Menggunakan Al-Quran dan As-Sunah dalam Dialog Eksistensi Tuhan (Bag. 3)

Al-Quran dan As-Sunah mengandung petunjuk yang lengkap untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Semua pertanyaan dan kebingungan telah terjawab oleh keduanya, atau ditunjukkan jalan kepada jawaban oleh keduanya. Inilah esensi Al-Quran sebagai hudan lil muttaqin (Petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa) atau petunjuk bagi orang yang bertakwa. Semua hal yang samar menjadi terang di sisi orang yang bertakwa dan menggunakan wahyu Allah ﷻ sebagai pegangannya. Tentu Al-Quran dan As-Sunah pun telah memiliki keterangan dalam permasalahan bukti keberadaan Tuhan sebagai fundamen keimanan. Namun, ia membutuhkan kepada kaidah dalam penggunaannya, sehingga artikel ini hadir untuk membantu kita semua dalam memanfaatkan Al-Quran dan As-Sunah sebagai petunjuk jalan.

Kelima: Tidak menyimpangkan teksnya maupun maknanya

Allah ﷻ menurunkan wahyu-Nya, khususnya Al-Qur’an, dengan sangat spesifik dan ketat. Terbukti kita mendapatkan narasi lengkap dari Al-Quran dengan sangat jelas, termasuk keberagamannya membaca atau bacaannya, semua diketahui. Apalagi jika kita bandingkan dengan kitab-kitab agama lain, maka dari segi keabsahan Al-Quran jauh lebih unggul. Oleh karena itu, tidak pantas kemurnian Al-Qur’an dinodai dengan distorsi, baik teks maupun maknanya.

Amalan ini sudah terjadi sejak zaman para ulama terdahulu. Ibnu Khuzaimah Tuhan memberkati menerangkan bahwa sebagian ahli bid’ah pada masanya mengubah firman Allah ﷻ,

Tuhan adalah penerang langit dan bumi

“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi.” (QS. An-Nûr [24]: 35)

Mereka mengubahnya menjadi,

Tuhan menerangi langit dan bumi

“Allah menerangi langit dan bumi.”

Tuhan musta’an! Mungkin kita sebagai orang non-Arab mengira bahwa secara huruf tidak ada yang bertambah. Namun, keberadaan tasydid itu sama dengan menambah satu huruf. Tidak hanya sekadar penambahan satu huruf, tetapi juga perubahan makna yang diakibatkannya. Ketahuilah, ini adalah perbuatan Yahudi!

Dan sesungguhnya di antara mereka ada kelompok yang memutarbalikkan Kitab dengan lidahnya agar kamu mengira bahwa kitab itu berasal dari Kitab, padahal itu bukan dari Kitab, dan mereka berkata, “Itu dari Allah,” padahal sebenarnya bukan. Itu dari Tuhan, dan mereka berbohong tentang Tuhan padahal mereka mengetahuinya.

“Sesungguhnya di antara mereka (ahli kitab) ada sekelompok orang yang menggunakan lidahnya untuk mengubah Kitab (Taurat dan Injil) sehingga kamu mengira itu bagian dari Kitab, padahal itu bukan dari Kitab. Dan mereka berkata, ‘Itu dari Allah,’ padahal itu bukan dari Allah. Mereka berbohong terhadap Allah, padahal mereka mengetahui.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 78)

Di antara orang-orang Yahudi yang memutarbalikkan kata-kata dari tempatnya yang sebenarnya dan mengatakan, “Kami mendengar, namun kami durhaka,” dan “Dengarkan kami tanpa mendengar,” dan “Kami taat,” memutarbalikkan dengan lidah mereka dan memfitnah agama. ۚ Dan sekiranya mereka berkata, “Kami mendengar dan kami taat,” dan “Dengarlah, maka kami akan melihat,” itu lebih baik bagi mereka dan lebih jujur. Namun Allah melaknat mereka karena kekafirannya, sehingga mereka tidak beriman. Kecuali untuk sementara waktu

“Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya. Mereka berkata, “Kami mendengar”, tetapi kami tidak mau menurutinya. Dan (mereka mengatakan pula), “Dengarlah”; sedang kamu sebenarnya tidak mendengar apa-apa. Dan (mereka mengatakan), “Menghadapi”, dengan memutar lidah dan mengkritik agama. Sekiranya mereka berkata, “Kami mendengar dan menaati, mendengarkan, dan memperhatikan kami”, niscaya itu lebih baik bagi mereka dan lebih benar. Namun Allah mengutuk mereka, karena kekafiran mereka. Mereka tidak mempunyai iman kecuali iman yang sangat tipis.” (QS.An-Nisa’ [4]: 46)

Al-Qadhi Iyadh menjelaskan akibat menambah atau mengurangi satu huruf Al-Qur’an, beliau berkata, “Barangsiapa dengan sengaja mengurangi satu huruf atau mengganti satu huruf dengan huruf yang lain, atau dengan sengaja menambahkan huruf lain yang tidak termasuk dalam Al-Qur’an. mushaf yang disepakati dan ada kesepakatan bahwa itu bukan bagian dari Al-Qur’an, maka dia telah kafir.” (Asy-Syifa, 2: 304-305)

Tentu yang lebih banyak lagi adalah mereka yang menyelewengkan makna dari Al-Quran. Sebagian besar dari mereka melakukan ini dibarengi dengan cocokologi untuk menerangkan fenomena yang ada. Padahal tidak ada tuntutan buat seseorang untuk menjelaskan segala sesuatu dengan Al-Quran maupun sunah secara spesifik. Dalam perkara yang bersifat duniawi, telah jelas nash-dia,

Anda paling tahu tentang urusan duniawi Anda.

“Kalian lebih mengetahui tentang urusan dunia kalian.” (HR. Ibnu Majah no. 2741, dinilai sahih oleh Al-Albani)

Fenomena alam yang terjadi tidak semuanya termaktub dalam Al-Quran dan sunah. Ada saja fenomena alam itu yang terjadi sebagai bentuk sunnatullah Sesungguhnya demikianlah Allah ﷻ menciptakan keteraturan sebagai ayat atau tanda-tanda bagi orang bijak.

Sesungguhnya pada penciptaan langit, langit, malam dan siang, tidak ada cahaya bagi Tuhan Yang Maha Esa.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Ali Imran : 190)

Namun, hal itu semua tidak termaktub secara detail di dalam kedua wahyu yang sampai kepada kita. Beberapa pendakwah Islam menyebutkan kaidah,

“Al-Qur’an bukanlah sebuah kitab sains (pengetahuan), tapi buku tanda-tanda (tanda-tanda).”

Pembahasan cocokologi akan lebih mendalam dibahas pada poin selanjutnya.

Keenam: Tidak melakukan cocokologi tanpa dasar ulumul quran dan ulumul hadits yang dikenal oleh para ulama otoritatif

Masalah cocokologi adalah bagian dari menyelewengkan makna. Termasuk pula ia ke dalam bab berbicara tentang agama Allah ﷻ tanpa ilmu.

Allah ﷻ berfirman,

Dan janganlah kamu mengabaikan apa yang tidak kamu ketahui, karena pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu adalah urusanmu, yang karenanya kamu akan ditanyai.

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (Q.S. Al-Isra’: 36)

– Hati-hati berbicara tentang saya kecuali apa yang Anda ketahui. Barangsiapa yang sengaja berdusta tentang Aku, maka hendaklah ia duduk di Neraka, dan barangsiapa berbicara tentang Al-Qur’an menurut pendapatnya, maka hendaklah ia duduk di Neraka.

“Berhati-hatilah dalam membicarakan tentangku kecuali apa yang kalian ketahui. Barangsiapa yang sengaja berdusta tentangku, maka tempatnya di neraka. Dan barangsiapa yang berbicara tentang Al-Qur’an menurut pendapatnya sendiri, maka tempatnya di neraka.” (HR. Tirmidzi no. 2951, dinilai hasan)

Ketujuh: Harus ada seorang ulama yang terlebih dahulu menyampaikan apa yang anda sampaikan

Ibnu Wahb Tuhan memberkati berkata, “Siapapun penghapal hadis yang tidak memiliki imam dalam masalah fikih, maka ia tersesat.”

Kata ini dibawakan oleh Ibnu Wahb saja Muhaddit, murid Imam Malik dan Imam Laits rahimahumullah. Ia seorang alim yang menguasai hadis, tetapi potensi tersesat itu tetap saja ada jika tidak ada imam atau guru yang paham akan agama keseluruhan dalam membimbingnya. Maka, apalagi kita sebagai orang yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang agama?

Dalam tafsir Al-Qurthubi dijelaskan berkaitan dengan berbicara perkara tanpa ada imam sebelumnya, salah satu dampaknya adalah,

Barangsiapa mengatakan masalah Al-Qur’an menurut apa yang tidak diketahui dari doktrin para sahabat dan pengikut awal, maka ia terkena murka Allah.

“Barangsiapa mempunyai pendapat tentang permasalahan Al-Qur’an dengan (pendapat) yang tidak diketahui oleh para ulama generasi awal para sahabat dan atau masuk, maka hal itu mendatangkan murka Allah.” (Tafsir Al-Qurthubi, 1:46)

Jangan menyangka diri otoritatif untuk membicarakan perkara agama sebelum benar-benar mempelajarinya dan mendapatkan pengakuan oleh orang yang selevel atau lebih tinggi ilmunya dari kita. Perhatikanlah ungkapan berikut agar kita semua sadar tentangg perkara ini. Imam Asy-Syafi’i Tuhan memberkati dikatakan,

Barangsiapa mengorbankan dirinya lebih dari nilainya, maka Tuhan Yang Maha Esa akan mengembalikannya pada nilainya.

“Barangsiapa yang mengklaim dirinya telah mencapai derajat yang belum ia capai, maka Allah akan membuka kedoknya dan mengembalikannya ke derajat dia yang sesungguhnya.” (Al-Majmu’ Sharh Al-Muhadzdzab, 1:13)

Esensi mempelajari cara menggunakan dua wahyu sebagai argumen keberadaan Tuhan

Pembaca budiman! Keadaan di zaman ini menuntut kita untuk lebih mengilmui agama kita. Khususnya dalam perkara mendasar yang menjadi pondasi beragama. Salah satu pembahasaan krusial tersebut adalah argumentasi keberadaan Tuhan. Sejatinya manusia telah lahir dengan fitrah untuk meyakini adanya sosok maha hebat yang meliputi kemampuan mencipta, memiliki, dan mengatur seluruh alam semesta. Inilah yang menjadi pondasi iman tauhid tentang rububiyyah Allah. Maka, pembahasan ini bukanlah hal yang dapat diremehkan atau dianggap terlalu mendalam. Melainkan ini adalah bentuk pembekalan bagi diri kita untuk menghadapi terjangan mencurigakan berpikir di zaman sekarang ini.

Pedoman yang kami susun bertujuan sebagai bahan pembelajaran bagi kami pribadi maupun Anda semuanya dalam menyusun argumentasi tentang adanya Tuhan. Sejatinya ini adalah kaidah yang umum dalam berdalil menggunakan Al-Quran dan As-Sunnah. Namun, kami pilih beberapa yang sekiranya sangat relevan dan juga spesifik dengan keadaan dialog eksistensi Tuhan.

[Selesai]

KEMBALI KE BAGIAN 2

***

Penulis: Glenshah Fauzi

Artikel Muslim.or.id


PakarPBN

A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.

In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.

The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.

Jasa Backlink

Download Anime Batch