknya, ia justru merugi karena tidak mendapatkan kebaikan sama sekali.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Tuhan memberkati pernah menelusuri berbagai peristiwa fitnah yang terjadi pada masa-masa sebelum beliau. Beliau mengamatinya dengan teliti, lalu menyampaikan sebuah rangkuman yang begitu indah, ringkas, dan sangat bermanfaat tentang bagaimana akhir dari fitnah-fitnah tersebut dalam kitab beliau, Minhaj as-Sunnah. Dia Tuhan memberkati dikatakan,
Jarang ada orang yang memberontak terhadap seorang imam yang berkuasa, kecuali bahwa keburukan yang ditimbulkannya lebih besar daripada kebaikan yang ditimbulkannya.
“Jarang sekali ada orang yang keluar dalam rangka memberontak terhadap seorang pemimpin yang memiliki kekuasaan, kecuali keburukan yang muncul dari perbuatannya itu jauh lebih besar daripada kebaikan yang diharapkan.”
Beliau kemudian menyebutkan banyak contoh fenomena fitnah yang pernah terjadi di masa dahulu, lalu merangkum hasil dan dampaknya dengan ungkapan yang sangat tegas,
Mereka tidak mendirikan agama, dan tidak melestarikan dunia
“Mereka tidak berhasil menegakkan agama, dan juga tidak mampu menjaga urusan dunia.” (Minhaj as-Sunnah, 4: 527–528)
Maksudnya, orang-orang yang masuk ke dalam fitnah-fitnah tersebut dan ikut memperkeruhnya, pada akhirnya tidak berhasil menegakkan agama dan juga tidak mampu menjaga urusan dunia. Sebab, ketika fitnah sudah terjadi, maka hasilnya hanyalah huru-hara, pembunuhan, kekacauan merajalela, manusia saling menzalimi, berbagai masalah mulai bermunculan, dan dampak buruk lainnya. Para pencetus fitnah tersebut sama sekali tidak mendapatkan kebaikan apa pun darinya.
Kisah sekelompok orang yang mengabaikan nasehat Imam Ahmad juga ditampilkan Tuhan memberkatiserta kisah sekelompok orang yang juga mengabaikan nasehat Hasan al-Bashri Tuhan memberkati. Akhirnya, baik pada kelompok yang satu maupun yang lainnya, sama saja, mereka tidak berhasil menegakkan agama. Akhir perjalanan mereka pun sangat tragis, ada yang berujung dipenjara, ada yang terbunuh, ada yang melarikan diri, dan berbagai akhir tragis lainnya. Kondisi seperti ini terus berulang sepanjang sejarah hingga kini.
Dalam jilid kedelapan kitab Jual beli A’lam an-Nubala’, tentang biografi al-Hakam bin Hisham ad-Dakhil al-Umawi, seorang penguasa Andalusia, Imam adz-Dzahabi Tuhan memberkati menyebutkan sebuah kisah panjang yang tidak memungkinkan untuk disebutkan di sini secara rinci. Namun, kisah lengkapnya bisa dirujuk dalam kitab Penjualan A’lam an-Nubala’ [1]. Imam adz-Dzahabi Tuhan memberkati memulainya dengan mengatakan,
Ada begitu banyak cendekiawan di Andalusia pada masa pemerintahannya – yaitu, masa pemerintahan – sehingga dikatakan bahwa ada empat ribu cendekiawan terpencil di Cordoba, yang mengenakan seragam cendekiawan.
“Pada masa pemerintahannya, yakni masa al-Hakam, jumlah ulama di Andalusia sangat banyak. Bahkan disebutkan, di Cordoba saja ada sekitar empat ribu orang yang tampil seperti ulama, mengenakan pakaian khas ahli ilmu.”
Artinya, pada masa itu banyak sekali ulama dan pencari ilmu, banyak diantaranya yang berpenampilan seperti orang yang berilmu. Lalu, dia Tuhan memberkati melanjutkan,
Ketika Allah menghendaki mereka dimusnahkan, Dia memuliakan mereka karena pelanggaran penguasa terhadap hal-hal suci, dan mereka bersekongkol untuk menggulingkannya, kemudian mereka mengumpulkan pasukan untuk melawannya, dan terjadilah perselisihan besar di Andalusia melawan Islam dan umatnya, sehingga tidak ada kekuatan kecuali pada Tuhan.
“Ketika Allah menghendaki kehancuran atas mereka, mereka merasa berat ketika melihat al-Hakam yang bertindak melampaui batas dengan menginjak-injak kehormatan kaum muslimin. Mereka pun sepakat untuk menjatuhkannya, kemudian mengerahkan pasukan untuk melawannya. Akhirnya terjadilah fitnah besar di Andalusia yang menimpa Islam dan kaum muslimin.
Setelah itu Imam adz-Dzahabi Tuhan memberkati menyusun kisahnya secara panjang. Di bagian akhirnya disebutkan bahwa banyak dari mereka terbunuh, sebagian melarikan diri, dan sebagian lainnya dipenjara. Semua itu terjadi, tetapi tidak ada satu pun yang berhasil menegakkan agamanya sedikit pun melalui fitnah-fitnah yang dimunculkan dan dikobarkan seperti itu. Maka benarlah kata seorang pepatah,
Berbahagialah dia yang belajar dari orang lain
“Orang yang beruntung adalah orang yang mau mengambil pelajaran dari kesalahan orang lain.”
Bahkan, jumlah orang yang ikut terlibat dalam fitnah itu dan terjun ke dalamnya itu sangatlah banyak, dan kebanyakan dari mereka berakhir dengan penyesalan yang sangat mendalam. Mereka berharap seandainya dulu tidak ikut masuk ke dalam fitnah-fitnah tersebut.
Hal semacam ini banyak sekali ditemukan di dalam buku-buku sejarah dan biografi para tokoh yang berpengaruh. Kisah tentang orang-orang yang ikut dalam fitnah, lalu di akhir hidupnya menyesali apa yang telah mereka lakukan dahulu.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Tuhan memberkati dikatakan,
Oleh karena itu, sebagian besar mantan orang-orang tersebut menyesali pertempuran yang mereka alami
“Begitulah sebagian besar orang-orang terdahulu akhirnya menyesali keterlibatannya dalam fitnah (perang).” (Minhaj as-Sunnah, 4: 316)
Lalu, Abu Bakar as-Sijistani Tuhan memberkati juga menuturkan, ketika menyebut para membaca’ (seorang ulama Al-Qur’an) yang pergi keluar bersama Ibnu al-Asy’ats, dia berkata,
Aku tidak mengetahui seorang pun di antara mereka yang terbunuh melainkan ia menghendaki kematiannya, dan tidak seorang pun dari mereka yang selamat kecuali puji-pujian kepada Allah yang mengampuninya.
“Saya tidak mengetahui siapa pun di antara mereka yang terbunuh kecuali dia sebenarnya tidak mau mati. Dan tidak ada seorang pun yang selamat di antara mereka yang terlibat dalam kekacauan itu, kecuali dia memuji Tuhan karena menyelamatkannya.” (HR. Khalifah bin Khayyath in tanggal-nya, hal. 76)
Baca juga: Arti Fitnah dalam Alquran
Diantara kisah yang menarik dan mendidik dalam pembahasan kali ini adalah kisah tentang Zubaid bin al-Harits al-Yami. Ia adalah salah satu perawi yang hadisnya termasuk di dalamnya Kutubus Sittah dan juga dikenal sebagai salah satu cendekiawan Islam paling terkenal. Zubaid merupakan salah satu orang yang terlibat dalam fitnah Ibnu al-Asy’at, namun Allah menyelamatkannya dari fitnah tersebut dan ia tidak dibunuh.
Muhammad bin Thalhah meriwayatkan,
Zubaid melihatku bersama Al-Alaa bin Abdul Karim dan kami tertawa, lalu dia berkata: Sekiranya aku melihat tengkorak itu, niscaya aku tidak akan tertawa.
“Zubaid pernah melihatku bersama al-‘Ala’ bin ‘Abdul-Karim, dan kami sedang tertawa. Lalu ia berkata, ‘Kalau kamu menyaksikan peristiwa al-Jamajim, niscaya kamu tidak akan tertawa lagi!’”
Yang dimaksud dengan al-Jamajim di sini adalah kumpulan tengkorak kaum muslimin, yaitu kepala-kepala mereka yang berguguran disebabkan oleh tangan sesama muslim. Mereka saling membunuh satu sama lain.
Lalu Zubaid berkata,
Saya berharap tangan saya – atau dia berkata: tangan kanan saya – dipotong dari lengan atas, tetapi saya tidak menyaksikannya.
“Sungguh! Sampai-sampai aku berharap tanganku —atau maksudnya, tangan kananku— terpotong dari pangkal bahuku, asalkan aku tidak pernah lagi menyaksikan peristiwa mengerikan dan tragis itu.” (Tanggal Khilafah, hal. 76)
Setelah itu, muncul lagi fitnah lain dan Zubaid kembali diajak untuk ikut serta. Namun kali ini ia sudah melihat sendiri dampak dan akibatnya, sehingga ia tersadar dan mengambil sikap. Perhatikan jawaban cerdas, ringan, namun sarat makna yang ia sampaikan, jawaban seseorang yang sudah berpengalaman dan belajar dari kejadian sebelumnya. Dalam sebagian riwayat disebutkan bahwa Manshur bin al-Mu‘tamir sering mendatangi Zubaid. Pada suatu waktu, disebutkan bahwa Ahlul Bait banyak yang terbunuh, lalu Manshur ingin mengajak Zubaid agar ikut keluar bersama Zaid bin ‘Ali, masuk ke dalam fitnah itu.
Namun Zubaid Tuhan memberkati menjawab dengan tegas,
Aku tidak berada di luar kecuali bersama seorang nabi, dan aku tidak berada di hadapannya
“Aku tidak akan ikut keluar kecuali bersama seorang nabi, dan aku tidak akan menemukannya lagi.” (HR. Ya’qub bin Sufyan in Tanggalmiliknya, 3: 107; dan oleh Ibnu ‘Asakir di Tanggal Dimasyq, 19:473).
Maksudnya, ia tidak akan menemukan seorang nabi pun (setelah wafatnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam) yang membantu berjuang bersamanya. Ucapan ini ia ucapkan berdasarkan pengetahuan, pengalaman, dan pengamatannya langsung terhadap dampak buruk yang berasal dari fitnah-fitnah tersebut.
[Bersambung]
KEMBALI KE BAGIAN 2
***
Penerjemah: Chrisna Tri Hartadi
Artikel Muslim.or.id
Catatan kaki:
[1] Jual beli A’lam an-Nubala’, 8: 253–260.
Referensi:
Kitab Atsarul Fitan, bohong Syekh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullahhal. 27-32.
News
Berita Teknologi
Berita Olahraga
Sports news
sports
Motivation
football prediction
technology
Berita Technologi
Berita Terkini
Tempat Wisata
News Flash
Football
Gaming
Game News
Gamers
Jasa Artikel
Jasa Backlink
Agen234
Agen234
Agen234
Resep
Download Film
A gaming center is a dedicated space where people come together to play video games, whether on PCs, consoles, or arcade machines. These centers can offer a range of services, from casual gaming sessions to competitive tournaments.