Mengenal Nama Allah Al-Kariim dan Al-Akram

Allah Tabaraka waa ketuk memiliki nama-nama yang paling indah. Barang siapa mengimaninya, memahaminya, dan mengamalkannya, niscaya ia akan mendapatkan kemuliaan di dunia dan keselamatan di akhirat. Di antara nama Allah yang agung adalah Al-Karim dan Al Akramdua nama yang menunjukkan luasnya rahmat, keagungan alam, dan kesempurnaan sifat Tuhan Subḥānahu wa Ta’ālā.

Dalam artikel ini, kita akan membahas dalil-dalil yang menetapkan nama Allah Al-Karim dan Al Akrammakna yang terkandung di dalam keduanya, serta konsekuensi dari penetapan kedua nama tersebut bagi seorang hamba.

Bukti nama Tuhan Al-Karim dan Al Akram

nama Tuhan “Al-Karim” disebutkan sebanyak tiga kali, yaitu dalam firman Allah Ta’ala,

Begitu agungnya Tuhan, Raja yang Sejati, tidak ada Tuhan selain Dia, Penguasa Arsy yang Mulia.

Jadi Tuhan Yang Mahakuasa, Raja yang sebenarnya; tiada seorangpun yang berhak disembah selain Dia, Rabb ‘arsy Yang Maha Mulia.”  (QS. al-Mu’minūn: 116) bagi yang membaca Al-Karimu (rafa’), sehingga dia adalah sifat Tuhan. [1]

Dan firman-Nya,

Dan siapa yang bersyukur, maka dia bersyukur hanya pada dirinya sendiri. Dan siapa yang kafir, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Pemurah.

Barangsiapa bersyukur, maka dia benar-benar bersyukur pada dirinya sendiri. Dan siapa yang kafir, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kuasa Mahamuliya.(QS.an-Naml : 40)

Dan firman-Nya Mengetuk,

Wahai manusia, apa yang telah menipumu tentang Tuhanmu yang Maha Pemurah?

Ya ampun, apa yang telah menipumu tentang Tuhanmu Yang Mulia?(QS. al-Infiṭr : 6)

Adapun namanya Al Akramkemudian disebutkan dalam firman Tuhan Ta’ala,

Bacalah, dan Tuhanmu Maha Pemurah

Bacalah, dan Tuhanmu Yang Mulia.(QS.alaq:3) [2]

Arti Nama Tuhan Al-Karim dan Al Akram

Untuk memahami arti nama Tuhan secara utuh, kita perlu mengetahui terlebih dahulu arti kata tersebut Al-Karim dan Al Akram secara linguistik, maka dalam konteksnya sebagai nama Tuhan Kisah.

Arti bahasa dari Al-Karim dan Al Akram

Kata Al-Karim merupakan ṣifah musyabbahah dengan wazan mengajukanberasal dari kata (karuma–yakrumu)sedangkan al-akram adalah bentuknya Kamu tahu (kebanyakan perbandingan), dan tidak Mubalaghah (penegasan berlebih). [3]

Tentang arti kata Ibnu Faris Tuhan memberkati mengatakan,

(Karam) Kaf, Ra’ dan Miim merupakan asal sah yang mempunyai dua makna: salah satunya adalah kehormatan pada benda itu sendiri atau kehormatan pada akhlak. …Prinsip lainnya adalah kemurahan hati, yaitu kalung.

“Huruf Kaf, Ra, dan mim adalah akar kata otentik, yang memiliki dua arti utama:

(1) Kemuliaan pada sesuatu itu sendiri, atau kemuliaan pada salah satu akhlak. …
(2) Adapun makna asal lainnya dari al-karm adalah kalung (perhiasan).” [4]

Al-Fayyumy Tuhan memberkati menyebutkan,

(KRM): Dia menghormati sesuatu sebagaimana dia menghormati dirinya sendiri dan menghormatinya, maka itu adalah dermawan.

“Sesuatu disebut Karuma bila itu bernilai tinggi dan mulia. Pelaku disebutkan namanya Karim.” [5]

Makna Al-Karim dan Al Akram dalam konteks Tuhan

Al-Hafizh Ibnu Katsir Tuhan memberkati mengatakan,

Dan firman-Nya: {Dan barangsiapa kafir, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Cukup, Maha Pemurah} artinya: Dia Maha Cukup terhadap hamba-hamba-Nya dan ibadah mereka. {Dermawan} artinya: Dermawan pada diri-Nya, meskipun tidak ada seorang pun yang memuja-Nya, keagungan-Nya tidak akan berkurang pada siapa pun.

“Maksud firman-Nya (yang artinya), ‘Dan siapa yang kafir, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya dan Mulia’yaitu Tuhan Yang Maha Esa dari semua hamba dan dari ibadahnya. Dan artinya ‘Karim’ adalah: Dia Maha Agung dengan Dzat-Nya, meskipun tidak ada seorang pun yang memuja-Nya, karena keagungan-Nya tidak bergantung pada siapa pun sama sekali.” [6]

Di tempat lain, dalam penafsiran firman Tuhan Ta’ala,

Wahai manusia, apa yang telah menipumu tentang Tuhanmu yang Maha Pemurah?

dia berkata,

Makna dalam ayat ini: Apa yang telah menipumu wahai anak Adam tentang Tuhanmu Yang Maha Pemurah – artinya: Maha Besar?

Maksud ayat ini adalah, ‘Wahai anak Adam, apa yang telah menipumu terhadap Tuhanmu Yang Maha Tinggi?’yakni: Yang Hebat.” [7]

Saro it ‘balaken: Thicki adalah Nizia, Yiberai adalah ayah dari kelahiran syay. rahimahullah ketika menjelaskan firman Allah Di Ta’ala dalam surat al-‘Alaq ayat tiga, katanya,

Lalu beliau bersabda: {Bacalah, dan Tuhanmu Maha Pemurah} artinya: Dia mempunyai sifat-sifat yang banyak dan luas, berlimpah kemurahan hati dan kebajikan, dan maha pemurah dalam kedermawanan, yang kemurahan hatinya adalah dia mengetahui ilmu.

“Kemudian Allah berfirman (yang artinya), ‘Bacalah, maka Tuhanmu Maha Mulia’yaitu Rabb yang memiliki banyak sifat dan luas sifat-sifat-Nya, banyak karunia dan kebaikan-Nya, luas kemurahan-Nya; dan termasuk bentuk kemurahan-Nya adalah Dia mengajarkan ilmu.” [8]

Masih dalam penjelasan Syekh as-Sa’dī beliau mengatakan tentang arti kemiripan nama-nama Tuhan,

Yang Maha Pemurah, Yang Maha Penyayang, Yang Maha Adil, Yang Maha Pemurah, Yang Maha Pemurah, Yang Maha Pengasih, Yang Maha Pemberi. Nama-nama ini mempunyai arti yang sama, dan semuanya menunjukkan bahwa Tuhan mempunyai ciri kasih sayang, kebenaran, kemurahan hati, dan kemurahan hati, dan keluasan rahmat dan karunia-Nya, yang dengannya Dia merasuki seluruh keberadaan, sesuai dengan apa yang dituntut oleh kebijaksanaan-Nya, dan Dia memilih orang-orang yang beriman di antara mereka untuk bagian yang paling banyak dan keberuntungan yang paling sempurna.

“Nama-nama Tuhan: Telinga-Raḥman, Ar-Raḥim, Al-Barr, Al-Carim, Al-Jaward; semuanya saling berdekatan maknanya. Seluruhnya menunjukkan bahwa Rabb memiliki sifat rahmat, kebaikan, kemurahan, dan kedermawanan, serta keluasan rahmat dan pemberian-Nya yang meliputi seluruh makhluk sesuai dengan hikmah-Nya. Dan Allah mengkhususkan orang-orang beriman dengan bagian yang paling banyak dan bagian yang paling sempurna. … ” [9]

Syekh Abdurrazzaaq bin Abdil Muhsin Al-Badr hafidzahullah katakan tentang arti pengucapan “Kemurahan hati”: “Pernyataan ini adalah pernyataan yang memuat segala kebaikan dan pujian, bukan sekedar pemberian biasa, melainkan pemberian yang penuh makna.” [10]

Konsekuensi dari nama Allah Al-Karim dan Al Akram untuk pelayan

Penetapan nama Al-Karim dan Al Akram untuk Tuhan Kisah memiliki banyak konsekuensi, baik dari sisi sifat dan pengkhabaran terhadap Allah, maupun dari sisi hamba. Berikut ini beberapa konsekuensinya dari sisi hamba:

Beriman bahwa Al-Karim dan Al Akram termasuk nama Tuhan

Seorang hamba hendaknya mengimani bahwa Al-Karim dan Al Akram dicantumkannya nama-nama Tuhan, dan menentukan makna yang terkandung dalam nama-nama itu; karena bukti penentuannya telah diturunkan dari Al-Quran.

Mendorong hamba untuk memperbanyak doa karena Rabb-nya Maha Pemurah

Di antara maknanya Al-Karim adalah Makhluk yang malu menolak permintaan hamba-Nya ketika hamba itu berdoa dan memohon kepada-Nya. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadis Nabi ﷺ,

Sesungguhnya Tuhanmu Yang Maha Suci dan Maha Tinggi, Maha Hidup lagi Maha Pemurah. Dia malu terhadap hamba-Nya, ketika dia mengangkat tangannya kepada-Nya, untuk mengembalikannya dengan tangan kosong.

Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pemalu dan Maha Mulia. Dia merasa malu terhadap hamba-Nya ketika dia mengangkat tangannya ke arah-Nya (untuk berdoa), maka Dia mengembalikannya dengan kosong.” (HR. Abu Dāwud no. 1488 dan lain-lain; disahkan oleh Al-Albani Tuhan memberkati)

Keimanan terhadap luasnya pahala dan ampunan sebagai buah kemurahan hati Allah

Di antara bentuk kemurahan hati Tuhan ‘Azza wa Jalla adalah seperti yang disebutkan dalam hadis qudsi,

Allah telah menuliskan perbuatan baik dan perbuatan buruk, lalu memperjelasnya. Maka barangsiapa yang berniat mengerjakan suatu amal namun tidak mengerjakannya, maka Allah akan mencatatnya sebagai amal baik yang sempurna, maka jika ia berniat mengerjakannya dan mengerjakannya, maka Allah mencatat baginya sepuluh amal baik hingga tujuh ratus kali lipat atau berkali-kali lipat, dan barangsiapa yang menghendaki suatu perbuatan jahat, maka ia tidak mendapat pahala. Apapun yang dilakukannya, Allah mencatatnya sebagai satu keburukan baginya.

Sesungguhnya Allah telah menetapkan pahala kebaikan dan keburukan, kemudian Dia menjelaskannya. Barang siapa berniat melakukan kebaikan namun tidak melakukannya, Allah mencatat baginya satu kebaikan yang sempurna. Jika ia berniat lalu melakukannya, Allah mencatat baginya sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat, bahkan hingga kelipatan yang banyak. Dan barang siapa berniat melakukan keburukan lalu tidak melakukannya, Allah mencatat baginya satu keburukan.(HR.Bukhari no.6491)

Dalam riwayat Muslim ditambahkan,

Dan Allah menghapusnya, dan tidak ada seorang pun yang binasa di hadapan Allah kecuali orang yang binasa.

Dan Tuhan menghapusnya. Tidak ada yang binasa di sisi Allah kecuali mereka yang benar-benar binasa.(HR.Muslim no.131)

Kesadaran bahwa takwa merupakan sebab kemuliaan sejati di sisi Allah

Alasan utama untuk memperoleh kemuliaan Tuhan Yang Maha Esa adalah ketakwaan kepada-Nya. Itu menurut firman Tuhan Subḥānahu wa Ta’ālā. Allah Di Ta’ala dikatakan,

Orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.

Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kamu.(QS. al-Ḥujurāt: 13) [11]

Dalam hadis Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu disebutkan, ketika Nabi ﷺ ditanya, “Siapakah laki-laki yang paling mulia?” Dia menjawab, “Yang paling saleh.” (Muttafaqun ‘alaih)

Kemuliaan yang hakiki adalah kemuliaan karena iman dan takwa, yang kekal hingga akhirat dan menuntun pelakunya Dar al-Karamah (keadaan kemuliaan). Adapun kejayaan dunia yang dimiliki kaum fajir dan kafir hanya bersifat sementara dan akan berubah menjadi kehinaan di hari kiamat. [12]

Semoga pemahaman yang benar tentang kedua nama Allah Al-Karim dan Al Akram semakin menguatkan keimanan kita kepada-Nya, menumbuhkan keyakinan akan keluasan karunia dan kemurahan-Nya, mendorong kita untuk memperbanyak doa dan amal saleh, serta menanamkan kesadaran bahwa kemuliaan sejati hanya diraih dengan iman dan takwa. Semoga pula pemahaman ini menjauhkan kita dari sikap sombong, putus asa, dan ketergantungan kepada selain Allah. Amin.

***

Rumdin PPIA Sragen, 11 Rajab 1447

Penulis: Prasetyo Abu Ka’ab

Artikel Muslim.or.id

Referensi utama:

  • Ibn Faris, Abu al-Husain Ahmad bin Zakariya. Maqayis al-Lughah. Tahqiq dan revisi oleh Anas Muhammad al-Syami. Cetakan Pertama. Kairo: Dar al-Hadith, 1439 H.
  • Al-Fayyumi, Ahmad bin Muhammad. Al-Mishbahul Munir fi Gharib as-Syarhil Kabir. Cetakan Pertama. Damaskus: Darul Faihaa, 2016.
  • Al-Badr, Abdur Razzaq. 2015. Fiqhul Asma’il Husna. Cat. 1. Mesir : Dar ‘Alamiyah.
  • An-Najdi, Muhammad Al-Hamud. 2020. Husna Asma An-Nahjul Asma. Cat. tanggal 8. Kuwait: Perpustakaan Imam Dzahabi.

Catatan kaki:

[1] Fiqhul Asmā’ al-Ḥusnāhal. 215. Lihat: Tafsir Al-Qurthubi, 12: 157.

[2] An-Nahj al-Asmahal. 262.

[3] Al-Bayan fi Tasrif Mufradat al-Qur’an ‘ala Hamisy al-Mushaf al-Sharifhal. 587 dan 597.

[4] Maʻjam Maqāyīs al-Lughah, hal. 806.

[5] Al-Miṣbāḥ al-Munīr fī Gharīb al-Syarḥ al-Kabīr, hal. 541.

[6] Tafsir Ibnu Katsir, 6: 193.

[7] Di tempat yang sama, 8: 342.

[8] Taisir Al-Kariim Ar-Rahmanhal. 930.

[9] Ibidhal. 946.

[10] Fiqhul Asmā’ al-Ḥusnāhal. 216. Kemudian, beliau menyebutkan beberapa makna tersebut dengan pembahasan yang sangat bagus. Lihat hal. 216-218 dari kitab beliau tersebut. Lihat juga An-Nahj al-Asmahal. 263-264.

[11] Fiqhul Asmā’ al-Ḥusnāhal. 218.

[12] An-Nahj al-Asmahal. 271.


News
Berita Teknologi
Berita Olahraga
Sports news
sports
Motivation
football prediction
technology
Berita Technologi
Berita Terkini
Tempat Wisata
News Flash
Football
Gaming
Game News
Gamers
Jasa Artikel
Jasa Backlink
Agen234
Agen234
Agen234
Resep
Download Film

A gaming center is a dedicated space where people come together to play video games, whether on PCs, consoles, or arcade machines. These centers can offer a range of services, from casual gaming sessions to competitive tournaments.