Keadaan kita di bulan Syawal merupakan salah satu indikator hasil kerja kita di bulan Ramadhan. Ibnu Rajab Tuhan memberkati mengatakan,
Melanjutkan puasa setelah Ramadhan merupakan tanda diterimanya puasa Ramadhan.
“Melanjutkan puasa setelah Ramadhan (dengan puasa Syawal-pen) adalah tanda diterimanya puasa Ramadhan kita.” (Lathaiful Maarif, hal. 394)
Hal ini berdasarkan kaidah besar yang disebutkan oleh para ulama,
Pahala suatu perbuatan baik adalah perbuatan baik berikutnya
“Pahala kebaikan adalah kebaikan setelahnya.”
Ibnu Katsir mengutip kaidah ini dari keterangan para salaf atas sebuah firman Allah ﷻ,
Maka Kami akan memberikan kemudahan demi kemudahan
“Maka Kami akan mempersiapkan baginya jalan yang mudah.” (QS. Al-Lail : 7)
Konteks ayat ini adalah bagi mereka yang beramal saleh, bersedekah dan semisalnya, maka Allah ﷻ akan mudahkan ia untuk mengerjakan kebaikan setelahnya. Dari sinilah sebagian salaf semoga Allah memberkati dia dan memberinya kedamaian mengatakan,
Jika Allah SWT menerima amalan seorang hamba, niscaya Dia akan memampukan hamba tersebut untuk mengerjakan amal shaleh setelahnya, sebagaimana sebagian dari mereka bersabda: Pahala suatu amal baik adalah amal baik setelahnya.
“Karena sesungguhnya apabila Allah ﷻ menerima amalan seorang hamba, maka Allah ﷻ akan memberikan taufik untuk beramal saleh setelahnya. Sebagaimana dikatakan sebagian ulama salaf, “Ganjaran dari sebuah kebaikan adalah kebaikan setelahnya.” (Lathaiful Maarif, hal. 394)
Hal ini juga sesuai dengan tafsir Ibnu Katsir atas QS. Al-Lail: 7 di atas,
Tuhan Yang Maha Esa memberi pahala kepada orang-orang yang berniat baik dengan menganugerahkan keberhasilan kepada mereka.
“Bahwasanya Allah ﷻ membalas orang yang berniat untuk mengerjakan kebaikan dengan memberinya kekuatan untuk mengerjakannya.”
Berniat kebaikan saja pasca Ramadan akan Allah ﷻ ganjar dengan taufik untuk mengerjakannya. Maka, kunci dari menjaga kesuksesan amalan Ramadan adalah senantiasa memasang niat dan berusaha kuat untuk melanjutkannya dengan amalan kebaikan lain. Andai pun Allah ﷻ tidak menakdirkan kebaikan itu terjadi, semoga Allah ﷻ sudah mengganjarnya dengan kebaikan, sebagaimana dalam sebuah hadis,
Maka barangsiapa berniat mengerjakan suatu amal namun tidak mengerjakannya, maka Allah mencatatnya sebagai amal baik yang utuh pada diri-Nya.
“Barangsiapa yang berniat melakukan kebaikan, lalu tidak mengerjakannya, maka Allah menulis itu di sisi-Nya sebagai satu kebaikan yang sempurna.” (HR. Bukhari no. 6491 dan Muslim no. 131)
Ganjaran sempurna itu didapatkan bagi orang yang baru berniat, sedangkan mereka yang mampu mewujudkannya, akan Allah ﷻ balas minimal sepuluh kali bahkan sampai tujuh ratus kali.
Dan tidak hanya dimudahkan untuk berbuat baik setelahnya, tetapi juga dimudahkan untuk mendapatkan hasil kebaikan setelahnya.
Bukankah Allah ﷻ berfirman,
Apakah pahala atas kebaikan hanyalah kebaikan?
“Tidak ada balasan atas kebaikan, kecuali kebaikan.” (QS. Ar-Rahman : 60)
Dan para ahli tafsir mengatakan, diantaranya dikutip dari Zaid bin Aslam, makna pahala amal shaleh di dunia adalah amal kebaikan yang besar di akhirat, yaitu surga Allah ﷻ.
Baca juga: Kondisi Manusia Setelah Ramadhan
Waspadai niat jahat di bulan Syawal
Ibnu Katsir Tuhan memberkati ketika menafsirkan ayat,
Maka Kami akan memudahkan kesulitan itu
“Maka kelak kami akan menyiapkan segera jalan yang penuh kesulitan.” (QS. Al-Lail: 10)
Dia membawa peringatan,
Dan barang siapa yang bermaksud jahat dengan mengecewakannya. Dan semua ini sesuai takdir
“Dan barangsiapa yang berniat berbuat jahat, maka Allah akan mempermalukannya; dan semua itu berdasarkan takdir yang telah ditentukan.”
Bahkan pengembaliannya sampai level terburuk, seakan-akan tiada sisa dari amalan membaca Al-Qurannya, bahkan tak mengenal sama sekali. Sebagaimana firman Allah ﷻ,
Dan Kami akan mengubah hati dan pandangan mereka karena mereka tidak beriman pada awalnya, dan Kami akan membiarkan mereka buta terhadap pelanggaran mereka.
“Dan (demikian pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seolah-olah mereka pada awalnya tidak beriman kepadanya (Al-Qur’an), dan Kami biarkan mereka berkubang dalam kesalahan besar mereka.” (QS. Al-An’am : 110)
Berbuat buruk setelah musim baik merupakan tanda tidak diterimanya amal kita
Amalan ikutan dari sebuah kebaikan tidak hanya berupa kebaikan selanjutnya. Bisa saja amalan kebaikan melahirkan amalan keburukan selanjutnya. Waspadalah! Keburukan yang kita lakukan pasca berbuat kebaikan adalah tanda amal baik itu tidak diterima.
Demikian pula jika seseorang melakukan suatu perbuatan baik kemudian ditindaklanjuti dengan perbuatan buruk, itu tandanya perbuatan baik tersebut akan dibalas dan tidak diterima.
“Sebagaimana orang yang beramal kebaikan, kemudian setelahnya ia lanjutkan dengan keburukan, sungguh itu menjadi tanda ditolaknya kebaikan tersebut.” (Lathaiful Maarif, hal. 394)
Kaum Salaf menjadikan Syawal sebagai momen syukur
Allah ﷻ menjadikan puasa Ramadhan sebagai jalan agar dosa-dosa kita yang lalu diampuni oleh-Nya. Dan ini merupakan sebuah nikmat yang besar dan patut kita syukuri. Ibnu Rajab Tuhan memberkati menjelaskan kebiasaan salaf berpuasa Syawal sebagai wujud rasa syukur,
Melanjutkan puasa setelah berbuka puasa merupakan rasa syukur atas nikmat tersebut.
“Maka mereka menjadikan melanjutkan puasa setelah Ramadhan sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat Allah ﷻ.
Tidak ada berkat yang lebih besar daripada pengampunan dosa
Sungguh tidak ada nikmat yang lebih besar selain ampunan Allah ﷻ atas dosa-dosa kita.” (Lathaiful Maarif, hal. 394)
Bahkan Ibnu Rajab Tuhan memberkati menjelaskan bahwa beramal sebagai wujud rasa syukur atas amal yang telah dilakukan sebelumnya juga patut disyukuri. Artinya, setiap tindakan bersyukur memerlukan rasa syukur lebih lanjut. Pola ini tidak ada habisnya dalam kehidupan orang percaya. Maka wajar jika Allah ﷻ berfirman bahwa kita tidak akan pernah bisa mensyukuri segala nikmat Allah ﷻ yang telah Dia berikan kepada kita semua.
Hal ini tidak hanya merupakan keteladanan dari orang saleh setelah Nabi ﷺ. Namun, Nabi ﷺ sendiri pun melakukan hal serupa.
Nabi Muhammad SAW akan berdiri sampai kakinya bengkak, lalu dia ditanya: Apakah kamu melakukan hal ini padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang lalu dan yang akan datang? Beliau bersabda: Masakan aku tidak menjadi hamba yang bersyukur?
“Suatu ketika, Nabi ﷺ berdiri untuk shalat malam sampai kakinya bengkak. Kemudian ditanya kepada Baginda Nabi ﷺ, “Mengapa kamu melakukan hal seperti itu, padahal Allah ﷻ telah mengampuni dosa-dosamu yang lalu dan yang akan datang?” Lalu Nabi ﷺ bersabda, “Bukankah aku harus menjadi hamba yang bersyukur?” (HR. Bukhari no. 1130)
Maka, hendaknya menjadi renungan bagi kita di penghujung Syawal ini, bagaimana keadaan diri kita? Sudahkah kita mendapatkan indikator positif bahwa amal Ramadan diterima? Ataukah kita masih dalam bayang-bayang rapor merah dengan keadaan Syawal yang dipenuhi kelalaian dan kemaksiatan?
Baca juga: Menjaga Keistikamahan Pasca Ramadan
***
Penulis: Glenshah Fauzi
Artikel Muslim.or.id
Referensi
Lathaiful Maarif, Karya Ibnu Rajab Al-Hanbali bersamamemeriksa Syekh Yasin Muhammad As-Sawas cet. Dar Ibnu Katsir.
Tafsir Ibnu Katsir yang dinukil dari tafsir.app
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.