Setiap manusia pernah salah. Tidak ada satu pun yang benar-benar bersih dari dosa. Namun, perbedaan antara orang yang baik dan yang lalai terletak pada seberapa cepat ia kembali kepada Allah setelah jatuh dalam kesalahan.
Dosa sekecil apa pun adalah noda yang menutupi cahaya hati. Ia membuat hati gelap, kaku, dan jauh dari rasa nikmat dalam ibadah. Tetapi, kabar gembiranya: Allah tidak menutup pintu ampunan, tidak peduli sebesar apa dosa itu, selama kita mau kembali kepada-Nya.
Allah Ta’ala dikatakan,
Katakanlah, wahai hamba-hamba-Ku yang berbuat maksiat terhadap dirinya sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni segala dosa. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang
“Wahai hamba-hamba-Ku yang durhaka terhadap dirinya sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni segala dosa. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar : 53)
Ayat ini ibarat air dingin bagi jiwa yang haus akan ampunan. Dia memeluk orang yang paling berdosa sekalipun, dan berkata, “Selama kamu masih hidup, pulanglah, pintunya belum tertutup.”
Namun, ayat ini juga membawa peringatan lembut, yaitu jangan menunda tobat. Karena waktu tidak akan menunggu kita sadar.
Allah menanti tobat kita setiap saat
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dikatakan,
Allah SWT mengulurkan tangan-Nya di malam hari agar orang yang berbuat dosa di siang hari dapat bertaubat, dan Dia mengulurkan tangan-Nya di siang hari agar orang yang berbuat dosa di malam hari dapat bertaubat, hingga matahari terbit dari baratnya.
“Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya di waktu malam agar orang yang berbuat dosa di siang hari bertobat; dan membentangkan tangan-Nya di waktu siang agar orang yang berbuat dosa di malam hari bertobat, hingga matahari terbit dari arah barat.” (HR.Muslim)
Bayangkan Tuhan semesta alam, yang tidak butuh apa pun dari kita, justru menanti kita untuk kembali, siang dan malam. Bukankah itu bentuk kasih sayang yang tak terbayangkan?
Allah tidak menutup pintu itu. Tapi manusialah yang sering menutupnya sendiri dengan rasa malas, dengan menunda, dengan berkata “nanti saja”.
Kisah seorang pembunuh seratus jiwa
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan kisah yang luar biasa dan kisah ini diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim di Shahihain. Ada seseorang yang telah membunuh 99 jiwa. Ia ingin bertobat, lalu bertanya kepada seorang rahib, “Apakah ada jalan tobat bagiku?”
Biksu itu menjawab, “Tidak ada.”
Pria itu membunuhnya, dia membunuh seratus orang.
Namun, hatinya belum mati. Dia bertanya lagi tentang orang-orang yang paling bertakwa, dan ditunjukkan kepada seorang ulama. Ulama itu berkata, “Ya, masih ada taubat bagimu! Siapa yang dapat menghalangimu dari rahmat Allah? Tetapi tinggalkanlah negerimu yang penuh dosa dan pergilah ke negeri lain yang masyarakatnya beribadah kepada Allah.”
Ia pun berangkat. Tapi di tengah jalan, ajal menjemputnya. Malaikat rahmat dan malaikat azab berselisih. Lalu, Allah memerintahkan bumi untuk mendekatkan jasadnya ke arah negeri tujuan. Dan karena ia lebih dekat sejengkal ke arah negeri tobat itu, maka Allah memasukkannya ke dalam rahmat-Nya.
Masya Allah… bahkan niat untuk tobat pun memiliki nilai yang besar di sisi Allah.
Bahaya menunda tobat
Menunda tobat adalah bentuk penipuan terbesar terhadap diri sendiri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dikatakan,
Allah menerima taubat hamba selama ia tidak menipu
“Sesungguhnya Allah menerima tobat seorang hamba selama nyawa belum sampai di tenggorokan.” (HR. At-Tirmidzi)
Kematian tidak memberi peringatan. Ia datang di waktu yang paling tidak kita duga di tengah tawa, di sela rencana, atau bahkan di puncak cita-cita duniawi.
Syarat dan tanda tobat yang diterima
Para ulama menjelaskan bahwa tobat yang diterima memiliki beberapa syarat:
1) An-Nadam (menyesali), yaitu menyesali dosa yang telah dilakukan.
2) Di-Tark (Turki), yaitu meninggalkan dosa tersebut dengan segera.
3) Al-Azm (torsi), yaitu bertekad kuat untuk tidak mengulanginya lagi.
4) Jika dosa itu berkaitan dengan hak asasi manusia, maka wajib mengembalikan hak tersebut atau meminta maaf.
Prioritas pertobatan di mata Tuhan
Allah mencintai orang yang bertobat
Allah Kisah dikatakan,
Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang bersuci.
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertobat dan orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al-Baqarah : 222)
Dosa sebesar apa pun akan dihapuskan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dikatakan,
Orang yang bertaubat dari dosa ibarat orang yang tidak berdosa.
“Orang yang bertobat dari dosa bagaikan orang yang tidak memiliki dosa sama sekali.” (HR. Ibnu Majah)
Tobat mengangkat derajat dan mengubah dosa menjadi amal baik
Allah Kisah dikatakan,
Dari mereka itulah Allah akan mengubah kelakuan buruk mereka menjadi kebaikan. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
“Demikianlah mereka, Allah akan mengganti perbuatan buruk mereka dengan kebaikan.” (qs. al-furqan: 70)
Tobat membuka pintu rahmat dan keberuntungan
Allah Kisah dikatakan,
Dan bertaubatlah kepada Allah bersama-sama, hai orang-orang yang beriman, agar kamu berhasil.
“Bertobatlah kalian semua kepada Allah, wahai orang-orang beriman, agar kalian beruntung.” (QS. An-Nur : 31)
Penyesalan yang tidak ada artinya
Allah menggambarkan penyesalan orang yang terlambat bertobat dalam firman-Nya,
Ya Tuhanku, andai saja Engkau menunda aku sampai waktu yang dekat, agar aku bisa bersedekah dan termasuk orang-orang yang bertakwa.
“Ya Tuhanku, jika Engkau memberiku sedikit waktu lagi, niscaya aku akan bersedekah dan termasuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Munafiqun: 10)
Namun, penyesalan itu datang ketika pintu tobat telah tertutup. Sungguh, tidak ada penyesalan yang lebih pedih daripada menyadari kesempatan sudah berlalu selamanya.
Saatnya kembali kepada Allah
Kita tidak tahu kapan ajal menjemput. Mungkin besok. Mungkin malam ini. Oleh karena itu, jangan menunggu “sempat”, “nanti”, atau “sudah tua”. Tobat itu sekarang.
Tobat bukan tanda kelemahan, tapi tanda kesadaran dan keberanian spiritual. Ia adalah bukti cinta kepada Allah, bukti bahwa hati masih hidup. Maka, pulanglah sebelum terlambat.
Air mata penyesalan yang jatuh hari ini, bisa jadi penyelamat kita di hari akhir.
Ya Allah, berilah kami taubat yang ikhlas, hapuskan dosa-dosa kami, sucikan hati kami, dan akhiri hidup kami dengan akhir yang baik.
“Ya Allah, terimalah taubat kami dengan taubat nasuha. Hapuslah dosa-dosa kami, sucikan hati kami, dan tutuplah hidup kami dengan husnul khatimah.”
Wallahu ta’ala a’lam.
Baca juga: Apakah Tobatnya Pembunuh Diterima oleh Allah?
***
Penulis: Gazzeta Raka Putra Setyawan
Artikel Muslim.or.id
News
Berita Teknologi
Berita Olahraga
Sports news
sports
Motivation
football prediction
technology
Berita Technologi
Berita Terkini
Tempat Wisata
News Flash
Football
Gaming
Game News
Gamers
Jasa Artikel
Jasa Backlink
Agen234
Agen234
Agen234
Resep
A gaming center is a dedicated space where people come together to play video games, whether on PCs, consoles, or arcade machines. These centers can offer a range of services, from casual gaming sessions to competitive tournaments.