Libur Beramal Agar Ibadah Semakin Bernilai

Nabi ﷺ adalah suri teladan terbaik sebagaimana syariat yang dibawanya pun demikian. Allah ﷻ menjadikan syariat sebagai jalan untuk mendapatkan kenikmatan tiada tara di surga nantinya. Meskipun demikian, Allah ﷻ sejatinya tidak membutuhkan banyaknya amalan yang kita lakukan. Akan tetapi, justru kita sebagai hamba yang butuh kepada amal tersebut yang dapat mengundang rida dan rahmat Allah ﷻ kepada kita. Oleh karena itu, amal sebagai bentuk taqarrub illallah harus sesuai dengan apa yang diperintahkannya. Banyak amalan yang boleh dilakukan, namun Allah ﷻ dan Rasul-Nya tidak ridha dengan hal itu.

Salah satu bentuk mencocoki syariat adalah dengan berselang-seling atau libur beramal. Hal ini merupakan salah satu bentuk keunikan syariat kita, yakni ketika tidak beramal pun dapat bernilai pahala. Nabi ﷺ memberikan teladan ini dan banyak diriwayatkan oleh para sahabat semoga Allah memberkati dia dan memberinya kedamaian. Ibnu Rajab Al-Hanbali Tuhan memberkati menjelaskan hakikat puasa Nabi ﷺ di luar puasa wajib,

Adapun puasanya berdasarkan sunnah, dia kadang-kadang mencantumkan puasa dan kadang-kadang membatalkan puasa, dan dia berpuasa sampai dikatakan: Dia tidak berbuka, dan dia berbuka sampai dikatakan: Dia tidak berpuasa.

“Adapun puasa Nabi ﷺ sepanjang tahun, beliau kadang berpuasa terus menerus dan kadang tidak berpuasa terus menerus. Bahkan beliau berpuasa hingga dikatakan, “Dia tidak pernah berbuka.” Namun, ketika dia tidak berpuasa, orang mengatakan, “Dia tidak pernah berpuasa.” (Lathaiful Maarif, hal. 123)[1]

Hal ini dirangkum dari Ash-Shahihain dimana terdapat riwayat ibu Aisyah dan Anas hamba Nabi ﷺ.

Teguran Nabi ﷺ untuk yang terus-menerus beramal tanpa libur

Bahkan Nabi ﷺ menegur seseorang yang berpuasa terus-menerus serta amalan lainnya yang tidak diselingi jeda istirahat sebagai bentuk penyelisihan terhadap sunahnya.

Dari Abdullah bin Amr: Nabi Muhammad SAW bersabda kepadanya: “Apakah kamu berpuasa di siang hari dan shalat di malam hari”? Dia berkata: Ya, jadi Nabi, semoga Tuhan memberkatinya dan memberinya kedamaian, bersabda: Tapi aku berpuasa, aku berbuka, aku shalat, aku tidur, dan aku menyentuh wanita. Maka barangsiapa yang menyimpang dari Sunnahku, maka ia tidak termasuk golonganku.

Di dalam Ash-Shahihain Diriwayatkan dari Abdullah bin Amru bahwa Nabi SAW bersabda kepadanya, “Apakah kamu selalu berpuasa di siang hari dan shalat di malam hari?” Abdullah menjawab, “Ya.” Nabi kemudian bersabda, “Tahukah kamu, aku berpuasa dan juga berbuka. Aku shalat dan juga tidur. Aku juga bergaul dengan wanita. Barangsiapa membenci sunnahku, maka dia bukanlah termasuk kaumku.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan di dalamnya atas wewenang Anas: Sekelompok sahabat Nabi, semoga Tuhan memberkatinya dan memberinya kedamaian. Sebagian dari mereka berkata: Saya tidak menikahi wanita, dan sebagian dari mereka berkata: Saya tidak makan daging, dan sebagian dari mereka berkata: Saya tidak tidur di kasur. Hal ini dilaporkan kepada Nabi, semoga Tuhan memberkati dia dan memberinya kedamaian, dan dia bertanya pada dirinya sendiri dan berkata: Ada apa dengan orang-orang yang mengatakan ini dan itu, tetapi saya berdoa, tidur, berpuasa, dan berbuka, dan menikahi wanita, jadi barang siapa yang menyimpang dari Sunnah saya, maka dia bukan termasuk saya.

Masih masuk Ash-Shahihain dari Anas, bahwa ada beberapa sahabat Nabi saling bercerita satu sama lain. Salah seorang dari mereka berkata, “Aku tidak akan menikahi wanita.” Sahabat lain berkata, “Aku tidak akan memakan daging.” Dan sahabat lainnya berkata, “Aku tidak akan tidur di atas kasur.” Percakapan mereka ini sampai ke telinga Nabi ﷺ. Saat berkhotbah, beliau pun bersabda, “Mengapa orang-orang ada yang mengatakan begini dan begitu? Sedangkan aku salat dan tidur, aku puasa dan berbuka, serta aku menikahi wanita. Siapa yang membenci sunahku, maka dia bukan termasuk dari golonganku.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tujuan libur beramal

Pertama: Meneladani Nabi ﷺ

Hadis-hadis ini mengingatkan bahwasanya tidak boleh berlebihan dalam beramal sampai tidak membiarkan waktu jeda. Sementara jeda dalam beramal itu adalah petunjuk Nabi ﷺ. Dalam riwayat semisal, terdapat ucapan Nabi ﷺ yang menegaskan bahwa memberikan jeda dalam amal itu adalah bagian yang diteladankan Nabi ﷺ, dan Insya Allah sepadan dengan imbalannya jika dimaksudkan secara berurutan ittiba’ lirasulillah.

Barangsiapa mengikuti teladanku, maka ia termasuk golonganku, dan barangsiapa yang menyimpang dari sunah-sunahku, maka ia bukan termasuk golonganku

“Barangsiapa mengikuti teladanku, maka dia termasuk golonganku; dan siapa yang menyimpang dari sunnahku, maka dia tidak termasuk golonganku.” (HR.Ahmad in Musnad-nya, 5: 409)

Kedua: Melindungi hak keluarga dan diri sendiri

Ketika sahabat Nabi ﷺ terus beramal tanpa ada libur bahkan menghabiskan seluruh waktunya, Nabi ﷺ mengingatkannya bahwa ada hak diri sendiri dan orang lain yang harus dipenuhi. Bahkan meski sahabat, yakni Usman bin Madzun, kemudian beralasan bahwa ia melakukan itu karena bersemangat mengikuti sunah Nabi ﷺ, Nabi ﷺ bersabda,

Bertakwalah kepada Allah wahai Utsman, karena keluargamu berhak atasmu, tamumu berhak atasmu, dan ruhmu berhak atasmu, maka berpuasalah, berbuka, shalat, dan tidur.

“Bertaqwalah wahai Usman (bin Madzun)! Sesungguhnya keluargamu mempunyai hak yang harus kamu penuhi, tamumu mempunyai hak yang harus kamu penuhi, dan kamu mempunyai hak yang harus kamu penuhi. Puasa dan berbuka, shalat dan tidur!” (HR.Abu Daud no.1369)

Ungkapan tambahan diberikan oleh Salman semoga Allah memberkati dia dan memberinya kedamaian kepada Abu Darda semoga Allah memberkati dia dan memberinya kedamaian diperbolehkan oleh Nabi ﷺ adalah,

Jadi, berikanlah haknya kepada setiap orang

“Berikan kepada setiap orang yang mempunyai hak haknya.” (HR.Bukhari no.6139)

Ketiga: Agar esensi amal dapat diraih

Nabi ﷺ melarang salah satu sahabatnya untuk berpuasa dahr (puasa dilakukan sepanjang tahun).[2] Ibnu Rajab Tuhan memberkati mengatakan,

Larangan puasa yang berkepanjangan dan penekanannya telah disebutkan, dan semua itu menunjukkan bahwa puasa yang paling baik adalah tidak melanjutkannya.

“Terdapat banyak riwayat yang menyatakan bahwa terdapat larangan melakukan puasa dahr (terus menerus) dan terdapat larangan yang sangat tegas terhadapnya. Semua ini menunjukkan bahwa puasa terbaik bukanlah puasa terus-menerus, melainkan puasa berselang-seling antara berpuasa dan tidak puasa.”

Ibnu Rajab Tuhan memberkati menyatakan bahwa ini adalah pendapat yang benar dari para ulama, dan ini juga pendapat dari Ahmad dan lain-lain. Ada riwayat Umar mendapat laporan bahwa ada seseorang yang berpuasa terus menerus. Kemudian Umar memukul kepalanya dengan tongkat yang dimilikinya dan berkata, “Makanlah, oh dahr! Makanlah, oh dahr!” (Mushannaf Abdur Razzaq TIDAK. 7871)

Nabi ﷺ melarang Abdullah bin Amr Al-Ash untuk melanjutkan puasa dan juga memberikan solusinya yaitu puasa Daud yang mekanismenya adalah satu hari puasa dan satu hari berbuka (tidak puasa). Nabi ﷺ menyatakan bahwa model puasa ini adalah puasa yang paling utama dan tidak ada yang lebih baik darinya.

Alasan Nabi ﷺ melarang hal ini adaalah karena hilangnya esensi dari momen puasa ketika puasa itu telah menjadi keseharian semata. Ibnu Rajab Tuhan memberkati menjelaskan,

Sabda beliau Shallallahu Alaihi Wasallam tentang puasa selama-lamanya: “Dia tidak berpuasa dan tidak berbuka” artinya dia tidak merasakan beratnya puasa dan tidak kehilangan makanan, minuman, dan nafsu, karena puasa sudah menjadi kebiasaan yang akrab baginya.

“Nabi Muhammad ﷺ bersabda tentang puasa hari, “Dia tidak berpuasa dan tidak membatalkan puasanya”; artinya orang yang senantiasa berpuasa tidak mengalami kesulitan berpuasatidak pula merasakan beratnya untuk jauh dari makanan, minuman, atau syahwat, karena puasa telah menjadi kebiasaan yang melekat padanya.

Maka jika dia berpuasa pada satu waktu dan berbuka pada waktu yang lain, maka dengan berpuasa dia mencapai tujuannya yaitu meninggalkan syahwat-syahwat tersebut dan dalam ruhnya menyerukannya, dan itu lebih baik daripada meninggalkannya sementara jiwanya tidak mendambakannya.

Jika ia berpuasa pada suatu waktu dan tidak puasa pada waktu lain, ia akan dapat mencapai tujuannya untuk menjauhi hasrat jiwa tersebut meskipun masih memiliki kecenderungan terhadapnya, dan itu lebih baik daripada menjauhi keinginan-keinginan tersebut sementara jiwanya sudah tidak menginginkannya.” (Lathaiful Maarif, hal.124)

Ketika seseorang meninggalkan sesuatu padahal jiwanya masih mendambakannya, maka nilai pahalanya jauh lebih besar karena beratnya perjuangan. Hal ini merupakan wujud kebaikan Allah kepada hamba-hamba-Nya. Sehingga seseorang mendapat pahala lebih banyak dari amalan serupa.

Keempat: Menghidupkan kembali semangat beramal

Terkadang libur beramal bisa menguatkan kembali semangat untuk beramal. Inilah yang dilakukan oleh para ulama terdahulu, seperti Ibnul Jauzi yang mengkhususkan waktu untuk berjalan di kota sejenak sebagai jeda dalam proses produktif ilmunya.

Kita pernah mendengar kisah seorang ulama yang mengajar murid-muridnya dengan sungguh-sungguh, kemudian menyelinginya dengan pelajaran-pelajaran ringan penuh hikmah. Beliaulah Imam Syuraih yang mengajak murid-muridnya melihat unta.[3]

Apakah mereka tidak memperhatikan unta, bagaimana mereka diciptakan?

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta, bagaimana dia diciptakan?” (QS. Al-Ghasyiyah: 17)

Lihatlah amalan sederhana ini. Bukan berarti benar-benar berlibur sehingga kosong dari amalan, tetapi megandung praktik amalan lainnya sebagai variasi.

Sebaik-baik amalan adalah yang kontinu, apakah kontradiksi?

Dari ’Aisyah semoga Tuhan memberkatimu, beliau mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

Amalan yang paling dicintai oleh Tuhan Yang Maha Esa adalah amalan yang kekal meskipun sedikit.

“Amalan yang paling dicintai oleh Tuhan Obat adalah amalan yang kontinu, walaupun itu sedikit.” ’Aisyah pun ketika melakukan suatu amalan selalu berkeinginan keras untuk merutinkannya. (HR. Muslim no. 783)

Jawabannya tidak. Karena yang dimaksudkan berlibur adalah membuat jeda dan memvariasikan amal. Ibnu Rajab Tuhan memberkati mengatakan bahwa,

Barangsiapa menunaikan suatu ketaatan dan menyempurnakannya, maka tanda penerimaannya adalah ia menghubungkannya dengan ketaatan yang lain.

“Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan, lalu meneruskannya dengan amalan yang lain, maka itu adalah tanda diterimanya amalan yang pertama.” (Lathaiful Maarif, hal. 224)

Apa yang diisyaratkan dari ucapan ini adalah bahwa yang dimaksudkan dari kebaikan selanjutnya adalah kebaikan yang lainnya. Dan ragam kebaikan itu banyak. Nabi ﷺ banyak meriwayatkan doa istiftah yang bermanfaat untuk memberikan variasi kepada kita semua.

Ingat kata-kata ini,

Terlalu banyak sentuhan akan membunuh perasaan itu

“Banyaknya interaksi mematikan sensitifitas.”

Terkadang kita merasakan kajian yang kita hadiri terasa hambar, salat kita terasa biasa saja, bacaan Al-Quran terasa tiada nyawanya. Tentu faktornya adalah setan dan lemahnya iman. Namun, segala faktor tersebut dapat terhubung pada ibadah yang secara tidak sengaja menjadi rutinitas semata, tanpa ada maknanya. Maka, salah satu jalannya adalah dengan memberi jeda, bukan maksudnya memberikan alasan kepada kita untuk memutilasi konsistensi amal kita, tetapi sebagai wawasan baru bahwasanya libur pun merupakan jalan kebaikan jika kita jalani dengan ilmu.

***

Penulis: Glenshah Fauzi

Artikel Muslim.or.id

Catatan kaki:

[1] Shamela.ws

[2] Puasa dahr adalah puasa yang dilakukan sepanjang tahun dan tidak membatalkan buka puasa. Ada yang bermaksud memasukkan hari tasyrik dan hal ini jelas dilarang. Ada pula yang mengartikannya sebagai satu tahun penuh selain lima hari terlarang. Dalam pengertian demikian terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama, namun pendapat Ibnu Rajab nampaknya cenderung mengharamkan atau tidak menyukainya.

[3] Youtube.com


PakarPBN

A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.

In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.

The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.

Jasa Backlink

Download Anime Batch